Ladang Kaderisasi, Musim Semi Mapaba PMII

0
17

Oleh : Fuad Fahmi Latif, Pengurus Cabang PMII Jepara. Sedang menyelesaikan Studi Magister Manajemen Pendidikan Islam di Unisnu Jepara.

Menjadi sebuah keniscayaan kader-kader pergerakan sebelum dibaiat mengucap sumpah janji setia dan patuh, dinyatakan sebagai anggota organisasi, maka mereka harus ditempa beberapa materi kurikulum organisasi, melalui diskursus keilmuan yang menjadi jendela berfikir dan landasan bergerak, lewat pintu masuk yang namanya MAPABA (masa Penerimaan Anggota Baru).

Alhamdulillah pada tahun ini hampir setiap rayon di bawah kendali Komisariat Sultan Hadlirin Unisnu yang terus mendapat pemantauan dari Pengurus Cabang Jepara mengalami kenaikan jumlah kuantitasnya, tercatat Mulai Rayon Tarbiyah dan Ilmu Keguruan ada 130 peserta, Rayon Syariah Hukum dan Dakwah 123 peserta, Rayon Kartini 53 peserta, sedangkan Rayon Ratu Shima yang terkenal dengan fakultas Eksaktanya minggu depan baru akan menggelar Mapaba pada tgl 11-13 Oktober mendatang.

Meskipun bisa dikatakan tunas-tunas muda PMII di Unisnu terjadi kenaikan kuantitas secara masif, namun belum tentu ada jaminan dalam segi kualitas terjadi pertumbuhan, semua akan dikembalikan pada penguatan pendampingan, konsistensi gerakan dan sistem tata kelola organisasi yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa hari ini.

Mau tidak mau pola kaderisasi harus bisa disesuaikan dengan tantangan zaman yang semakin berubah, kalau dari dulu PMII adalah basis ediologisasi intelektual, kaya wacana literasi dan gerakan analisis sosial, hari ini tentu strategi transfer knowledgenya harus lebih menarik, kreatif, inovatif dan ditaburi bumbu-bumbu ala anak muda kekinian (milenial), menawarkan modifikasi harakah yang progresif, tidak jumud dan selalu memegang prinsip-prinsip Nilai Dasar Pergerakan. ini semua sesuai spirit Qoidah “al-muhafadhah ‘alal qadim al-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah wal ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah, seperti maqolah KH. Ma’ruf Amin.

Menurut penulis mahasiswa-mahasiswa Unisnu ikut gabung di PMII adalah suatu keharusan, selain notabene Unisnu kampus NU, kader-kader muda Nahdlatul Ulama Jepara juga banyak dilahirkan di sini.

Kalau tidak lewat PMII lalu dari mana mereka mengenal Nahdlatul Ulama’, tahu siapa Ulama’nya, panutan-panutannya, guru-gurunya, tujuan PMII didirikan, dan Filosofi historis lahirnya Nahdlatul Ulama’ yang sekarang dijadikan jangkar persatuan hidup berbangsa, dan yang paling urgen Nahdlatul Ulama’ sebagai prototype moderasi Islam di dunia.

Ini semua tentu saja untuk mengimbangi kelompok-klompok jaringan ektremisme yang ediologinya berinseminasi lewat saluran mahasiswa, tentu menghawatirkan bukan ketika Mahasiswa yang disebut sebagai agent of change (agen perubahan) otak mereka dicuci oleh faham radikal yang cenderung meretakkan sendi-sendi persatuan kesatuan bangsa.

Lewat Islam Wasatiyyah Nahdlatul Ulama’ yang mengkomparasikan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan saya yakin Insyaallah Islam yang dulu pernah berjaya sebagai pusat kemajuan peradaban dunia, sekarang akan dapat direbut kembali lewat pintu yang namanya Indonesia, Islam yang ada di Nusantara. wallahua’lam bissawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.