Home / Esai / Mushalla Bangkit; Menyusuri Jalan Liku Kiai Kampung

Mushalla Bangkit; Menyusuri Jalan Liku Kiai Kampung

Oleh: Misbahul Ulum*)

Selepas jama’ah shalat Isya’ terlihat mulai berdatangan orang-orang dengan wajah tegang dan tergesa. Satu sama lain saling berjabat tangan kemudian bertanya penuh heran tentang kabar yang semenjak sore tadi ramai diperbincangkan. Nampak masing-masing tidak memberi jawaban untuk dapat menghilangkan rasa penasaran mereka, sehingga tiap kali bertemu orang berbeda adegan sama terus diulang seakan tanpa tepi kesempurnaan informasi atau akhir suatu narasi.

Sejumlah orang di sudut lokasi yang lain sibuk mondar-mandir ke sana dan ke mari sama sekali tidak mempedulikan dialog lirih orang-orang di sisi jalan. Mereka bekerja dalam diam tiada ucap sepatah kata atau pun suara tawa, hinga kemudian seperangkat alat tenda telah berdiri tegak lalu diikuti beberapa orang mengangkat kursi dan meja serta menatanya dengan rapi berjajar lurus ke satu arah, tepat menghadap rumah sederhana dan sayup terdengar suara tangis yang tertahan.

Ahad malam Senin 12 Nopember 2007 Kiai Ahmad Selamet bin Syurdi bin Marzuki telah berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan sederet jalan panjang laku perjuangan dan pengabdian yang tulus tanpa pamrih. Sepanjang hidup mendedikasikan diri demi terwujudnya lembaga kultural di tengah kampung, berupa institusi non-formal yang berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan mulai dari pendidikan hingga sosial kemasyarakatan, yakni Mushalla Tamrinul Huda.

Pertengahan tahun 1980, sosok yang lebih dikenal dengan panggilan Kiai Selamet mulai merintis pembangunan mushalla di sepetak tanah milik orang tuanya, sebuah rumah kayu seharga Rp. 35.000 (tiga puluh lima ribu rupiah) berhasil dibeli dari uang hasil patungan. Tonggak awal berdirinya ‘Pondok’ di sisi timur desa dekat area persawahan Sowan Lor Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara, satu wilayah perbatasan terpencil yang waktu itu belum ramai penduduknya.

Mushalla Tamrinul Huda oleh sang pendiri memang dipersiapkan untuk tempat pengkaderan dan penggemblengan generasi muda, sehingga di sana tidak hanya sebatas berfungsi menjadi tempat pelaksanaan ritus ibadah semata (Shalat; Dzikir; I’tikaf). Namun juga menjadikan mushalla sebagai tempat pendidikan agama dasar (membaca Al Qur’an; praktik shalat; kajian literasi kelasik), serta memperluas manfaat mushalla seperti media interaksi sosial masyarakat dalam bentuk Jam’iyah.

Kiai Selamet berprinsip bahwa mushalla mempunyai peran dan fungsi yang sangat vital (penting) di tengah masyarakat, adalah penyedia sekaligus memenuhi kebutuhan dasar atau pokok anggota masyarakat dalam pembentukan dan pengembangan karakter generasi muda yang kuat dan relijius khususnya, serta terciptanya lingkungan masyarakat yang tentram dan juga agamis pada umumnya. Kebutuhan itu yakni: Basic Spiritual Needs, Basic Intelectual Needs, Basic Social Needs.

Pertama, Basic Spiritual Needs merupakan kebutuhan dasar masyarakat akan agama dan segala ritualnya. Mushalla memiliki banyak peran di bidang tersebut di antaranya sebagai tempat menyelenggarakan ibadah shalat berjama’ah baik wajib maupun sunah, tempat melaksanakan ibadah personal seperti dzikir, i’tikaf, khalwat (menyepi), membaca Al Qur’an (Tadarrus) dan sarana meningkatkan keimanan serta menjadi media unuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kedua, Basic Intelectual Needs adalah kebutuhan masyarakat terhadap segala informasi dan data untuk pengembangan dan penguatan intelektual. Mushalla memiliki posisi strategis dalam bidang pendidikan, sebab mengadakan pembelajaran membaca Al Qur’an mulai dari dasar (pengenalan huruf hija’iyyah), ilmu membaca Al Qur’an yang baik dan benar (Tajwid), pengajian atau majlis ta’lim, mulai dari gramatikal bahasa arab hingga kajian karya literasi dan pemikiran Ulama’ Salaf.

Ketiga, Basic Social Needs yaitu kebutuhan dasar masyarakat untuk hidup bersama sebagai makhluk sosial, sehingga mushalla juga memiliki peran penting secara sosio-kultural. Mushalla menjadi sarana berinteraksi dan bersosialisasi antar sesama anggota masyarakat dari semua kelas dan strata sosial, mushalla juga menjadi institusi musyawarah dalam rembug kampung terkait berbagai permasalahan, serta information center atas kebijakan publik ataupun respon baliknya.

Guna mewujudkan cita-cita Mushalla Tamrinul Huda dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, Kiai Selamet membagi kegiatan menjadi tiga kategori yaitu Ubudiyah, Tarbiyah dan Jam’iyah. Kegiatan Ubudiyah meliputi pelaksanaan jama’ah shalat wajib lima waktu antara lain Dzhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dan Shubuh serta membaca wirid bersama setelahnya. Kemudian sebagai penyempurna, diselenggarakan juga shalat sunah muakkadah seperti Tarawih dan lainnya.

Tarbiyah atau pendidikan difokuskan pada pembinaan keilmuan dan karakter anak sedari usia dini, sehingga Kiai Selamet memilih sistem Klasikal yang disesuaikan dengan tingkat umur dan jenjang pendidikan. Kegiatan ini dilaksanakan setelah jama’ah Shalat Maghrib hingga menjelang Isya’, dan pada hari tertentu diselenggarakan pendidikan tambahan sebagai upaya memberi bekal skill dan keterampilan praktis seperti Latihan Rebana, Seni Baca Al Qur’an, dan lain sebagainya.

Jam’iyah atau ‘kumpulan’ rutin merupakan media berkumpulnya seluruh jama’ah dan masyarakat umum, di samping sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui dzikir dan istighatsah kegiatan ini juga menjadi ajang pengembangan diri, sebab dalam pelaksanaannya didesign sebagaimana acara formal. Sehingga anggota jam’iyah berlatih menjadi Master of Ceremony (MC), memimpin Tahlil, dan lain-lain serta wadah bersosialisasi atau bersilaturrahim.

Prinsip dan laku perjuangan yang tetap dipegang teguh serta dijaga oleh penerusnya yaitu Kiai Saiful Huda putera pertama Kiai Selamet bin Syurdi, hingga kini mushalla Tamrinul Huda senantiasa melaksanakan bermacam kegiatan sebagai wujud implementasi tiga peran strategis.

Kiai Muda yang merupakan alumnus Pondok Pesantren Daarut Tauhid Kedungsari Purworejo Jawa Tengah bertekad selalu berupaya menjaga tradisi sang pendiri sejak empat puluh tahun yang lalu.
Tiga belas tahun sepeninggal Kiai Selamet (2007) berbagai kegiatan baik berbentuk Ubudiyah, Tarbiyah maupun Jam’iyah masih berjalan aktif. Kiai Saiful hanya membuat beberapa perubahan sebab tuntutan zaman, dan tentu telah perginya pendiri dan pemimpin lembaga kultural itu untuk selama-lamanya. Modifikasi tersebut antara lain, Imam jama’ah shalat wajib menjadi lima orang sesuai waktu sholat, begitu pula Imam shalat sunah seperti Tarawih dibuat terjadwal sesuai hari.

Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik, kaidah yang mendasari Kiai Saiful Huda dalam meneruskan manhaj perjuangan pendahulu (salafunash shalih).

Pada waktu Kiai Selamet masih hidup seluruh tanggung jawab berada di pundaknya seorang, satu hal yang sulit untuk ditiru oleh siapa pun sepeninggalnya. Karena itu beban berat mengelola Mushalla Tamrinul Huda dilaksanakan bersama-sama dan Kiai Saiful lebih berperan sebagai ‘dirigen’.

Tarbiyah atau kependidikan merupakan nyawa dari lembaga kultural (ruhul ma’had) satu dari sekian banyak kegiatan yang tetap dijaga, yakni pengajian klasikal bainal isya’aini (Maghrib – Isya’) yang diikuti anak-anak dari beragam usia, mulai dari tiga tahun sampai remaja lulusan sekolah menengah atas. Kelas dan kelompok tersebut dibagi menjadi empat jenjang pendidikan dan terpisah antara putera dan puteri meliputi kelas Isti’dad A, Isti’dad B, Ula, Wustho dan ‘Ulya.

Materi pembelajaran setiap jenjang kelas antara lain: Isti’dad (pengenalan huruf Hija’iyah dan harakat atau syakal, do’a sehari-hari dan niat ibadah, serta dasar menulis huruf Arab); Ula (mengeja Turutan atau metode Baghdadiyah, praktek shalat dan bacaannya, dzikir setelah sholat, serta Imla’-Tahajji untuk pengembangan menulis Arab); Wustho (membaca Al Qur’an, Al Barjanzy, Tahlil, dan kajian Kitab Kuning); ‘Ulya (membaca Al Qur’an, Manaqib, dan kajian Kitab Kuning).

Kegiatan klasikal setelah Maghrib diikuti sembilan puluh delapan anak, dengan perincian sebagai berikut: Isti’dad (29 anak); Ula (23 anak); Wustho (17 anak); dan ‘Ulya (29 anak). Adapun pelaksanaan kegiatan Majlis Ta’limil ‘Ilmi dengan memanfaatkan ruang utama, teras dan lantai dua Mushalla Tamrinul Huda, untuk menunjang efektifitas pendidikan klasikal tersebut Kiai Saiful dibantu oleh 23 (dua puluh tiga) tenaga pengajar ustadz/ ustadzah dari berbagai latar belakang.

Pengajian sistem klasikal diselenggarakan setiap hari mulai dari Sabtu hingga Kamis, dan untuk menunjang kemampuan membaca Al Qur’an setiap ba’da sholat Shubuh dilaksanakan Mudarosah, yaitu membaca Al Qur’an secara bergantian langsung di bawah bimbingan Kiai Saiful Huda. Kegiatan ini diperuntukkan anak yang duduk di kelas Wustho dan ‘Ulya, sebab porsi belajar membaca Al Qur’an ba’da Maghrib sangat minim sehingga perlu waktu tambahan pembelajaran.

Sementara itu kegiatan jam’iyah dibagi dalam kategori mingguan, dua mingguan, bulanan dan tahunan. Pertama mingguan antara lain: Jum’at, Jam’iyah Maulid Nabi Putera (30 orang); Senin, Jam’iyah Maulid Nabi Puteri (50 orang); Selasa, Jam’iyah Surat Ikhlas Putera (30 orang); kamis, Jam’iyah Yasin Fadhilah Puteri (25 orang); Sabtu, Jam’iyah Sholawat Nabi Rebana Al Huda (20 orang); serta malam Ahad dan Rabu, Bandongan Kitab Kuning meliputi Ilmu Fiqih dan Tauhid.

Kedua, kategori dua mingguan yaitu: Malam Jum’at ba’da Isya’, Jam’iyah Istighosah Putera (40 orang); dan Jum’at siang setelah Dzhuhur, Jam’iyah Istighosah Puteri (150 orang). Ketiga, kegiatan bulanan adalah setiap malam Jum’at wage diselenggarakan Jam’iyah Lailatul Ijtima’ Sholawat Nariyah (50 orang) dan malam Sabtu kliwon diadakan Jam’yah Rotib Al Haddad (70 orang). Agenda tahunan yakni Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) dan Harlah Mushalla (Robi’ul Awwal).

Sebagai wujud usaha kaderisasi dibentuklah susunan struktur keorganisasian dalam pengelolaan Mushalla Tamrinul Huda, ada dua kepengurusan dengan garis tugas yang berbeda-beda. Yaitu, pertama Pengurus Harian (PH) yang bertanggung jawab terhadap keberlangsungan kegiatan keagamaan dan kepesantrenan di mushalla. Kedua, Pengurus Taman Pendidikan Tamrinul Huda (TPTH) yang memiliki tanggung jawab bidang penglolaan dan perawatan bangunan fisik mushalla.

Secara fisik Mushalla Tamrinul Huda keadaannya jauh lebih baik dibandingkan awal perintisannya, saat ini memiliki bangunan dua lantai yang berdiri di atas tanah wakaf seluas 130 meter persegi. Lantai satu adalah ruang utama untuk pelaksanaan kegiatan Ubudiyah dan Jam’iyah, kapasitas ruangan menampung jama’ah hingga 200 orang. Lantai dua digunakan untuk penyelenggaraan kegiatan Tarbiyah, di mana ada delapan kelompok belajar yang memerlukan space ruang terbuka.

Mushalla Tamrinul Huda tidak lantas jumud dalam proses dan berhenti berkembang, karena sebagai salah satu ikon masyarakat pesisir di Utara pulau Jawa mushalla atau surau merupakan bentuk kearifan lokal (local wisdom). Untuk menjaga kelestarian tradisi peninggalan ulama penyebar Islam tersebut, perlu satu upaya optimalisasi peran strategis mushalla terutama fokus pada 3 (tiga) bidang pengembangan yaitu kelembagaan, pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

Pertama, bidang kelembagaan meliputi optimalisasi peran strategis kiai sebagai pemimpin lokal masyarakat; optimalisasi organisasi sebagai sarana proses regenerasi dan kaderisasi; serta optimalisasi sumber daya manusia sebagai kekuatan potensi lokal. Kedua, bidang pendidikan dengan penyelenggaraan pendidikan yang tersistem, terarah dan terukur; dan penambahan kajian keilmuan (selain agama) sebagai wujud dari integrasi dan interkoneksi lintas disiplin ilmu.

Ketiga, bidang sosial kemasyarakatan antara lain: meningkatkan ketahanan sosial melalui penguatan soliditas dan solidaritas masyarakat; meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui penguasaan skill atau keahlian tertentu (al ‘ilmu al hal); meningkatkan perekonomian masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal; dan meningkatkan sinergitas Ulama’, Umaro’ dan Umat melalui kesesuaian dan keberlanjutan program kebijakan pemerintah lokal setempat.

Implementasi upaya pengembangan peran mushalla dapat diwujudkan dengan beberapa program kongkrit. Di antaranya Mushalla Bangkit, yaitu pelatihan dan pendampingan kepada pengelola dalam penataan manajemen musholla meliputi aspek legalitas atau perijinan, keorganisasian, administrasi dan pengelolaan keuangan musholla yang sistematis dan akuntabel, serta status lahan bangunan mushalla sebagai aset bersama dan dikelola secara swadaya oleh masyarakat.

Mushalla Mengabdi, yaitu sebuah program penyebaran informasi dan data berupa pengetahuan atau tranfer knowlegde, yang terdiri dari dua program kegiatan, yakni pendidikan agama melalui program mengaji oleh para santri, dan pendidikan non-agama melalui program mengajar oleh sarjana lintas disiplin ilmu yang tinggal di lingkungan musholla. Sehingga muncul integrasi dan interkoneksi santri dan sarjana yang akan menjadi arus baru perubahan di dalam masyarakat.

Mushalla ‘N-desa, yaitu sinergitas program pemerintah desa melalui pengambilan kebijakan (aggaran) yang berbasis musholla. Artinya akan ada komunikasi dua arah antara pemerintah desa dengan pengelola musholla, sehingga akan terlahir sebuah tatanan pemerintahan yang baik dan lebih bermanfaat. Mushalla Preaneur, yaitu pembukaan pusat perekonomian masyarakat yang berbasis jama’ah, tujuannya penguatan religiusitas berbarengan dengan kuatnya perekonomian.

Akhirnya, semoga seluruh harapan dan cita-cita Kiai Ahmad Selamet bin Syurdi bin Marzuki dapat terwujud. Yaitu menjadikan mushalla sebagai pusat kegiatan masyarakat; mushalla juga menjadi sarana penguatan spiritual, intelectual dan financial masyarakat; mushalla menjadi barometer kemajuan dan peradaban masyarakat; mushalla menjadi legitimisasi sinergitas tiga komponen utama berdirinya suatu bangsa yakni Ulama’, Umaro’ dan Umat. Amin. (*)

*) Misbahul Ulum, sehari-harinya aktif sebagai salah satu tenaga pengajar mapel agama di Madrasah Aliyah Darul Hikmah Menganti Kedung Jepara, dan malam harinya ikut berkhidmah mengajar di Pondok Pesantren Mathla’un Nasyi’in peninggalan alm. KH Mahfudz Asmawi Pecangaan Jepara. Sesekali menulis lepas di media online yang dimulai sejak tahun 2015. Isu sosial-keagamaan merupakan tema yang sering diangkat. Tagline “merawat tradisi literasi” senantiasa diusung dalam rangka membudayakan gemar membaca dan menulis, baik di ruang publik sebagai praktisi pendidikan maupun kancah keorganisasian. Selain tercatat sebagai Pengurus Harian Tanfidziyah Nahdlatul Ulama Ranting Sowan Lor, juga menjabat Wakil Ketua Umum IKASUKA Cabang Jepara.

Check Also

Mitos Kopi, dari Tritis Pesantren hingga Meja Cafe

Share this on WhatsApp Oleh: Misbahul Ulum*) Setelah hampir satu tahun penuh si Google Map …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.