Mewaspadai Gerakan Intoleran dan Radikal di Kampus

0
17

Oleh : Fuad Fahmi Latif, Aktivis Pergerakan, Presidium Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Unisnu 2016-2017, sedang menyelesaikan studi magister di Unisnu Jepara

Baru-baru ini ramai diperbincangkan tentang adanya lembaga pendidikan madrasah yang kuat disinyalir sebagai sarang doktrinasi organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), tepatnya di Yayasan Al Hamidy Al Islamiyah di Desa Kalisat, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Sebenarnya secara empiris tak ada lembaga pendidikan dasar atau perguruan tinggi (kampus) yang punya imunitas terhadap paham radikal, termasuk perguruan tinggi swasta yang notabene punya garis koordinasi dengan ormas terbesar seperti Nahdlatul Ulama’.

Menurut peneliti Universitas Gadjah (UGM) Muhadjir Darwin mengatakan NU seperti pemain tunggal dalam menahan derasnya arus radikalisasi. Muhadjir melihat NU seperti menjadi pemain tunggal dalam menahan derasnya arus radikalisasi, sebab tidak ada organisasi Islam lain yang seberani NU dalam mempertahankan politik Islam moderat, dan mengkritisi politik Islam radikal yang sekarang sedang menjadi perbincangan kuat.

Tulisan ini sebenarnya ingin mencermati keberadaan kampus sebagai salah satu lumbung diseminasi (persemaian) gerakan radikal sejak tahun 1970, di mana embriologi itu dibawa oleh sel-sel ekstrem kanan dengan membentuk usrah (keluarga) dengan menolak keabsahan pemerintahan atau dikenal dengan organisasinya NII.

kebetulan penulis sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah (tesis) yang menyangkut masalah “Moderasi Islam” yang banyak menyinggung kelompok-kelompok Islam radikal dan intoleran serta peta gerakan Islam secara makro yang dapat mempengaruhi corak keberagaman Islam di indonesia.

Menurut Setara Institute pada akhir Mei 2019 menyebutkan, ada 10 perguruan tinggi di Indonesia pada umumnya masih berkembang wacana dan gerakan keagamaan eksklusif di kalangan mahasiswa. Tidak hanya satu, ada beberapa kelompok keagamaan eksklusif yang berkembang yaitu, gerakan salafi-wahabi, gerakan tarbiyah dan tahririyah. Hal ini sangat wajar, mengingat mahasiswa dijadikan sebagai rule model, dan paradigma berpikirnya pasti banyak memengaruhi orang-orang di sekelilingnya, karena secara proyeksi politis mahasiswa dapat mengisi pos-pos penting pemerintahan di masa depan.

Riset yang dilakukan BIN bahwa 39 persen mahasiswa di Indonesia sudah terpapar paham radikal, dan didapati 23,3 persen pelajar SMA sederajat setuju dengan tegaknya negara Islam di Indonesia. Gerakan radikal ini biasanya berinfiltrasi dengan kegiatan-kegiatan mahasiswa baik di UKM, UKK maupun organisasi dakwah yang berada di lingkungan masjid maupun mushala kampus, yang sering dijadikan sarang gerakan Islam radikal, tidak terkecuali para pendidik maupun tenaga kependidikan, seperti staf dan pegawai kadang-kadang hanya mempertimbangkan profesionalitasnya saja tanpa mengetahui latar belakang ediologinya.

Menurut penulis perguruan tinggi yang punya afiliasi atau minimal jalur koordinasi dengan NU, segenap sivitas akademika didorong supaya mengikuti Pelatihan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama’ (PKPNU) dalam rangka untuk menguatkan ediologi kebangsaan, selain keislaman. Pelatihan ini juga dapat mempersempit ruang masuk bagi para dosen maupun karyawan yang punya muatan mindset ke arah paham radikal, bagi mahasiswa tentunya diarahkan untuk ikut aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi yang punya latar belakang sejarah yang jelas memahami prinsip ke Islaman dan Kebangsaan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.