Home / Esai / Merawat Aswaja di Tengah Derasnya Kemajuan Teknologi

Merawat Aswaja di Tengah Derasnya Kemajuan Teknologi

Oleh: M. Jafar Shodiq Al Alawi*)

Segala sesuatu yang dirawat akan terjaga keindahan dan keawetannya. Merawat bukanlah soal mudah, butuh konsistensi, kesabaran dan keuletan yang luar biasa. Hal-hal di sekitar kita bisa dijadikan ibroh dalam hal ini, sebagai contoh sepeda motor,  sepeda motor yang tidak dirawat dengan baik tarikan gasnya akan tidak enak, suaranya tidak halus, remnya kurang pakem dan ketidakenakan-ketidakenakan lainnya.

Pun demikian tanaman yang tidak dirawat dengan baik pertumbuhannya tidak akan sebaik tanaman yang dirawat. Tanaman yang dirawat dengan sepenuh hati, disirami setiap hari, diberi pupuk tentu pertumbuhannya akan cepat. Senada dengan hal tersebut Ahlussunah Wal Jama’ah (Aswaja) yang merupakan falsafah hidup yang membentuk sistem keyakinan, metode pemikiran dan tata nilai bagi kaum nahdliyin juga perlu dirawat dengan sebaik mungkin. Meskipun dalam menghadapi berbagai perubahan zaman, NU selalu mampu menyesuaikan diri dengan baik ditopang oleh karakter NU yang fleksibel (NU Online), tetapi tidak menutup kemungkinan akan muncul tantangan-tantangan dan kesulitan-kesulitan yang akan menghampiri.

Tantangan-tantangan dan kesulitan-kesulitan ini ibarat benalu yang ada pada tanaman, bila tidak segera ditangani akan menghambat pertumbuhan tanaman. Dan kita semua pun paham bahwa dalam kehidupan ada masa senjakala. Tidak ada kehidupan yang terus berjalan mulus tanpa batas. Bila sampai batasnya, semua hanya akan menjadi kenangan belaka. Tentu masih teringat dalam benak kita, terutama yang pernah bersentuhan. Fuji film pernah menjadi branding besar yang mewarnai dunia foto-memfoto, kini branding tersebut sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan dengan adanya ponsel pintar yang dilengkapi kamera. Semua bisa memotret hanya bermodalkan ponsel.

Nasib senjakala bukan hanya dialami Fuji film, Nokia dan Ponsel Blackbery pun mengalami hal serupa. Dulu ponsel Nokia dan Blackberry menjadi primadona, kebanyakan orang hampir menggunakan produk tersebut. Namun keprimadonaan tersebut kini pudar ditelan waktu. Di satu sisi kemajuan teknologi memudahkan segala hal, namun di sisi lain kemajuan teknologi menelan pihak-pihak yang tidak siap.

Kita tentu tidak ingin aswaja ala NU yang begitu konsisten mencintai negeri ini hilang. Bisa jadi kedamaian yang kita rasakan saat ini merupakan buah dari kerja keras pendahulu-pendahulu yang memeluk erat aswaja ala NU tanpa bermaksud mengunggulkan dan mengesampingkan pihak lainnya. Sudah menjadi tugas kita sebagai penerus generasi terdahulu untuk istiqomah merawat Aswaja ala NU. Menurut hemat penulis ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk merawat aswaja alaNU di tengah derasnya kemajuan teknologi.

Pertama, generasi muda NU perlu meneladani perjuangan ulama-ulama terdahulu dan berani hidup prihatin. Sebab menurut pepatah jawa “witing mulyo jalaran wani rekoso”. Jika anak-anak kecil di zaman dahulu selepas maghrib langsung menuju ke mushola untuk mengaji. Maka anak-anak kita saat ini jangan sampai di waktu Maghrib justru asyik menonton televisi dan bermain game online. Menonton televisi dan bermain game online bukanlah sesuatu yang keliru, akan tetapi sebagai catatan asalkan dialokasikan waktu khusus yang tidak mengganggu kegiatan belajar dan mengaji. Jangan sampai mengaji dan belajar dikalahkan oleh keseruan bermain game online.

Kedua, generasi muda NU perlu belajar dengan sungguh-sungguh dan tekun dalam bidang apapun yang menjadi kegemaran dan pilihannya. Jika generasi muda NU belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh tidak akan menutup kemungkinan di masa mendatang merekalah yang akan mewarnai kemajuan negeri ini. Karena tentunya orang yang belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh  akan memiliki kadar keilmuan yang tinggi. Orang-orang yang berilmu tinggi tentu tidak akan menjadi sumber masalah, tetapi akan menjadi sumber solusi bagi orang banyak. Dan ketika orang-orang yang berilmu tinggi beredar di media sosial tentu akan menjadi inspirator bagi pengguna media sosial lainnya. Rasanya kita sudah terlalu sering mengelus dada oleh ulah oknum yang mengatasnamakan NU di media sosial, tetapi ujarannya di media sosial sama sekali tidak mencerminkan akhlak NU.

Ketiga, semua warga nahdiyin perlu terus meningkatkan kepekaan dan kepedulian terhadap warga nahdiyin lainnya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya tradisi tahlilan, yasinan, manakiban dan lain sebagainya bisa menjadi sarana untuk berinteraksi sehingga antar masyarakat bisa mengetahui kondisi masing-masing. Dengan mengetahui kondisi masing-masing kepekaan dan kepedulian pun terasah. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, betapa banyak pihak yang ikut terdampak. Saling menguatkan dan mendoakan adalah langkah yang terbaik.

Akhirnya, merawat aswaja ala NU juga bisa berarti turut merawat negeri ini. Sebab dalam sejarah jatuh bangunnya negeri ini ada peran-peran luar biasa dari ulama dan para pendiri serta tokoh NU. Teknologi boleh terus maju dengan derasnya, tetapi tradisi-tradisi baik NU tidak boleh hilang begitu saja.

Mari kita terus mengimplematasikan المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح. Semoga Allah senantiasa meridhoi setiap langkah kita. Wallahu a’lam bishowab. (*)

*M. Jafar Shodiq Al Alawi, penulis lahir di Kota Tegal Jawa Tengah, setelah lulus SD Abahnya memondokkan di Buntet Pesantren Cirebon di bawah asuhan KH Amiruddin Abkari, setelah lulus Aliyah melanjutkan ke IAIN Walisongo Semarang sekaligus mondok di Pesantren Raudlatut Tholibin Tugurejo. Kesibukan saat ini adalah belajar bahasa Arab bersama anak-anak di salah satu sekolah swasta di BSB City Semarang. Penulis bisa dihubungi di IG @m_jafar_shodiq_al_alawi.

Check Also

Meramu Nasionalisme Generasi Milenial melalui Media Sosial

Share this on WhatsApp Oleh : Dwi Zuniati*) Indonesia adalah negara yang kaya akan suku, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.