Home / Esai / Living Aswaja; Upaya Membumikan Tradisi

Living Aswaja; Upaya Membumikan Tradisi

Oleh : Mahmud Yunus Mustofa*)

Ahlussunnah Wal Jamaah merupakan paham yang dianut oleh mayoritas umat Islam di Indonesia. Maka dari itu, pemahaman term Aswaja baik dari sisi Ontologis, Epistemologis bahkan Aksiologis sangat dibutuhkan agar ajaran ini tidak hanya berfungsi secara informatif namun juga peformatif.

Memahami Aswaja membutuhkan pendekatan yang holistik agar dalam memaknainya tidak terkesan oportunis.  Sebagai upaya awal, kita harus melakukan flashback beberapa abad ke belakang untuk melihat sisi historisitasnya secara utuh. Paradigma teologis Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja) bermula dari sintesa atas dialog ekstrem yang berkembang pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, belakangan memunculkan alirah Syiah dan Khawarij. Pertikaian ini melebar dari perdebatan politik hingga ke akidah yang pada akhirnya memunculkan berbagai aliran seperti Murji’ah, Jabariyah, Qadariyah dan Mu’tazilah.

Pada perkembanganya,  muncul pandangan baru yaitu Asy’ariyah yang digawangi oleh Abu Hasan al-Asy’ari dan Maturidiyah yang diinisisasi oleh Abu Mansur al-Maturidi. Paradigma ini muncul sebagai jawaban dari pandangan-pandangan sebelumnya yang terlalu radikal dalam menggunakan logika (Mu’tazilah), tidak mempercayai akan adanya kuasa manusia atas apa yang dialaminya (Jabariyah), atau bahkan mempercayai bahwa manusia mampu menciptakan kehendaknya sendiri (Qadariyah). Aswaja kemudian menjadi term dari sebuah pandangan yang mengambil posisi tengah (tawassuth) sebagai logika berpikirnya.

Secara sederhana Aswaja bisa difahami sebagai manhaj al fikr dengan logika berpikir yang diajarkan oleh Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi. Pada tataran tasawuf paham ini mengikuti Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam Ghazali sebagai pegangannya. Pada ranah fiqih, tentu madzahibul arba’ah sebagai pedomanya. Selain itu, faham ini tidak hanya mengedepankan aspek tekstual (Bayani) maupun logika (Burhani) semata, melainkan juga mengedepankan sisi intuitif (Irfani) sebagai penyeimbangnya. (M. Kholid Thohiri: 2019)

Faktanya, Aswaja dipegang oleh mayoritas umat muslim di Indonesia. Hal ini harus dipahami tidak hanya dari segi kuantitatif namun juga kualitatif. Lantas dengan kuantitas yang dimiliki, seberapa Aswajakah kita? Ini yang harus menjadi refleksi bersama. Jangan sampai Aswaja kita tidak berkualitas dan hanya sekedar euforia.

Aswaja dalam Kajian Teks

Pemaknaan Aswaja dan interpretasinya dalam kehidupansehari-hari, harus dipahami sebagai gejala sosial-budaya yang bisa dilihat dari kacamataa sosiologis-antropologis.Pemahaman Aswaja yang sudah mendarah daging di masyarakat Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari peran teks-teks yang ada. Setidaknya ada 3 kitab yang bisa dijadikan dasar dalam hal ini

Kitab pertama adalah Risalah Ahlussunnah Wal Jamaah gubahan Hadrotus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari. Kitab ini menjadi kajian wajib di pesantren dan dijadikan referensi bagi siapa saja yang ingin memahami Ahlussunnah Wal Jama’ah. Karya ini menjadi rujukan untuk memahami ikhtilaf antara ibadah dan tradisi serta sunnah dan bid’ah secara lebih terperinci.

Ada juga kitab Al-Kawakib Al-Lama’ah karangan KH. Abu Fadhol Senori. Kitab ini menjadi rujukan penting dalam memahami Aswaja karena disajikan secara sederhana dan lugas. Menurut Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, kitab ini bisa dijadikan fondasi dan dasar untuk memahami epistemologi Aswaja secara utuh. (nu.or.id)

Selanjutnya Kitab Hujjatu Ahlussunnah Wal Jamaah karya Kyai Ali Ma’sum Krapyak. Kitab ini ditulis dengan sistematis, membahas berbagai macam tema terkait khazanah Aswaja. Melalui kitab ini kita disuguhkan kedalaman ilmu penulis yang begitu kentara menguasai kajian Madzahibul Arba’ah dan ilmu Hadist. Sebenarnya masih ada lagi beberapa kitab yang bisa menajdi rujukan dalam memahami Aswaja. Namun, setidaknya 3 karya ini sudah mampu mewakilinya.

Living Aswaja dalam Kacamata Antropologis

Berdasarkan uraian di atas, sedikit banyak kita memiliki gambaran bahwa pemahaman tentang keaswajaan yang dipahami selama ini berasal dari teks-teks keagamaan gubahan dari para masyayikh. Secara antropologis, pemahaman Aswaja ini ditransformasikan melalui produk-produk keagamaan seperti kitab, syiir ataupun tradisi yang salah satunya diajarkan di pondok pesantren di Indonesia. Melalui media tersebut, Aswaja mampu diinternalisasikan dalam berbagai macam sendi-sendi kehidupan.

Meminjam teori resepsi (Rafiq: 2014) yang biasa digunakan dalam studi Living Hadist /Living Qur’an. Setidaknya teori ini memiliki 3 bentuk, yaitu resepsi exegesis yang berkaitan dengan tindakan menafsirkan, resepsi estetis yang berarti meresepsi pengalaman ilahiyah melalui cara-cara estetis, dan yang terakhir adalah resepsi fungsional yang memperlakukan teks dengan tujuan praktikal.

Melihat hal ini, setidaknya Aswaja yang dipahami oleh warga Nahdliyyin khususnya di Indonesia bisa dikatakan berada pada ranah resepsi fungsional. Konsep Aswaja yang diajarkan oleh para masyayikh dalam karya-karnyanya tidak hanya berfungsi secara informatif melainkan juga performatif. Fungsi informatif ini bisa kita lihat dalam kajian-kajian yang dilakukan di pesantren, sekolah, kampus maupun lembaga pendidikan lainya yang menempatkan kitab ini sebagai bagian dari bahan diskusi dan sumber informasi.

Selanjutnya fungsi yang kedua yaitu performatif, hal ini bisa dilihat dalam tradisi-tradisi yang ada di masyarakat seperti tahlilan, mauludan, wiridan dll. Hal ini yang seharusnya kita jaga agar tradisi-tradisi yang sudah ada terus eksis dan berkembang. Sehingga peran kitab dalam kedua fungsi ini kemudian penulis pahami sebagai Living Aswaja.

Living Aswaja sebagai upaya pembacaan terhadap teks-teks yang ada untuk kemudian diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Meminjam istilah Barbara Metcalf (1993) upaya ini apa yang ia sebut sebagai live by, di mana warga Nahdliyyin menggunakan teks ini sebagai dasar dari penggunaan tradisi. Alhasil, kemudian teks-teks tersebut mampu hidup dan bisa didengar (heard text).

Maka dari itu, menjadi hal yang lumrah jika  masyarakat Nahdliyyin yang sekalipun sudah melakukan tradisi bertahun-tahun seperti manakiban, tahlilan, ziarah dan lain sebagainya, terkadang bingung jika ditanya teks-teks dalilnya. Hal ini secara argumentatif bisa dikatakan bahwa eksistensi teks-teks tersebut  sudah berdialog dan terserap dalam tradisi yang ada. Sehingga keduanya seakan sudah menjadi entitas yang menyatu.

Pada akhirnya, kita bisa melihat bahwa kekuatan teks-teks tersebut sudah terserap dalam berbagai sendi kehidupan yang tercermin dalam tradisi-tradisi Aswaja. Namun, tradisi ini agaknya sekarang mendapatkan tantangan yang begitu besar. Globalisasi dan arus modernisasi menjadi aktor utamanya. Tentu jika tidak disikapi dengan bijak, bukan tidak mungkin tradisi yang ada akan menjadi tereduksi bahkan tidak akan ditemukan lagi. Menarik bukan? (*)

*) Mahmud Yunus Mustofa, mahasiswa Program Pascasarjana UIN Walisongo Semarang. Mendapat amanat beasiswa Doktor dari LPDP Santri 2019 dan aktif di perkumpulan Griya Peradaban. Selain sebagai mahasisiswa penulis juga sebagai tenaga pengajar di PP An-Nahdliyah Batang. Pernah berkesempatan menjadi speaker pada Muktamar Santri tahun 2018 di PP Al-Munawir Krapyak Jogja. Sekarang aktif sebagai penulis lepas dan masih melakukan kajian dalam bidang Islam dan Budaya. Penulis bisa disapa melalui IG @kang_yunuss atau WA 081 228 847 661.

Check Also

Mushalla Bangkit; Menyusuri Jalan Liku Kiai Kampung

Share this on WhatsApp Oleh: Misbahul Ulum*) Selepas jama’ah shalat Isya’ terlihat mulai berdatangan orang-orang …

2 comments

  1. Sebagai sebuah upaya living Al Qur’an dan Hadis juga kiranya, sebagai sebuah bentuk pemahaman Islam yang moderat, bersahabat, dan tentunya bermartabat

  2. Mangtap kader satu ini, tulisannya jossss … semangat dek nunu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.