Ngi’rob Jowo, Metode Unik Belajar Nahwu Pesantren Mathla’un Nasyi’in

0
12
Salah satu kegiatan ngaji di Pesantren Mathla’un Nasyi’in Pecangaan. (Foto: Dok. Istimewa)

nujepara.or.id – Salah satu komponen penting dalam belajar gramatikal bahasa Arab adalah Nahwu-Shorof.  Nahwu merupakan seperangkat kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan kata (kalimah) dalam bentuk tunggal (mufrod) atau tersusun (murokkab).Kata dalam keadaan mufrod akan mengalami beberapa keadaan seperti mudzakkar (laki-laki), muannats (perempuan), tatsniyyah (ganda), jama’ (prural), tashgir (kecil) dan lain sebagainya. Sedangkan ketika kata tersebut dalam bentuk murokkab akan terikat kaidah sesuai dengan keadana bagian akhirnya, misal rofa’-nya kata benda (kalimah isim) ketika berkedudukan sebagai subjek (fa’il) atau nashob saat menjadi objek (maf’ul) dan seterusnya.

Shorofadalah kaidah-kaidah yang menentukan bentuk dan susunan satu kata atau kalimah, baik perubahan bentuknya sebab diganti, penambahan huruf, perpindahan harokat, idgham dan sebagainya. Kata akan mengalami derivasi atau perubahan bentuk yang berimplikasi pada perubahan makananya,  Tashrif adalah kaidah yang dikenal dalam perubanhan bentuk kata. Suatu kata juga dapat menerima afiks atau imbuhan berupa penambahan (mazid) yang tentunya berakibat perubahan makna pula. Bahkan, di dalam shorof ada kaidah yang secara detail menentukan mana kata kerja (kalimah fi’il) dapat dirubah atau muttashorif dan mana yang stagnan.

Demikian banyak dan rumitnya kaidah-kaidah yang menjadi dasar dalam belajar tata bahasa Arab, sehingga diperlukan keseriusan serta ketekunan oleh para santri di pesantren untuk menguasai ilmu nahwu dan shorof. Sama halnya yang dilakukan oleh para santri di Pondok Pesantren Mathla’un Nasyi’in Pecangaan Jepara, mereka belajar dalam sistem kelasikal atau berjenjang dan disesuaikan kitab kajian gramatikal pada masing-masing kelasnya. dimulai dari Kelas Satu menggunakan kitab Ats Tsimarul Janiyah, Kelas Dua dengan kitab Matan Al Ajurumiyah, Kelas Tiga memakai kitab Nadzhom Al ‘Umrity  sampai pada Kelas Empat dengan mengkaji kitab Nadzhom Alfiyah Ibnu Malik.

Sistem kelasikal akan memudahkan santri dalam mempelajari tata bahasa Arab sesuai kemampuan dan pemahaman mereka, sehingga kerumitan kaidah yang ada secara perlahan dan bertahap dapat dicerna serta dipraktikkan ketika membaca teks-teks berbahasa Arab. Guna menunjang pembelajaran kelasikal yang fokus pada sisi teoritis dengan metode bandongan (stadium general), pesantren Mathla’un Nasyi’in pimpinan K. Zainal Muttaqin Alhafidzh menerapkan juga metode santri aktif secara praksis, yaitu metode sorogan (private) dan musyawarah kitab (diskusi kitab) di kelas masing-masing dan berkala dilaksanakan musyawarah kubro untuk semua jenjang kelas. Tahapan dan metode tersebut umum ditemukan di pesantren-pesantren seluruh nusantara.

Kekhasan dan keunikan akan dirasakan manakala santri Mathla’un Nasyi’in mempraktikkan kaidah nahwu-shorof dalam menentukan kedudukan kata, istilah mereka  ngi’rob bahasa Jawa yang lazimnya dilakukan dengan menggunakan bahasa Arab. Seperti nampak dilakukan oleh M. Fatih seorang santri kelas jurumiyah ketika sorogan kitab Fathul Qorib Mujib kepada salah satu ustadz, dia membaca kitab berbahasa arab dan tanpa harokat (kitab gundul) serta memberi makna perkata. Sebelum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Fatih dengan bahasa Jawa fasih mengi’rob teks tersebut.

(فصل) والذي ينقض الوضوء ستة أشياء …

“Faslun, diwoco rofa’ dadi khobare mubtada’ kang den buwang  (اى هذا فصل)  Hadza, Ha’e ha’ tanbih dza isim isyaroh mabni sukun dimahal rofa’ dadi mubtada’. Faslun diwoco rofa’ dadi khobare mubtada’ alamate rofa’ dhommah kang dzhohir ing ndalem akhir kerono isim mufrod. Walladzi, wawune wawu ist’naf alladzi isim maushul mabni sukun dimahal rofa’ dadi mubtada’. Yanqudhu, fi’il mudhori’ diwoco rofa’, fa’ile rupo dhomir mustatir jawazan taqdire huwa kang bali maring lafadz alladzi, jumlahe fi’il sak fa’ile orak ono mahale sebab dadi shilahe alladzi. Alwudhu’a, diwoco nashob dadi maf’ule yanqudhu alamate nashob fathah kang dzhohir ing ndalem akhir kerono isim mufrod. Sittatu Asy-ya’a, Sittatu diwoco rofak dadi khobare mubtada’ alamate rofa’ dhummah kang dzhohir ing ndalem akhir kerono isim mufrod, sittatu mudhof. Asy-ya’a, diwoco jair dadi mudhof ilaihe sittatu alamate jair fathah kang dzhohir ing ndalem akhir kerono isimg hoiru munshorif…”.

Menurut Husnaini Zain, salah satu ustadz yang merupakan alumni Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, bahwa  metode ngi’rob ini sebenarnya adalah terjemahan kitab Al Kafrawi namun santri kelas awal kesulitan memahaminya karena berbahasa Arab. Sehingga dengan metode ngi’rob jowo santri yang belum mampu berbahasa Arab akan mudah mempelajarinya, tentu istilah dalam ilmu nahwu-shorof masih menggunakan bahasa arab sebab terkait kaidah patennya. Tradisi ngi’rob dengan berbahasa Jawa tersebut dapat ditemukan di lembaga-lembaga pendidikan keagamaan yang berada di wilayah selatan kabupaten Jepara, yaitu diantaranya desa Sowan Lor, Sowan Kidul, Dongos, Bugel dan lainya.

Kreatifitas para kiai dalam memberikan pelajaran keilmuan kepada santrinya adalah salah satu wujud kearifan lokal atau local wisdom, yang tidak hanya mempermudah para pencari ilmu untuk belajar namun sekaligus sebagai kekayaan budaya dan tradisi salafunash sholih yang patut dijaga dan diapresiasi serta dikembangkan oleh kita para penerus perjuangan mereka. (na)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.