Mengukir Nama Melalui Tulisan, Sebuah Refleksi Ber-Literasi

0
51

Oleh: Misbahul Ulum

Hujjatul Islam Imam Muhammad bin Muhammad Al Ghazali mengatakan: “Jika dirimu bukan seorang anak raja ataupun seorang anak ulama’, maka menulislah !”. Kata-kata tidak akan hadir dalam ruang kosong, namun ada sebab atau alasan yang senantiasa menyertainya. Ungkapan motivasi dari sang imam tersebut tertuang dalam suasana kemegahan kemajuan masyarakat Islam, manakala ilmu pengetahuan masih menjadi prioritas pengembangan para penguasa dinasti islamiyah abad V hijriyah.

Tahun 405 H, Al Ghazali lahir di sebuah desa kecil bernama Tus dari keluarga miskin. Ayahnya seorang yang saleh dan bekerja sebagai tukang tenun kain, kemudian hasil menenun dijual ke pasar untuk kehidupan sehari-hari. Karena dari kalangan kurang mampu Al Ghazali dengan tekun melakukan perjalanan ke kota Jurjan dan Nisapur, mendengar ceramah-ceramah Imam Abu Nasr Al Isma’ily dan Imam Al Haromain Abu Al Ma’aly Al Juwainy. Setelah sekian banyak catatan diperolehnya, Al Ghazali kembali ke desanya dan mempelajari seluruh catatan tersebut selama tiga tahun hingga hafal. Kemudian kembali ke dua kota itu untuk mendengarkan serta mencatat ceramah sang guru dan mempelajarinya sekembali ke desa Tus, demikian terus menerus dilakukannya hingga sang guru meninggal dunia.

Pasca meninggalnya Imam Al Haromain dan atas ijin perdana menteri Nizamul Mulk, Al Ghazali bergabung dalam sebuah kelompok kajian para cendikiawan dan ulama’ terkemuka. Di tempat itulah Al Ghazali mengadakan diskusi-diskusi ilmiah bersama mereka, sehingga seluruh pemikiran dan gagasannya yang sangat menonjol mendapat pengakuan dari perdana menteri Nizamul Mulk. Tradisi menulis yang telah dilakukan oleh Al Ghazali sedari berada di desa Tus dalam bimbingan sang guru Imam Al Haromain menjadi semakin berkembang, bahkan dia diminta oleh perdana menteri untuk mengajar dan memajukan Universitas Nizamiyah di Baghdad.

Dengan melihat latar belakang keluarga dan kondisi perekonomiannya, nama besar Imam Al Ghazali terukir indah tentu bukan tersebab status dan strata sosial yang tinggi. Akan tetapi kemasyhuran Al Ghazali dikarenakan sejumlah besar karya tulis ilmiah yang dihasilkan dari proses pencurahan ide-gagasan, pemikiran serta kritik keilmuannya dalam berbagai buku dengan bermacam cabang ilmu yang populer. Diantaranya adalah: Ihya’ Ulumuddin, Tahafutul Falasifah, Bidayatul Hidayah, Al Mankhul, Al Makmun, Al Basith, Al Wasith, Al Wajiz dan masih banyak lagi karya dalam bidang ilmu fiqh, ushul fiqh, ushuluddin, filsafat, mantiq, hikmah dan keilmuan lainnya. Menurut para ulama’ karya Al Ghazali mencapai 200 buah buku.

Ilustrasi di atas tentu bukanlah sebagai target dan tujuan dalam refleksi yang penulis maksud, namun setidaknya akan menjadi motivasi dan pemantik untuk memulai kesadaran sebagai manusia yang dianugerahi akal pikiran. Sehingga potensi nalar logika yang tersemat akan memacu niat dan semangat dalam melangkah, walaupun sekecil apapun. Lalu bagaimana atau dari mana kita mengawali langkah ??? Berikut beberapa tahapan dan langkah kecil sebagai ikhtiyar praksis dalam membangun kesadaran literasi, yaitu:

Pertama, membuat catatan.

Sebagaimana Al Ghazali lakukan, bahwa catatan adalah cara awal memulai langkah membangun kesadaran literasi. Semua informasi atau data (ilmu pengetahuan) yang berasal dari sumber terpercaya (guru) dicatat sedemikian rupa, sehingga sang imam dapat mempelajari bahkan menghafalkannya setelah pulang ke kampung halamannya.

Duplikasi data atau informasi juga dilakukan oleh Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, ketika berada di Madinah untuk belajar langsung pada pengarang kitab Al Muwatho’, Imam Malik bin Anas. Atas bantuan gubernur Madinah tersebut Asy Syafi’i mendapat rekomendasi untuk bertemu dan belajar bersama Imam Malik dan sebagai gantinya dia bekerja di perpustakan provinsi, menyalin dan menulis ulang dengan tangan terhadap berbagai buku untuk diperbanyak. Demikian dilakukan Imam Syafi’i hingga tahun 179 H tatkata sang guru, Imam Malik meninggal dunia.

Tahap ini akan berhasil manakala didahului oleh proses pencarian data/ informasi atau reseach, baik melalui observasi pengamatan langsung, interview dengan sumber, maupun membaca karya-karya penulis terdahulu.

Jadi, mulai sekarang buatlah catatan, sekecil apapun atau tentang apapun !!!

Kedua, mengolah ide-gagasan.

Berbekal catatan tentang ceramah dan kuliah sang guru, Al Ghazali kemudian mempelajari seluruhnya bahkan sampai menghafalkannya. Fokus pada satu bidang kajian yang dipilih sangat dianjurkan, sebab kemampuan menyerap seluruh data atau informasi setiap individu berberda-beda, atau adanya minat khusus pada satu bidang kajian secara serius hingga menjadi spesialis. Imam Nu’man bin Tsabit atau Abu Hanifah awalnya rajin belajar hingga menguasai ilmu kalam (teologi), kemudian disarankan oleh sang guru Syaikh Hammad bin Abi Sulaiman untuk fokus pada kajian keilmuan fiqh, sampai Imam Abu Hanifah lebih menonjol keahlian di bidang ilmu tersebut.

Begitu juga berbagai data atau informasi yang telah terkumpul dan tersimpan dalam catatan untuk selanjutnya dipilih satu paling penting dari yang penting, paling relevan dari yang relevan,  dan paling aktual dari yang aktual.

Secepatnya fokuskan perhatian pada satu hal saja !!!

Setelah ditentukan data atau informasi yang dirasa paling penting, relevan atau aktual. Langkah selanjutnya adalah mengeksplorasi ide-gagasan seluas dan sebanyak mungkin dengan cara: memperbanyak sumber bacaan, mendengar segala informasi terkait pembahasan, serta mendiskusikannya baik secara nyata dengan orang lain atau diskusi imajiner. Berbagai data dan informasi dipertemukan, dibandingkan dan dimenangkan atau dikalahkan, sehingga akan dipilih bargaining position (posisi tawar), dengan kata lain menentukan sikap sebagai pihak yang pro atau kontra pada permasalahan tersebut.

Segeralah menentukan sikap, jangan bermuka dua !!!

Ketiga, menuangkan dalam tulisan.

Al Ghazali menulis kembali hafalan akan ceramah dan kuliah Imam Al Haromain dalam berbagai tulisan, di mana dia melancarkan kritik tajam terhadap pendapat-pendapat yang dipandang telah menyimpang, sambil mengajukan jawaban-jawaban atasnya. Tulisan tersebut kemudian diajukan ke Imam Haromain sebagai gurunya, untuk mendapat masukan dan bimbingan dalam berbagai bidang keilmuan.

Sebagaimana Imam Asy Syafi’i, semenjak masih di Gaza dan Asqolan hingga sampai di Makkah dia sudah mempelajari dan menghafalkan semua isi kitab Al Muwatho’ karangan Imam Malik yang populer di waktu itu dan sangat dikaguminya. Setelah mengadakan perjalanan ilmiah ke Baghdad, Asy Syafi’i menulis buku yang terkenal Al Hujjah (argumentasi) terdiri dari satu jilid tebal, berisi pendapat-pendapatnya terkait hukum yang kemudian hari dikenal banyak orang dengan Qoul Al Qodim.

Ambil kertas dan pena, kemudian menulislah !!!

*Naskah tulisan dipublikasikan sebagai materi pelatihan menulis dalam acara bertema “Pesantren Literasi”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.