Menyemai Benih Inklusifitas Lewat Sekolah Kader Desa

0
8

Jepara – Sejumlah 40 pemuda yang terdiri dari kader desa se-Jepara, IPNU-IPPNU, PMII, Forum Kajian Jender (FKJ), GP Ansor dan Fatayat turut serta dalam kegiatan Sekolah Kader Desa yang dihelat Lakpesdam PCNU Kabupaten Jepara bertempat di Aula Hotel Kalingga Jepara, Sabtu – Ahad (27-28/1/2018) kemarin.

Dalam kegiatan yang mengusung tema “Menyemai Benih Inklusifitas pada Generasi Muda” itu menghadirkan 3 narasumber. Muhammadun Sanomae (Kepala Biro Suara Muria), Nur Kholis Khauqola (Dosen Fakultas Hukum dan Syariah Unisnu Jepara) dan Sabiq Wafiyudin (Pendamping Desa).

Ketua Lakpesdam PCNU Jepara, Ahmad Sahil mengemukakan desa sebagai wilayah kecil yang berdaulat harus punya kontribusi untuk turut serta menyelesaikan masalah bangsa yakni semakin kencangnya politik identitas dan polarisasi yang bisa mengancam harmonisasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebab itu ungkap Gus Sahil sapaan akrabnya pemuda desa harus turut berperan.

“Karenanya sekolah kader desa ini dilaksanakan dengan 3 materi menarik yakni bagaimana pemuda desa dapat mengidentifikasi dan menangkal hoaks, menjadi pelopor inklusifitas dan menjaga keberagaman di desa serta berpartisipasi aktif dalam penyusunan dan penganggaran desa yang inklusif mengingat semakin besarnya dana desa dari tahun ke tahun,” terang Gus Sahil dalam kata sambutannya.

Menjadi Pemuda Tanpa Hoaks

Kepala Biro Suara Muria, Muhammadun Sanomae yang memaparkan Membangun Pemuda Tanpa Hoaks menyebutkan rata-rata orang tidak bisa membedakan mana berita benar dan mana berita yang bohong.

“Riset 2017 di Amerika Serikat, 80 % pelajar di sana tidak bisa membedakan mana berita benar, advertorial dan hoaks. Di Indonesia kurang lebih seperti itu apalagi dengan tingkat literasi internet kita di bawah AS,” papar Muhammadun yang juga Ketua LTN NU Kabupaten Jepara ini.

Ia menilai di medsos orang cenderung tidak membaca sebuah artikel. Mereka lanjutnya hanya membaca judul tetapi sudah berani untuk membaginya ke banyak orang. “Kalaupun membaca isi artikelnya seringkali dengan cepat menyimpulkan,” tandas alumnus IAIN Walisongo Semarang ini.

Kepada peserta, pria kelahiran Pati itu memberikan tips menangkal hoaks. Sebagai warganet  harus kritis terhadap informasi yang berseliweran di medsos maupun pesan instan (grup WA).

“Pengguna sebaiknya mencari pembanding terkait sebuah isu dari berbagai media yang kredibel,” tambahnya.

Setelah itu sebelum menyebarkan berita tanyakan pada diri sendiri apakah info tersebut benar dan bermanfaat jika disebar. “Apakah info itu justru akan memecah belah atau menyudutkan orang atau kaum lain.”

Dengan menggunakan logika dan rasa serta mengecek ulang kebenaran sebuah berita dan memverifikasinya bisa masuk tanda orang yang “waras”.

Narasumber lain yang membincang Menjadi Pemuda Inklusif, Nur Kholis Khauqola membeberkan untuk menjadi pemuda yang inklusif ada 6 syarat yang harus ditempuh.

Keenam hal itu urai Dosen Unisnu Jepara itu meliputi membudayakan tradisi kritik wacana agama, pengarusutamaan isu-isu kemanusiaan, penguatan pendekatan filosofis dalam pemikiran keagamaan dan sosial.

3 hal yang lain sambung Kholis pemihakan kepada golongan yang lemah, mengoptimalkan jaringan inklusi serta melakukan tindakan advokatif secara kolektif dan progresif.

Sementara itu, Sabiq Wafiyudin dalam materi Peran Pemuda dalam Penganggaran Desa yang Inklusif menegaskan kader desa adalah “orang kunci” yang mengorganisir dan memimpin rakyat desa bergerak menuju pencapaian cita-cita bersama melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar sosial yang dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat desa. (sm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.