Metode Mengeja Turutan, Merawat Tradisi Tuturan dan Tuntunan

0
9
Do’a bersama sebelum belajar metode baghdadiyah di mushalla tamrinul huda.

Sepengetahuan penulis, hampir setiap daerah di nusantara dapat ditemukan tradisi mengeja dalam belajar membaca Al Qur’an. Seperti “Alif jabar a, Alif bese i, Alif jere u: A-I-U” atau dengan menggunakan istilah letak harakatnya, “Alif atas a, Alif bawah i, Alif Dopan u: A-I-U” dan yang paling populer serta jamak ditemukan dalam tradisi belajar membaca Al Qur’an pada masyarakat nusantara adalah, “Alif fathah a, Alif kasroh i, Alif dhummah u: A-I-U”.

Secara etimologi mengeja merupakan cara melafalkan kata yang menekankan segi historis dengan mempertahankan semua unsur fonem atau bunyi. Sedangkan mengeja dari sisi terminologi, adalah salah satu teknik membaca dengan melafalan satu demi satu huruf-huruf yang menyusun satu kata. Metode mengeja berarti kaidah-kaidah cara menggambarkan fonem/ bunyi kata, kalimat dan lainnya dalam bentuk tulisan atau huruf-huruf serta penggunaan tanda-tanda baca.

Sebelum bermunculan metode-metode praktis belajar membaca Al Qur’an seperti sekarang ini, masyarakat telah diperkenalkan oleh penyebar agama Islam di nusantara metode baghdadiyah atau lebih kita kenal dengan sebutan turutan yang memiliki ciri khas mengeja.

Hal ini dapat dilacak dalam literatur klasik terkait tradisi masyarakat Jawa, salah satunya kebiasaan anak-anak setelah jama’ah shalat Maghrib hingga menjelang Isya’ belajar turutan di surau atau mushalla, sebagaimana dipaparkan satu narasi cerita dalam serat Centhini. Belum ada informasi valid terkait siapa atau kapan tahun penyusunannya, beberapa artikel terkait metode baghdadiyah disebutkan bahwa buku ini telah ada pada masa Kekhalifahan Islam Bani Abasiyah.

Baghdadiyah atau Turutan merupakan buku panduan belajar membaca Al Qur’an yang diawali dengan pengenalan huruf-huruf hija’iyah, ada 30 jenis huruf di dalamnya dengan menyertakan huruf Alif dan Lam Alif  tanpa tanda baca atau harokat. Kemudian buku ini memperkenalkan tanda baca tunggal yang melekat pada setiap hurufnya, yaitu fathah-kasroh-dhummah misalnya pada huruf Alif akan bersuara a-i-u, pada huruf Ba’ berbunyi ba-bi-bu dan seterusnya. Bab ini juga menjelaskan tanda baca ganda atau tanwin fathah, tanwin kasroh dan tanwin dhummah yang menghasilkan bunyi huruf seperti an-in-un.

Pada bagian selanjutnya, pembaca pemula akan belajar tanda baca tasydid (suara huruf dobel) dan sukun (suara huruf mati) sekaligus akan dilatih membaca kombinasi huruf hijaiyah yang tersusun dari dua, tiga, empat, lima dan enam huruf. Bagian inilah menjadi media belajar mengenal suara huruf dan tanda baca, variasi bentuk huruf berdasarkan tata letak penulisan (tunggal, depan tengah dan belakang), serta persoalan terpenting adalah cara membaca huruf Al Qur’an sesuai dengan makhroj atau getar bunyi berasal dari sumber keluarnya suara huruf. Seluruh tahapan tersebut dilaksanakan dengan tuntunan atau bimbingan guru/ ustadz pendamping yang memberi contoh bunyi huruf, kemudian ditirukan oleh santri/ siswa dan diulang hingga suaranya sesuai dengan yang dicontohkan.

Pada masa sekarang sudah jarang dan langka metode mengeja ala baghdadiyah digunakan, sebab kesan sulitnya keharusan menyamakan suara bunyi huruf dan lamanya waktu yang ditempuh. Belajar membaca Al Qur’an dengan metode turutan menuntut kuatnya hafalan dan keahlian menirukan bunyi huruf, yang bukan perkara mudah bagi masyarakat untuk menyesuaikan lidah dan logat orang Arab. Inti dari metode mengeja adalah melatih kesesuaian bunyi huruf dengan mengulang-ulang sampai terbiasa, tentunya durasi lama belajar akan tergantung pada kemampuan masing-masing pembaca pemula yang berbeda-beda.

Turutan berasal dari dua kata, yaitu tuturan (melafalkan/ menyuarakan) dan tuntunan (menuntun/ memberi contoh), di mana dua tahapan ini menjadi penting dilakukan manakala suara atau bunyi huruf cenderung asing bagi masyarakat non-Arab. Di samping itu, dalam tradisi belajar mengajar para ulama salaf mengharuskan adanya proses talaqqi atau bertatap muka secara langsung, bahwa ilmu harus disampaikan oleh guru dan diterima oleh murid. Sebagaimana syair Imam Syafi’i, “al ‘ilmu ma kana fihi qola hadatsana # wa ma siwa dzaka waswasusy syayatini”.  Ilmu adalah apapun yang dikatakan “telah diceritakan kepada kami”, dan selain itu merupakan bisikan hasutan para setan (Thabaqatusy Syafi’iyyah, jilid I, hal. 297).

Tanpa bermaksud membandingkan dengan bermacam metode belajar membaca Al Qur’an yang saat ini populer di masyarakat, yang lebih lengkap penyusunan materinya, lebih praktis cara pembelajarannya dan relatif lebih cepat waktu yang dibutuhkan untuk melihat hasilnya. Metode baghdadiyah atau turutan adalah satu buku panduan yang tidak hanya sarana belajar membaca Al Qur’an unsich, namun ada proses tranfer knowlage antara guru-murid baik secara harfiyah maupun komunikasi psikologis pada segi hakikiyah. Maka menggunakannya adalah salah satu ikhtiyar praksis merawat tradisi dan tuntunan para salafunash sholih, yaitu ulama nusantara.

“Alif – Lam fathah sukun al, Ha’ – Mim fathah sukun ham, Dal dhummah du: ALHAMDU. Lam kasroh li, Lam tasydid fathah la, Ha’ kasroh hi: LILLAHI. Ro’ fathah ro, Ba’ – Lam tasydid kasroh sukun bil, ‘Ain fathah ‘a, Lam fathah la, Mim – Ya’ kasroh sukun mi, Nun fathah na: ROBBIL ‘ALAMINA. = ALHAMDU LILLAHI ROBBIL ‘ALAMIN”.

Misbahul Ulum, Penggiat Metode Baghdadiyah/ Turutan di Mushalla Tamrinul Huda Sowan Lor Kedung Jepara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.