Home / Esai / Mitos Kopi, dari Tritis Pesantren hingga Meja Cafe

Mitos Kopi, dari Tritis Pesantren hingga Meja Cafe

Oleh: Misbahul Ulum*)

Setelah hampir satu tahun penuh si Google Map melakukan aksi ‘spionase’ dengan memantau pergerakan smart phone melalui GPS (global positioning system), per 31 Januari mereka merilis laporan dalam ikon historinya bahwa saya telah melakukan sekian ribu kilo meter perjalanan, juga disertakan informasi sekian kota dan tempat dikunjungi. Salah satu item yaitu data terkait warung kuliner, pastinya muncul sederet warung kopi  jadi lokasi forum ‘nggremengi’ dan sedikit berdiskusi.

Namun yang lebih mengherankan plus tidak tersangkakan adalah hitungan angka dalam kunjungan, tidak tanggung-tanggung ada 217 kali terdeteksi saya datang ke satu warung berlabel ‘Kopi Kampung’. Katakanlah dibuat rata-rata sekali saja dalam sehari maka hampir dua pertiga jumlah hari selama setahun, dan jika dihitung durasi sekali ‘ngopi’ menghabiskan 120 menit tentunya sudah 26.040 menit waktu yang telah saya dedikasikan untuk  warung kopi itu selama satu tahun kuota masa hidup.

Kemudian iseng-iseng saya ambil android dan membuka aplikasi alat bantu hitung atau kalkulator, saya coba membandingkan durasi sholat wajib yang rata-rata membutuhkan waktu terlama adalah 10 menit lima kali dalam sehari jumlahnya tepat 18.000 menit setahun. Durasinya kalah jauh dari waktu berkunjung ke warung kopi beradu dengan saat ‘menghadap’ Gusti Allah, semoga nalar matematika yang salah dan bukan menjadi satu-satunya ukuran akan kadar kecintaan kepada selain-Nya. Amin.

Masih belum mampu membuka cakrawala kesadaran, saya pun melakukan ‘tracking’ sepuluh tahun ke belakang yaitu tepat di masa sulit dalam misi pencarian warung kopi, maklum waktu itu orang minum kopi di kedai masih pantas diberi cap pelaku ‘dosa kecil’ yang layak dicaci-maki. Hingga akhirnya saya temukan satu tempat favorit untuk ngopi, bukan tersebab cara dan racikan kopinya dahsyat ala barista profesional, namun karena lokasi yang jauh dari pantauan radar ‘paparazi’ suka berburu bahan bully.

Cukup sehari dalam satu minggu untuk jatah menikmati secangkir kopi panas, butuh waktu lama menebar pengaruh ‘jahat’ akan pahit rasa kopi lebih utama. Terkait durasi ngopi mungkin sedikit ekstrem, delapan jam setara waktu para ras pekerja mengabdi kepada junjungan tuan bosnya. Mari kita berhitung, untuk satu tahun masa hidup saya minus bulan suci Ramadhan dan sepekan lebaran tersisa 47 minggu. Jika dikalikan dengan 480 menit sekali session ngopi hasilnya 22.560 menit, Allahu Akbar.

Pada tahun-tahun yang sama tersebut di atas kebetulan saya diberi kesempatan Instisarul ‘Ilmi wal Khoiri atau menyebarkan ilmu dan kebaikan, oleh salah satu Gus (anak kiai) pesantren yang mengajak sedikit ‘berderma’ waktu teruntuk kegiatan ngaji dengan kang dan mbak santri. Kita akan berhitung angka-angka kembali, jadwal ngaji semingu lima hari dan dua jam pelajaran dengan durasi 45 menit setiap session tatap muka, jika dikurangi hari libur maka ada 13.500 menit waktu ngaji dalam setahun.

Subhanallah, tetap saja durasi ngaji kalah dengan jumlah menit efektif untuk ngopi. Saya di titik ini masih belum memiliki pencerahan dan ilham, maka mohon izin untuk memutar waktu sekali lagi ke masa 10 tahun mundur hitungan waktu. Bukan tanpa alasan, sebab saya sangat yakin di tempat dan waktu terakhir ini mulai ada tradisi kebiasaan menikmati minuman berasa pahit dan berwarna hitam pekat. Iya betul sekali, masa ketika masih berproses di ‘penjara suci’ yang bertajuk pondok pesantren.

Maaf, saya akan berati-hati memilah diksi dalam membahas lembaga ini, bilamana masih ditemukan kata ‘sarkasme’ atau ‘ngeceisme’ mohon berjuta ampunan para tuan dan nyonya. Pondok Pesantren Al Qohwah (bukan nama sebenarnya) memiliki santri putera 100 orang dan sekitar 300 santri puteri di masa itu yang terletak di pinggiran salah satu kota besar di Indonesia, usia lembaga belum genap ‘aqil baligh namun memiliki tingkat kesempurnaan di sistem pendidikannya pada angka sembilan koma.

Kebetulan hanya saya seorang di kelas ‘tengah’ yang bukan dari alumni pesantren sebelumnya, kawan sejawat mayoritas berasal dari jebolan nama-nama tenar lembaga tertua di nusantara. Sebut saja Gontor, Tebuireng, Lirboyo, Ploso, Tegal Rejo, dan sederet pesantren besar di pulau Jawa. Minder? pastilah karena saya merupakan produk asli pendidikan di pelosok kampung pesisir yang banjir adalah satu hal yang biasa, pagi sekolah formal dan sore madrasah serta malamnya penghuni tetap musholla.

Alhamdulillah, efek positif dari berkah do’a para guru di kampung halaman yang keikhlasannya tiada tara. Nama saya tercantum di urutan lima teratas pada masa akhir evaluasi pembelajaran, apa kabar Gontor-Lirboyo? Maaf, sedikit uforia kebanggaan sesaat yang tidak patut diteruskan. Kita kembali ke angka-angka, ada empat porsi kegiatan ngaji di Pesantren Al Qohwah masing-masing berdurasi 60 menit penuh dalam sehari, kita kalikan waktu efektif belajar maka hasilnya ada 72.000 menit setahun.

Mantap. Eiiit, sebentar. Saya kan belum mengkomparasikan dengan porsi ‘santai’ para santri di sela kegiatan wajib pesantren, di kemudian hari menjadi ‘asbabul wurud’ atau sebab lahirnya tradisi ngopi, berikut rinciannya. Kegiatan ngaji madrasah dimulai jam empat sore dan berakhir di ngaji bandongan (stadium general) jam tujuh pagi, praktis durasi santri non-ngaji dalam pesantren adalah 900 menit per hari dikalikan efektif sistem pembelajaran jadi 270.000 menit dalam satu tahun masa hidup santri.

Selanjutnya, durasi ‘santai’ bagi santri di pesantren kita bagi tiga porsi sebagaimana ikut aturan main pembagian isi perut. Yaitu satu bagian untuk kebutuhan aktifitas pribadi kemanusiaan, sebagian lagi untuk istirahat tiduran, terakhir adalah bagian waktu untuk santri dalam kondisi ‘santai jiddan’ lalu ketemulah angka 90.000 menit durasi peluang ngopi. Tentu hitungan tadi mengesampingan porsi sekolah formal antara jam tujuh pagi hingga menjelang sore, saya kira cukup adil semisal hak waris.

Terdapat selisih 18.000 menit perbedaan porsi waktu santri benar-benar ngaji dan berpeluang besar ngopi. Allah Maha Besar. Ada apa ini? Sudah semakin memuncak rasa penasaran saya dengan si ‘ngopi’ yang dari tiga kasus berbeda selalu mendominasi. Untuk selanjutnya saya tidak akan menggunakan pendekatan kalkulus yang beraroma matematika dan angka-angka, akan tetapi cenderung pada subyektifitas saya sebagai pelaku atau istilah kerennya Fenomenology Approuch.

Pertanyaannya, kenapa ngopi menjadi aktifitas ‘santai’ yang mengakar kuat dan sangat tertanam di alam bawah sadar saya ketika menjalani kehidupan di pesantren Al Qohwah hingga sekarang?

Jawabnya, ketika saya duduk di kelas ‘tengah’ fase awal. Cara pembelajarannya menggunakan metode ‘musyawarah’ (diskusi) yang praktiknya ditunjuk satu santri mebaca kitab kuning, memaknai ‘gandul’ per kata kemudian menyampaikan maksud isi dan penjelasan teks. Sementara santri lainnya menyiapkan acara ‘pembantaian’ ala para politisi di Senayan, persiapan terpenting adalah bisa berargumentasi atas permasalahan apapun, sedangkang urusan pintar atau cerdas tidak diutamakan.

Sering kali suasana diskusi berjalan baik, namun tidak jarang kelas berubah menjadi ‘psyco war’ bertensi tinggi. Alm. Ustd. Qodirun (Allahu yarham) mencetuskan ide untuk masing-masing santri membawa secangkir kopi, dia berprinsip ‘logika tanpa logistik akan anarkis’ maka kopi bisa dengan mudah menetralisir ketegangan. Alhasil, pada setiap sesi ngaji di kelas maupun ekstra ‘sorogan’ baca kitab kuning kopi wajib dihadirkan, hingga lahirlah  tradisi ngopi dan ngaji atau ngopi dan diskusi.

Saya sadar sesadar-sadarnya, bahwa saya bukan pribadi berakal cerdas juga bukan alumni pesantren elit dan masyhur. Saya hanya belajar di kampung agraris kepada para kiai mushalla dan guru madrasah diniyah, sehingga untuk menghadapi suasana ‘perang terbuka’ di dalam kelas ngaji saya butuh tambahan amunisi. Maka niat itu saya sampaikan kepada salah seorang teman sekelas, dia lumayan populer dan masuk jajaran selebritas pesantren. Alhamdulillah, dia sependapat dan sepakat.

Entah ‘paparazi’ mana yang menyebarkan rencana saya sehingga ada dua teman yang menyatakan siap bergabung, seorang pemain terbaik timnas sepak bola pesantren dan satunya santri alumni Futihiyah Mranggen. Maka pertemuan perdana diselenggarakan dengan mengambil waktu setelah ngaji ekstra, lokasi yang dipilih adalah salah satu ruang kelas terujung sebab lebih tersembunyi dan sedikit bisa menjaga privasi. Komunitas Juhala’ oleh seorang teman memberikan identitas pada acara. Alasannya adalah ‘al ismu ma yusamma bihi’ nama itu harus sesuai dengan yang dinamakan, yaitu sekelompok orang bodoh yang sepakat untuk belajar bersama-sama.

Materi yang dikaji dan didiskusikan adalah kitab yang menjadi pelajaran ngaji, mulai dari gramatikal bahasa arab sampai dimensi analisa isi atau ‘content analysis’, tujuannya menambah amunisi dengan mengantisipasi segala polemik diskusi yang akan muncul esok hari pada waktu ‘eksekusi’ di dalam kelas mengaji. Terinspirasi oleh ide alm. Ustadz Qodirun, kopi selalu tersaji dalam acara Komunitas Juhala’ sehingga acara  itu tidak terasa berlangsung sampai menjelang dini hari. Sukses.

Kebiasan lama membawa kitab kuning di tangan kanan disertai dengan menenteng secangkir kopi di tangan kiri terus saya lakukan, bahkan setelah 20 (dua puluh) tahun lepas dari pesantren Al Qohwah. Misi pertama ketika menginjakkan kaki di kampung halaman kembali, adalah ‘hunting’ warung kopi atau minimal menemukan kawan ngopi dan diskusi yang berkenan membahas permasalahan apapun, serius bertema suci ataupun persoalan tidak penting berupa curahan isi hati. The mission begins.

Terekam dalam perjalanan hidup, sekian titik koordinat warung kopi telah dijelajahi namun bukan waktu yang tepat untuk sekedar eksplorasi apalagi presentasi. Sebab berbagai tragedi harus saya lalui, paling enteng adalah diberi stereotipe ‘tukang ngopi’ dan dipergunjingkan oleh orang se-kampung. Tetapi bagaimana kalau hanya sebatas memberi deskripsi ikhtiyar memadu-padankan aktivitas santai ngopi dan laku suci ngaji? Tidak apalah.

Pertama. Tahun 2010 saya dan beberapa teman menginisiasi berdirinya MCC (mataram coffee corner) satu wadah kawan-kawan penikmat kopi lintas komunitas, secara rutin bertemu di satu lokasi memanfaatkan ‘emperan’ dealer sepeda motor asal Jepang, kebetulan tempatnya dekat Angkringan ala Klaten-nan yang juga menyajikan menu kopi. Anggotanya terdiri dari berbagai profesi yakni pegawai negeri sipil, karyawan swasta, pebisnis, guru ngaji, dosen, mahasiswa hingga perangkat desa.

Setelah dua tahun muncullah titik jenuh, hingga salah satu kawan usul untuk memberi konten ‘ngaji’ berupa ritual pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qodir Al Jailany dan acara diselenggarakan secara ‘idaroh’ atau bergilir ke rumah-rumah. Maka tahun 2012 MCC menjadi Manaqib Coffee Comunity, dan semenjak tahun 2018 berubah nama JAMPIJI (jam’iyah ngopi dan ngaji), berjalan sampai sekarang.

Kedua. Seorang Gus (anak kiai) pesantren pada tahun 2012 mempunyai cita-cita untuk menyelenggarakan sistem pendidikan madrasah. Beberapa alumni pesantren dia undang ‘ngopi’ ke kediamannya, dua orang lulusan dari Sarang Rembang dan seorang alumni pesantren di  Bangsri Jepara serta satu orang jebolan pesantren di Yogyakarta. Kelimanya bermusyawarah dan menyepakati memulai sistem pendidikan sementara pada santri putera saja, dan hal itu berjalan sampai 3 tahun.

Hingga menjelang pertengahan tahun 2015, dirasa uji coba sistem pendidikan di santri putera dapat berjalan stabil. Maka Gus dan empat kawan (termasuk saya) memutuskan untuk melaksanakan sistem madrasah secara ‘nasional’ atau menyeluruh di santri putera dan puteri pesantren. Hal tersebut menuntut dibutuhkannya tenaga pengajar yang lebih banyak, kemudian diupayakan merekrut beberapa kawan alumni pesantren laiinnya. Alhamdulillah, hingga sekarang tercatat 30 orang sebagai guru ngaji.

Untuk para guru atau ustadz setelah mereka menyelesaikan jadwal ngaji disajikanlah secangkir kopi di teras pesantren. Tujuan awal hanya sekedar ‘ngopi’ dan bercengkrama sambil mengawasi serta mengontrol santri yang cenderung keluar malam, namun dalam perjalanannya acara ‘ngopi’ itu lebih berperan sebagai forum koordinasi dan koonsolidasi para guru ngaji, pengurus bersama dengan pengasuh pesantren. Saat itulah oleh beliau diberi nama majlis ngopi ‘santri tritis’ sampai sekarang.

Ketiga. Seorang pemilik cafe dan resto ‘Kopi Kampung’ bernama Amri diperkenalkan oleh kawan, saat itu saya belum terbiasa nongkrong dan ngopi di cafe sebab berpikir harga yang tidak bersahabat dengan isi kantong. Seiring berjalannya waktu, secara rutin Amri si owner cafe mengundang berdiskusi dengan menyajikan gratis secangkir ‘original coffee’ racikan barista. Berbagai tema dibahas, mulai dari teknik cara menulis hingga obsesinya mendirikan Yayasan Anak Raja, mimpi penuh ambisi.

Akhir tahun 2019 dia berencana membuat beberapa konten acara di cafe miliknya yang berdiri sejak tahun 2016, salah satunya adalah ngaji kitab kuning. Usul saya, acara tidak perlu besar dan megah tetapi lebih pada rutin dan istiqomah. Kemudian salah satu pegawai cafenya mengajukan diri untuk ‘sorogan’ membaca kitab kuning, yaitu kitab ‘Inarotud Duja’ karya Syaikh Muhammad Ali bin Husain Al Makki, merupakan keterangan (syarah) dari kitab Nadzhom Tanwirud Duja oleh Kiai Ahmad bin Shodiq dari Pasuruan Indonesia. Alhasil, acara ngaji-ngopi di meja mewah cafe dan resto Kopi Kampung digelar pasca jam tutupnya, seminggu lima kali yakni pada hari Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu.

Sebagai ‘clossing statement’ saya akan mengutip sepenggal bait syair dalam kitab ‘Irsyadul Ikhwan fi Bayani Ahkami Syurbil Qohwah wad Dukhon’ karya Syaikh Ihsan Jampes Kediri Jawa Timur. “Qolu fa inna li wasa’iliyyati # yu’tho laha hukmun li maqoshidiyyati” artinya, para ulama berkata bahwa hukum  minum kopi sebagai sarana beriringan erat dengan tujuannya. Maka bagi saya, kopi hanyalah sarana atau ‘wasilah’ bukan tujuan atau ‘ghoyah’. Kopi bebas nilai tergantung ke arah mana tujuan seseorang beraktifitas ‘ngopi’. Wallahu a’lam bish showab. Semoga bermanfaat. (*)

*) Misbahul Ulum, di kampung halamannya lebih dikenal dengan ‘tukang ngopi’ dan rasa pahit kopi adalah favoritnya. Sejak 2008 senantiasa aktif ‘ngopi’ di beberapa warung kopi dan angkringan, di antaranya Angkringan depan Balai Desa Sekuro Mlonggo, Warung Kopi samping Masjid Kedungcino, Kedai Kopi belakang Pasar Jepara 1, Angkringan Bunderan Pecangaan (digusur pindah di selatan Pasar Kalinyamatan), Angkringan Kopi Paste depan Polsek Pecangaan, Warung Kopi Sumik, Angkringan Jogan barat PP. Mathla’un Masyi’in Pecangaan, Cafe dan Resto ‘Kopi Kampung’ Pulodarat. Walaupun demikian identitas ‘kesantrian’ tidak pernah dilepaskan, dan semenjak Cafe mulai menjamur di Jepara hobi hunting warung kopinya pun berhenti.

Check Also

Mushalla Bangkit; Menyusuri Jalan Liku Kiai Kampung

Share this on WhatsApp Oleh: Misbahul Ulum*) Selepas jama’ah shalat Isya’ terlihat mulai berdatangan orang-orang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.