Kiai Muda, Potensi dan Visi Memimpin NU Jambu Timur

0
37
Ketua PR NU Jambu Timur, Hasan Khaeroni.

nujepara.or.id – Nama lengkapnya adalah Hasan Khaeroni, alumni pesantren Kotagede dan tamatan salah satu perguruan tinggi negeri, yang mana kedua lembaga tersebut ada di kota Yogyakarta. Kelahirannya pada akhir tahun 1980-an namun telah memiliki kapabilitas dan kualitas leadership, sekarang ini dia dipercaya menahkodai ormas keagamaan besar dengan menjadi Ketua Tanfidziyah Nahdhatul Ulama Ranting Desa Jambu Timur Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara.

Selepas menyelesaikan studi strata satunya, tokoh muda ini pulang kembali ke Jepara tempat kelahirannya, totalitas dan loyalitas adalah prinsip hidupnya dalam pengabdian pada masyarakat. Terbukti, pada pertengahan tahun 2007 dia bersama beberapa kolega serta dukungan penuh keluarga besar Bani Ma’ruf, secara bertahap merintis berdirinya Pesantren Az Zahra yang berada dalam satu kompleks dengan SMP Az Zahra Sekuro Mlonggo yang telah dua tahun ada sebelumnya.

Wacana dan pemikirannya mampu menembus sekat tradisi dan budaya, hal itu tampak dalam usahanya  di awal perintisan pesantren dengan konsep Az Zahra Boarding School (ABS). Sebuah lembaga keagaaman yang melengkapi lembaga formal SMP, di mana prinsip integrasi dan interkoneksi benar-benar diterapkannya. Yaitu, kombinasi pendidikan dengan keilmuan formal dan penguasaan ilmu agama yang cukup dalam satu sistem pendidikan, sehingga peserta didiknya adalah personal dengan potensi lengkap sebagai generasi yang memiliki basis pengetahuan global serta mempunyai akhlakul karimah berdasarkan ajaran agama Islam.

Istilah boarding yang masih asing di telinga masyarakat kala itu sempat menjadi polemik kecil, banyak pertanyaan dan tuduhan yang cenderung menghakimi baik secara halus maupun terang-terangan. Konsistensi dan kegigihannya mempertahankan konsep lembaga ABS hampir mempengaruhi arah dan misi pengabdiaanya, namun secara pelan dan pasti serta support semua pihak, konsep lembaga pendidikan ABS menjadi trend baru di wilayah Jepara beberapa tahun kemudian, sebagaimana mulai bermunculan lembaga serupa dengan nama dan spesifikasi keilmuan yang berbeda-beda tentunya.

Setahun pasca perintisan ABS, kiai muda tersebut melanjutkan pengabdian keilmuannya dengan mendirikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai jenjang lanjutan pendidikan formal dan tetap terintegrasi dengan sistem pendidikan ABS sampai sekarang. Kesibukan dan beban tanggung jawab di lembaga formal tidak lantas menutup jaringan sosialnya, mulai pendampingan kepemudaan dengan sarana seni hadrah sampai ikut berperan aktif dalam pengelolaan masjid setempat. Hingga akhirnya dia pun dipercaya menjadi ketua tanfidziyah sebagai leader penggerak organisasi Nahdhatul Ulama di desa kelahirannya, insyaallah akan diresmikan pada 25 Maret 2020 dalam acara pelantikan oleh Pengurus Cabang NU kabupaten Jepara.

Sedikit pemaparan kiai muda tersebut tentang visi programnya dalam suatu kesempatan wawancara, bahwa hidup di dunia adalah sarana menebarkan kemanfaatan yang salah satu diantaranya “intisyarul ‘ilmi wal khoiri”, baik dalam kedudukan kita sebagai personal maupun secara komunal.

Nahdhatul Ulama memiliki peran strategis guna mewujudkan visi kemanfaatan itu, sebab organisasi tersebut mempunyai basis anggota serta pengikut di pedesaan sebagai inti terkecil dari masyarakat. Maka seyogyanya, NU harus mampu menjadi muharrik atau penggerak yakni mendorong seluruh komponen masyarakat untuk berdaya manfaat pada sesama.

“Sekedar contoh, bagaimana Lazisnu di tingkat ranting tidak hanya menjadi lembaga pengumpul zakat dan sedekah, akan tetapi membina dan meningkatkan pengetahuan fiqih para pengusaha serta kesadaran berzakat mereka, pada akhirnya konsep distribusi kekayaan dan harta dapat dirasakan kemanfaatannya oleh masyarakat,” imbuhnya.

Tentu layak untuk ditunggu pasca pelantikan Pengurus Harian Nahdlatul Ulama Ranting Jambu Timur pada hari Rabu besok (25/3/2020), dengan segala potensi kiai yang akrab dipanggil Mas Roni tersebut untuk memimpin organisasi NU yang inovasif serta usia muda yang energik.

Hal ini juga menjadi barometer kaderisasi yang baik akan melahirkan penyegaran suasa di dalam internal organisasi. Kombinasi keteguhan kalangan tua dan pemikiran maju generasi mudanya menjadikan NU tidak hanya besar secara jama’ah saja, namun besar juga aspek organisasi atau jam’iyah. (mu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.