Home / Esai / Mempertahankan Aswaja Indonesia di Tengah Himpitan Hegemoni

Mempertahankan Aswaja Indonesia di Tengah Himpitan Hegemoni

Oleh: Muhtadi ZL*)

Merebaknya sekte-sekte di kalangan umat Islam menjadi kekhawatiran bagi para ulama dan memilih merekonsiliasi ajaran yang sudah heteredoks dari ajaran Nabi Muhammad Saw. dalam menyebarkan agama Allah Swt. Sehingga dari upaya ini bisa membuat orang-orang yang telah zindik kembali memeluk Islam secara rohani. Oleh karenanya, dari semakin banyaknya kelompok-kelompok yang sudah menyebar sampai ke seantero dunia membuat para ulama dan ahlul bait melakukan banyak cara untuk memproklamirkan kembali ajaran Nabi termasuk dengan salah-satunya menuliskan ke dalam bentuk literatur yang mudah dipahami.

Aliterasi dari merebaknya sekte-sekte yang memiliki paham heteredoks muncul paska wafatnya Nabi Muhammad Saw. hal ini terjadi karena adanya beberapa latar belakang di antaranya sifat fanatik suatu golongan atau kaum kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a yang dikultuskan seharusnya menjadi penerus Nabi kala itu. Karena dengan adanya kongkalikong politik di dalamnya, akhirnya banyak golongan yang fanatik Ali bin Abi Thalib r.a memilih jalan lain untuk menyakinkan kebenaran pribadi bahwa pilihannya sudah klop dengan realitas yang ada.

Ekspansi paham-paham sesat telah menyisir ke berbagai kalangan, terlebih bagi kalangan konservatif yang sama sekali tidak mengerti atau baru “belajar” ajaran Islam. Pada dasarnya, ajaran ini dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi, karena masih dalam pengkaderan, sehingga untuk melakukan proklamasi tentu sangat sedikit persentase diterima mengingat gerakan yang lumrah dilakukan adalah dengan kekerasan. Dengan presisi yang apik dalam berkonspirasi untuk menemukan konvensi atau implikasi yang tidak terindikasi, maka menggunakan nash-nash qot’i menjadi jalan mudah ketika melakukan mobilisasi penyebaran paham sesat.

Dari keprihatinan inilah, bukan saja ulama Hijaz (Arab) yang juga melakukan gerakan dengan menulis untuk menuangkan gagasan sebagai bendungan dalam menangkal paham sesat, ulama dan kiai Nusantara juga mengalami dilema serius ketika harus berhadapan dengan aliran-aliran yang berdasarkan nash qot’i ataupun dzanni yang didistorsi. Termasuk di antaranya—yang masih bisa kita baca karangannya—K.H. Hasyim As’ary, ulama Nusantara pejuang kemerdekaan dan akidah, juga turut serta dalam merekonstruksi paham sesat yang terus merebak sampai tidak tahu di mana ujung  pangkalnya. Pendiri Organisasi Masyarakat (Ormas) terbesar di Indonesia ini banyak menguraikan ajaran ahlussunnah wal jamaah melalui kitabnya Risalah Ahlussunnah wal Jamaah sebagai pegangan hidup kaum muslim, khususnya di Indonesia sebagai negara pluralisme.

Kitab tersebut bisa membuat kita mengetahui karakteristik ajaran Aswaja sehingga mawas diri untuk tidak mengikuti sekte-sekte yang menyimpang dari ajaran Nabi, meskipun mengatasnamakan ahlul bait sangat penting untuk melakukan klarifikasi dan verifikasi sebagai pengejawantahan untuk membenarkan dogma yang dianutnya. Dengan begitu, sangat dimungkinkan kita bisa terhindar dari ajaran sesat yang tidak sesuai dengan fitrah Islam.

Apalagi—Mbah dari K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur—menjelaskan munculnya orang-orang sesat atau bid’ah di Indonesia. Dengan pendekatan komparatif melalui nash-nash dan hadist, menjadi pegangan hidup agar kita tidak terjarah ke dalam revisbilitas sekte-sekte revionis yang pada akhirnya menceburkan kita ke dalam jahannam.

Hal fundamental yang membuat munculnya paham sesat berawal dari ketidakhati-hatian dalam menuntut ilmu. Poin ini menjadi pegangan kokoh para ulama kepada santrinya (murid) dalam belajar. Keprihatinan para ulama dalam mendidik santrinya selalu menekankan kewaspadaan agar tidak mudah terjarah sekte-sekte yang tidak sesuai Aswaja.

Aswaja yang ditawarkan ulama nusantara memiliki ciri khas yakni tidak memberatkan penganutnya. Inilah mengapa Aswaja nusantara memiliki penganut yang cukup dominan, sebab tawaran yang dihidangkan tidak memaksa individu. Kebijakan ini tentu melalui kontemplasi dan ikhtiyar agar  dikemudian hari tidak menyesatkan penganutnya. Ketelatenan ulama nusantara dalam membimbing dan membina umat di Indonesia tidak perlu diragukan lagi, dengan ke istiqamahan yang optimal dan maksimal mampu menjaga Bhineka Tungggal Ika yang tak lain adalah sampel Islam Nusantara. 

Kebersamaan dan saling mendukung menjadi sebuah fondasi awal mempertahankan tali ukhwah,  bukan hanya itu, saling percaya juga turut dierami oleh ulama nusantara dalam menjaga Bhineka Tunggal Ika. Inilah mengapa Aswaja di Indonesia kerap menjadi cermin oleh semua aliran. Tidak heran bila negara seluas Indonesia mampu dipertahankan dengan ikatan yang solid berlandaskan keyakinan yang padu dan seragam.

Aswaja di Indonesia, meski memiliki banyak macam, tetap mempertahankan kebersamaan dan saling mendukung, sehingga dari hal tersebut sangat mungkin terhindar dari perpecahan yang akan berdampak pada kekokohan keberagaman. Walaupun tidak sedikit individu yang juga keluar dari Aswaja Indonesia “barangkali” tidak sesuai dengan Aswaja yang diajari Nabi atau ulama sesudah Nabi. Akan tetapi perlakuan Aswaja yang “dianggap” berbeda tersebut tetap tidak mematahkan semangat individu yang sudah lekat dan erat memeluk Aswaja yang sudah dianggap klop oleh ulama terdahulu.

Maka dari itu, dengan adanya modifikasi yang cukup fleksibel mampu membuat aswaja di Indonesia disegani dan ditoleri. Sebab ketidaksamaan dengan Aswaja yang diajarkan Nabi menjadi kata kunci yang tetap menjadi prioritas dalam menjaga ukhwah islamiyah. Tidak heran dengan Aswaja yang ditawarkan oleh ulama dulu, mampu membuat pemimpin negara barat dan timur kagum terhadap Indonesia yang mampu menjaga toleransi di tengah himpitan hegemoni, kapitalis, dan pluralitas.

Pada intinya, Aswaja di Indonesia memiliki substansi yang sama dengan Aswaja yang diajarkan Nabi. Meskipun secara praktik “tidak begitu” sama dengan yang sudah dianut oleh ulama terdahulu. Tetapi secara hakikat, esensi Aswaja di Indonesia tetap mendukung ajaran Nabi hanya saja dimodifikasi sedemikian rupa agar sesuai dengan iklim yang ada di Indonesia. Hal tersebutlah yang mengokohkan Aswaja di Indonesia tampak berbeda dengan Aswaja pada umumnya. Adanya ketidaksamaan tersebut mampu menjadi sebuah dorongan baru untuk saling menghormati dan menghargai dengan tetap menjaga ukhwah islamiyah dan ukhwah wathoniyah. (*)

*) Muhtadi ZL, pernah Belajar di Yayasan Pendidikan Islam Nurul Mannan dan berlanjut nyantri di PP. Annuqayah daerah Lubangsa serta Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika). Pengurus Perpustakaan Lubangsa, Ikatan Santri Annuqayah Jawa (Iksaj) dan Komunitas Cinta Nulis (KCN)

Check Also

Melahirkan Cinta Pancasila Seutuhnya

Share this on WhatsApp Oleh: Hamidulloh Ibda*) Dalam kamus pemuda, cinta yang bertahan lama adalah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.