Home / Esai / Membangun Peradaban Bangsa dengan Cinta

Membangun Peradaban Bangsa dengan Cinta

Oleh : Idammatussilmi*)

Sudah dua pekan terakhir, setiap menjelang tidur saya selalu terpikirkan dengan  kata mahabbah. Kata yang selalu terngiang dalam kepala dengan beberapa antrian pertanyaan dalam pikiran. Mencari jawaban atas pertanyaan yang terus menghantui, saya termenung sejenak dengan merenungi kondisi yang ada sekarang.

Kita berada pada era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 di mana manusia dihadapi dengan kemajuan sains dan teknologi yang begitu pesat. Ya, beginilah, manusia menjadi jauh dari Tuhan dengan adanya ciptaan-ciptaan sains yang canggih.

Menurut Sayyed Hossein Nasr, zaman modernitas telah menyuguhkan situasi yang sedemikian rupa sehingga manusia lose kontrol yang terperosok dalam posisi terjepit membawa kehancuran manusia. Maka, untuk menanggapi hal tersebut perlu adanya konsep spiritual yang bisa menghantarkan manusia beralih sudut pandang akan hukum positivistik menjadi transedental spiritual.

Mahabbah atau cinta menjadi sumber nilai-nilai spiritual yang sudah mulai redup di zaman modern ini. Mahabbah merupakan suatu bentuk luapan cinta kasih kepada sang pencipta, yang dilakukan dalam setiap waktu, setiap kegiatan setiap nafas yang kita keluarkan.

Mahabbah dilakukan oleh para wali, sufi sebagai wujud kesetiaan kedekatan dengan sang pencipta. Menurut pendapat dari Al-Jurnaid mahabbah merupakan masuknya sifat-sifat kekasih pada sifat-sifat yang mencintainya. Jadi, mahabbah menjadi suatu yang menghantarkan jiwa untuk mencintai Allah semata di hatinya, dengan sebuah perjuangan dan pengorbanan untuk mencapai cintanya, sehingga sifat-sifat cinta masuk dalam diri yang mencintai.

Melihat segi kehidupan yang sekarang manusia hanya fokus pada semua hiruk-pikuk problem keseharian. Manusia tidak paham akan keberadaan dirinya, tujuan hidupnya bahkan perlakuan kepada sesamanya. Munusia telah gagal dalam mencapai predikat makhluk tertinggi karena mereka tidak memahami bentuk kemanusiaannya.

Jadi, kita sadari bahwa manusia merupakan pelaku yang mencari jalan akan keberadaban dunia. Sejarah pengukiran keberadapan yang kini terbentuk merupakan bukti keberadaan manusia yang dihiasi dengan kehebatan dan keterbatasan. Setiap detik, setiap waktu, tingkah laku yang kita lalui membuahkan bukti sejarah yang akan terus menerus terjadi hingga terbentuk kumpulan cerita akan sejarah manusia.

Jika kita rasakan sekarang keberadaaan manusia sudah mencapai level tertinggi sehingga beberapa kemajuan teknologi kominukasi, dan informasi yang sangat melejit menjadi sebuah bukti. Namun, jika kita amati, apakah bangsa sudah mengalami kemajuan pada era modernisasi sekarang ini? Ataukah sebaliknya bangsa mengalami kemuduran?

Saat ini, bangsa Indonesia belum bersih dari tikus-tikus berdasi yang terus menggerogoti. Beberapa kebijakan pun terus dilakukan guna memusnahkannya, namun pada kenyataanya kasus tindakan korupsi semakin berkembang dan menjamur di masyarakat. Sehingga pada tahun 2020 bangsa Indonesia telah mencetak skor 37 rangking 102 dari 180 negara (kumparanNEWS, 28 Januari 2021, 13:11). Dari kasus tersebut menunjukkan bahwa keberadaan manusia sekarang hanya meluapkan hasrat untuk memperoleh kebahagiaan, tanpa memperhatikan dan merenungkan perilaku diri sendiri untuk mendekatkan diri pada sesama makhluk dan kepada Illahi.

Persaingan gaya hidup terus menjadi-jadi, dunia maya, media sosial dan layanan pesan menjadi asupan sehari hari. Manusia sudah tidak butuh akan kehangatan keluarga dan teman, bahkan sudah merasakan kepuasan akan kenikmatan teknologi yang semakin canggih. Lajunya informasi yang semakin cepat dan tanpa batas memudahkan manusia dalam mengaksesnya. Sehingga, tanpa ada saringan mereka dengan mudah menerima tanpa mengetahui akan kebenarannya.

Nah, meninjau dari hal tersebut kita dapat memetiknya bahwa keberadaan manusia sejatinya dipenuhi dengan hasrat. Hasrat kuat yang dimiliki dapat mengatasi jebakan akan keangkuhan yang di keluarkan oleh diri manusia. Apabila kita pahami secara seksama ulasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa dengan mahabbah sesorang sedang mencari tujuan hidupnya yaitu dekat dengan sang pencipta dalam keadaan apa saja dan di mana saja. Walaupun kita disuguhkan dengan keadaan yang serba modern kita dapat menemukan makna hidup yaitu dekat dengan Allah. Mahabbah kita terhadap Allah tidak akan terikat dengan kata materi  yang dapat mengumbar hawa nafsu birahi.  

Lalu, bagaimanakah implementasi mahabbah untuk peradaban bangsa di era modern ini?

Kehidupan sekarang merupakan zaman serba instan, semua tersedia dengan mudah tanpa membutuhkan tenaga dan usaha untuk mendapatkanya. Kodisi ini menjadi bukti zaman modern dengan derasnya arus globalisasi. Ketergiuran akan suguhan zaman yang mengakibatkan redupnya mahabbah kepada yang pencipta. Menghadapai era serba baru ini manusia akan disuguhkan dengan hal positif dan negative sebagai pilihan untuk bekal menjalani kehidupannya.

Untuk itu, kekuatan yang harus dimiliki sesorang dalam menghadapinya adalah mampu menjalin hubungan dengan Tuhannya dengan kuat. Mahabbah dapat dilakukan dengan tetap mengingat Tuhan dalam keadaan, tekanaan, apapun. Karena pegalaman spiritual banyak diukur denga rasa, kesadaran, dan ketingkat kekuatan hubungan seseorang dengan Tuhannya (Atchley: 2008).

Berbeda dengan mahabbah yang dipraktikan oleh para sufi yaitu, dengan cara ma’rifat seperti berdzikir untuk mengetahui keagungan Allah dengan mengetahui kelemahan pada diri. Praktik mahabbah di era modernisasi ini dilakukan dengan menanggapi suguhan zaman dengan melihat segi positif dan negatinya dengan tetap mengingat Allah dalam setiap tindakan. Manusia harus bisa berkomitmen untuk mencari tujuan hidupnya yaitu bermanfaat bagi lingkungan hidupnya dan mengabdi kepada Allah swt.

Dengan sifat mahabbah atau cinta yang dimilikinya, maka manusia akan selalu berpikir dua kali. Yaitu dengan berpikir secara jernih tanpa hasutan nafsu birahi dalam melakukan suatu tindakan. Sehingga tindakan-tindakan yang menyimpang tidak akan di lakukannya. Generasi bangsa yang memiliki mahabbah dapat membangun peradaban bangsa untuk menuju kesejahteraan dan kedamaian rakyat. (*)

*) Idammatussilmi, lahir di Temanggung 16 Desember 1996. Putri pasangan Mat Syakir dan Sri Dawamah saat ini tercatat sebagai mahasiswa semester 8 Prodi PGMI jurusan Tarbiyah di STAINU Temanggung. Jenjang pendidikan dimulai dari SDN Kemloko, kemudian SMP N 1 Tembarak. Setelah lulus ia melanjutkan mondok di Pesantren Darul Muttaqien dengan melanjutkan sekolah MA di Darul Muttaqin.

Check Also

Meramu Nasionalisme Generasi Milenial melalui Media Sosial

Share this on WhatsApp Oleh : Dwi Zuniati*) Indonesia adalah negara yang kaya akan suku, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.