Tawasul Kepada Wali, Doa Pasti Diterima

0
68

Oleh: Miqdad Sya’roni, Jamaah Soko Jeporo

Sering kali kita was-was dan tidak yakin akan doa terkabul, padahal sudah jelas firman-nya Gusti Allah, “Berdoalah, pasti aku kabulkan”. Terlebih doa yang di sertai dengan tawassul.

Secara etimologis artinya perantara, sedang secara terminologis (menurut istilah) adalah :
َالْوَسِيْلَةُ هِيَ طَلَبُ حُصُوْلِ مَنْفَعَةٍ أَوِ انْدِفَاعِ مَضَرَّةٍ مِنَ اللهِ بِذِكْرِ اسْمِ نَبِِيٍّ أَوْ وَلِيٍّ إِكْرَامًا لِلتَّوَصُّلِ
“Wasilah adalah memohon datangnya manfa’aat atau terhindar dari bahaya kepada Allah dengan perantara menyebut nama nabi atau wali sebagai penghormatan bagi keduanya.

Tawassul menjadi pilihan dalam berbagai permohonan. Pada hakikatnya Allah jua yang mengabulkan doa doa kita, namun terkadang juga kita harus melalui perantara untuk memudahkan proses.

Terlebih kita berdoa dengan wasilah para Waliyullah yang sesungguhnya adalah para kekasih Allah yang memiliki derajat yang mulia di sisi-Nya. Dengan munajat berzikir, dengan maulid bershalawat kepada Kanjeng Nabi dan wasilah kepada Waliyullah ini menjadi perantara doa kita terkabul dan pasti diterima oleh Allah.

Sebuah kisah yang dialami penulis waktu itu seusai berziarah ke Makam salah satu Waliyullah yang ada di Jepara, saat itu penulis masih “mamang” (tidak yakin/was-was. Jawa.red) diterima atau tidak ya permintaan sama Mbah Wali. Sehingga sampailah terbawa dalam sebuah mimpi.

Berikut ceritanya, pagi itu tiba-tiba terserang ngantuk yang sangat berat, dan saat tertidur saya tak sengaja diajak ke Makam Waliyullah yang sering aku sebut dalam tawasulku, di situ mula-mula tampak sepi sekali hanya aku dan temanku. Lalu setelah khusu’ dalam zikir teman saya nampak sudah tidak ada di samping dan menghilang, sehingga tinggal saya sendiri yang berada di depan pintu makam.

Aku mencoba bersila di teras makam dengan sedikit lebih khusu’ dan khudzur (menghadirkan hati) kepada Allah, di situ ada bangunan yang tampak sederhana, mula-mula saya menghadap ke utara, karena bangunan dan pintu menghadap ke selatan. Kebetulan saat itu pintu tertutup sehingga saya duduk menghadap ke utara tepat di depan pintu makam.

Tapi tiba-tiba saya dihadapkan ke arah selatan secara otomatis, lalu tiba-tiba saya sudah melayang dan diajak untuk terbang mengelilingi area makam yang ternyata adalah sebuah istana yang sangat megah dan belum pernah saya lihat di dunia. Saya pun bisa melihat dari atas langit dan menikmati terbang bebas dengan melihat sekeliling keindahan yang tak pernah saya jumpai di dunia.

Sekiranya cukup melihat dunia dari atas langit saya kembali bersila kembali ke tempat semula, dan memulai berzikir dengan shalawat, maulid dan tahlil.

Sampailah pada zikir ” لا اله الا الله” yang saya baca beberapa kali, tiba-tiba suasana di makam itu menjadi sangat ramai banyak orang-orang yang sedang berzikir bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah di area makam tersebut, jumlahnya tidak hanya puluhan, bisa jadi ratusan, mungkin suasana seperti ketika ziarah ke makam Walisongo yang kebetulan banyak rombongan ziarah.

Melihat banyaknya yang berzikir saya semakin terpacu untuk terus membaca kalimat tahlil dengan merasa merendahkan diri serendah-rendahnya, istilahnya memposisikan diri sebagai hamba yang terus menghamba kepada Sang Penguasa Jagat, kepada Gusti Allah dan berharap melalui tawassul bisa bertemu kekasihNya, yaitu Waliyullah yang senantiasa tersebut dalam washilah.

Tak ada aral yang melintang tak tau dari mana datangnya, tiba-tiba saya menoleh dan di belakang ada kedua sosok manusia yang sangat tampan dan berbau wangi yang berpakaian hitam ada kombinasi putih seperti layaknya seorang Pangeran dalam kerajaan, atau seorang Raja dengan pakaian kebesarannya yang berada di istana dengan memakai mahkota di atas kepala, ia tepat berada di belakang saya dan mengikuti irama zikir yang sedang saya lafalkan.

Setelah merasa ternyata ada yang mengikuti bacaan wiridan, lalu saya secara tidak langsung menoleh ke belakang, ternyata sosok manusia tadi berada di belakang dan yang keduanya memeluk badan saya penuh kelembutan bagai anak dengan ayahnya, secara reflek pun saya mencium tangan beliau, bersalaman sebagaimana seorang santri di hadapan gurunya sebagai bentuk ta’dzim penghormatan kepadanya. Masih teringat tangannya yang sangat lembut dan harum parfum yang sangat wangi tak pernah mencium aroma tersebut, mungkin aroma dari taman surga di alam sana.

Beliau tersenyum ramah dan berkata “Hajatmu sudah saya sampaikan kepada Allah, percayalah” dengan tergesa-gesa aku mencium lagi tangannya yang harum dan mengucapkan terima kasih.

Lalu tiba-tiba ia menghilang dan tak tau perginya kemana suasana menjadi sepi lagi senyap seperti awal mula.

Saya terbangun dan sadar melihat sekeliling dan sekitarnya masih seperti biasa. Setelah aku lihat jam, ternyata saya tertidur cuma sebentar hanya kisaran 10 menit, namun apa yang saya alami itu berada di alam mana, yang secara logika itu lebih dari 10 menit.

Semakin yakin, para Waliyullah masih hidup berada di sekitar kita dan selalu memberi kehidupan dalam hidup kita, karena ia yang diutus Allah sebagai wakilnya untuk menampung aspirasi kita, yang bertugas di daerah-daerah yang sudah ditentukan.

“Percayalah”. pesan Mbah Wali yang sudah selayaknya kita percaya dan yakin bahwa janji Allah melalui para Walinya pasti tersampaikan.

Semoga berkah, bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya. Selalu bersyukur kita berada dalam wilayah yang masih banyak para wali yang menjaga bumi ini, Bismillah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.