PMII Peringati Hari Santri dengan Diskusi

0
17
PMII Sultan Hadlirin diskusi soal kontribusi santri di Kampus Unisnu.

nujepara.or.id – PMII Komisariat Sultan Hadlirin Unisnu Jepara menggelar Diskusi terbuka yang dihadiri oleh puluhan kader pergerakan dari setiap level kaderisasi, Senin (21/10/2109).

Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional tahun 2019 ini dipusatkan Depan Halaman Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.

Acara dibuka Ketua Komisariat Sultan Hadlirin, Dimas Rizal Maulana. Ketua panitia, Muhammad Ghola Muhofi mengatakan kegiatan digelar sebagai salah satu apresiasi kalangan mahasiswa terhadap kontribusi santri yang memberi bukti konkrit terhadap perjuangan bangsa Indonesia.

Dalam diskusi yang mengambil tema “Kontribusi Santri Sebagai Kaum Pembaharu Bangsa” difasilitatori Abdul Wahab Saleem.

Dalam paparan Kaprodi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Unisnu itu menyebutkan bahwa mentalitas santri dibagi menjadi 3 bagian. “Yang pertama yaitu keikhlasan, dawuh dari Mbah Sahal Mahfudh bahwa berjuang di Unisnu itu jangan hitungan-hitungan, maka Allah akan membalas dengan tanpa hitungan-hitungan,” jelasnya.

Kedua, lanjut Ketua LDNU Kabupaten Jepara adalah kesederhanaan sebagai karakter yang terus dibawa oleh seorang santri dalam bersikap, berpakaian dan bergaul.

“Yang ketiga yaitu kemandirian. Santri sejak dini telah diajari tentang kemandirian, maka setelah mondok santri bisa melakukan apapun yang bermanfaat bagi sesama,” paparnya.

Forum diskusi yang cair dan interaktif itu membuka ruang dialog bagi para peserta yang ikut bertanya di antaranya bagaimana sikap dan etika santri sabagai mahasiwa yang kerap dituntut untuk lebih kritis dan peka terhadap kebijakan yang tidak sesuai dengan harapan mahasiswa.

Abdul Wahab Saleem menambahkan sebagai mahasiswa yang peka, kritis, dan manjaga nilai-nilai santri maka harus tetap menjaga kesantunan tanpa mengurangi subtansi yang disampaikan.

Ahmad Saefuddin, Dosen FTIK mengungkapkan bentuk kritikan mahasiswa harus dengan menghadirkan bukti-bukti dan data literasi yang kuat sehingga tetap bisa diterima oleh akal nalar yang sehat.

“Jadi gak ada alasan berpikir kritis (critical thinking) jika dibentur-benturkan dengan etika santri yang menjunjung tinggi akhlak dan budi pekerti,” pungkasnya. (Fuad Fahmi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.