Home / Berita / Khutbah Idul Fitri 1442 H – Idul Fitri di Masa Pandemi

Khutbah Idul Fitri 1442 H – Idul Fitri di Masa Pandemi

Shalat dengan jaga jarak. (https://www.pikiran-rakyat.com)

Oleh : Achmad ZainuddinKepala MTs Walisongo Pecangaan, Pengurus Bidang Dakwah PRNU Rengging, dan Pengurus MWCNU Pecangaan bidang Pergunu

اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) اللهُ أَكْبَرُ (×٣) وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْراً، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ، لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَاإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ.

الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ االدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَمَّا بَعْدُ .فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِناَتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral muslimin wal muslimat jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,

Di pagi yang penuh kebahagiaan dan keberkahan, setelah satu bulan bersama Ramadhan, Idul Fitri pun tiba dalam kesucian dan ketakwaan. Hari di mana takbir berkumandang, semua diliputi rasa bahagia dan senang, setelah satu bulan di madrasah Ramadhan kita berjuang. Berjuang menahan haus dan dahaga, mengekang hawa nafsu yang membara, dan mendekatkan diri pada Yang Kuasa. Semua itu mampu kita lewati dengan penuh keikhlasan hati, untuk meraih ridha ilahi. Tentunya semua ini haruslah senantiasa kita syukuri sebagai hamba Allah yang tahu diri. 

Covid-19 sampai sekarang masih mewabah di Indonesia bahkan di dunia. Di Jepara saja per tanggal 9 Mei, kami mencatat terkonfirmasi ada 7.423 orang, dirawat saat ini 29 orang, isolasi 229 orang, yang dinyatakan sembuh ada 6.697 orang dan meninggal 468 orang. Dan Alhamdulillah Jepara saat ini masuk kategori zona risiko rendah menduduki peringkat tertinggi Amerika di susul India yang masing-masing 32,7 Juta dan 21,9 Juta kasus.

Covid-9 yang saat ini telah masuk tahun yang kedua artinya dua kali puasa dan dua kali lebaran kita merayakan suasana Idul Fitri dalam kondisi pandemik Covid-19. Virus ini menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga tahap flu berat. Penyebarannya massif dan sistemik hingga berdampak pada ratusan negara yang ada di dunia, khususnya negara Indonesia. Telah banyak orang yang terpapar hingga diisolasi dan ada yang sampai meninggal dunia, mendekam di penjara karena diduga melanggar protokol kesehatan, bahkan juga berdampak terhadap tatanan perekonomian, hukum, politik dan tata kelola Pemerintahan, serta cara berinteraksi sosial masyarakat dan ibadahnya.

Covid-19 adalah musibah terbesar di abad ini, di balik musibah itu sudah barang tentu ada kandungan hikmah yang luar biasa dahsyatnya, jauh lebih dahsyat daripada sisi musibahnya. Virus ini secara tiba-tiba menyentak batin manusia, mengharubiru kemanusiaan kita, dan menyadarkan kita bahwa virus ini mudah sekali menular dan mematikan. Sudah barang tentu banyak pelajaran dengan adanya wabah ini, salah satu yang utama dan terpenting yaitu dalam rangka memperbaiki hubungan kita kepada Allah SWT, dan memperbaiki kehidupan untuk melangkah ke arah yang lebih baik di bawah diridhai-Nya.

Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini atas kehendak dan takdir-Nya, tidak ada yang sia -sia. Tentu ada maksud dan hikmah yang terkandung dalam peristiwa pendemik yang sampai hari ini belum ada tanda-tanda akan lenyap seketika. Sebagai orang yang menyakini rukun Iman tentu wajib mempercayai adanya ketentuan Qadha dan Qadar. Kita hanya mempercayai dan mencari tahu hikmah atas segala apa yang telah Allah takdirkan dan melihatnya dengan kacamata keimanan, dan sambil rmerenungkan firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 269 berikut ini :

يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Artinya: “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil Hamd, Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah.

Allah SWT, menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan sebagus-bagus akal. Bagi orang yang berakal wajib untuk berpikir dan mengambil hikmah yang terjadi dan tersembunyi di balik adanya segala sesuatu peristiwa. Ketika kita kaitkan wabah Covid-19 dengan Idul Fitri, maka akan terungkap setiap manusia harus kembali kefitrahan yang sesunguhnya. Momentum Idul Fitri di masa pandemik virus Corona sebagai alarm pengingat bagi umat Islam untuk kembali ke fitrahnya sebagai seorang hamba dan khalifah di bumi ini. Menurut pandangan Islam setiap manusia yang lahir di muka bumi ini dalam keadaan fitrah yakni asal kejadian yang suci dan murni, sebagamana bunyi hadis berikut :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra, dia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi -sebagaimana hewan yang dilahirkan dalam keadaan selamat tanpa cacat.”

Covid-19 ini telah mengingatkan, menyentak dan melimbungkan pikiran dan kesadaran umat manusia. Bertambahnya orang miskin baru karena pemutusan hubungan kerja (PHK), kebangkrutan bisnis yang sedang dijalani, tiba-tiba membengkak jumlahnya. Aktivitas berubah, menjadi serba virtual, baik itu bekerja, metting, perkuliahan, sekolah, berdakwah dan banyak aktivitas publik lainnya. Mengubah budaya dan kebiasaan yang sudah terbangun lama dalam kebudayaan manusia di dunia.

Situasi dan kondisi memprihatinkan ini, menjadi bahan perenungan mendalam (tafúkur) baik sebagai umat Islam dan sebagai warga negara. Pandemik ini harus menjadi momentum untuk peningkatan kwalitas sebagai hamba Tuhan. Allah SWT, memberikan anugerah Islam sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam menjemput keselamatan baik di dunia dan akhirat. Apabila muaranya adalah takwa dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan, maka hari raya Idul Fitri dan hari-hari berikutnya idealnya bersenyawa sebagai sikap hidup seorang Muslim, untuk melawan dampak yang ditimbulkan dari Covid-19, yaitu dengan cara memberantas kemiskinan melalui amal berbentuk zakat, infaq dan sedekah, melawan perilaku koruptif dan pembasmi ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. Kita semua harus sadar bahwa bangsa ini sedang tertimpa masalah yang sangat serius, bukan hanya masyarakat yang kewalahan, Pemerintah pun nampak gagap dalam melakukan penanganan virus yang mematikan ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil Hamd, Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah.

Jika dipandang dengan lensa spiritualitas, maka hakikatnya pageblug virus Corona menyadarkan kita bahwa di atas langit masih ada langit. Prahara Corona menyadarkan kita bahwa di atas kekuasaan manusia yang paling berkuasa masih ada Yang Maha Kuasa yaitu Allah sebagai Tuhan Pemilik Alam Semesta. Malapetaka global Covid-19 membuktikan bahwa tidak ada manusia termasuk manusia dan negara yang dianggap paling berkuasa sekalipun di dunia ini yang mampu menanggulangi wabah penyakit menular yang merajalela ke seluruh pelosok planet bumi. Tidak ada negara dan penguasa mampu secara mandiri menghadapi angkara murka virus Corona dengan ukuran ragawi sangat kecil namun memiliki daya-binasa sangat dahsyat.

Menyadari betapa nihil kemampuan diri kita sendiri yang dijamin mustahil mampu menghadapi, apalagi menanggulangi pageblug wabah virus Corona, maka tidak wajar kita angkuh atau sombong dengan harta, pangkat dan tahta yang kita miliki. Sama sekali tiada alasan bagi kita untuk berani takabur adigang-adigung. Setiap saat diri kita bisa saja tertular virus ini, maka harus menyadarkan kita untuk senantiasa mawas diri, menyadarkan kita untuk lebih berupaya menaklukkan bukan orang lain, namun diri sendiri (jihad al-náfs). Coba kita baca hadis berikut ini :

 أفضلُ المؤمنينَ إسلامًا من سَلِمَ المسلمونَ من لسانِه و يدِه ، وأفضلُ المؤمنينَ إيمانًا أحسنُهم خُلقًا ؛ وأفضلُ المهاجرين من هجر ما نهى اللهُ تعالى عنه ، و أفضلُ الجهادِ من جاهد نفسَه في ذاتِ اللهِ عزَّ و جلَّ

Artinya : “Mukmin yang paling utama keislamannya adalah umat Islam yang selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Mukmin paling utama keimanannya adalah yang paling baik perilakunya. Muhajirin paling utama adalah orang yang meninggalkan larangan Allah. Jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu sendiri karena Allah. (Hadis ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad, Sunan al-Tirmidzi, Sunan Abi dawud, dan Shahih Ibn Hibban).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil Hamd, Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah.

Meningkatkan kualitas ibadah dan dekat kepada Allah, di bulan Ramadhan membuat hati kita menjadi tenang dan tenteram. Ketika seorang hamba merasa hatinya sedang merasa kesulitan, kegundahan, sedang tertimpa musibah berupa sakit atau bencana pandemik Corona. Maka sudah sepatutnya mendekatkan diri kepada Allah, merayu kepada-Nya untuk meminta pertolongan dengan senantiasa memperbanyak berdoa dan berdzikir. Allah pasti mendengar munajat hambaNya, Dia akan melihat bagaimana kita melaksanakan kewajiban sebagai hamba-Nya yang senantiasa menyembah, dan mengingat-Nya selalu.

Dalam masa pandemik salah satu bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT yaitu menjaga kebersihan diri (kefitarhan) dan lingkungan sangat diperlukan, meskipun sudah berakhir masa pandemik ini nanti. Kita dilatih untuk senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Virus ini menuntut kita untuk lebih sering mencuci tangan menggunakan air bersih dan mengalir, juga kita tak lupa untuk selalu membersihkan lingkungan sekitar kita agar tetap terjaga kesterilannya. Jauh sebelum Pemerintah menganjurkan cuci tangan pun, syariat Islam sudah memerintahkan untuk rajin mencuci tangan terutama sebelum memegang sesuatu, sebelum makan, sebelum melakukan aktivitas dan lain-lain. Islam telah mengajarkan kita untuk bersuci melalui ibadah thaharah dengan cara berwudhu dan menjaga wudhu sebelum shalat, sebelum tidur, maupun menjalankan aktivitas lainnya.

Idul Fitri mengingatkan kepada kita untuk selalu menjaga kesucian dan kebersihan. Bukankah berwudhu bertujuan untuk menyucikan diri dan jiwa, manfaat yang sangat besar bagi kesehatan, sebagai alat pelindung diri seperti masker untuk menjaga kesehatan dan mencegah berbagai macam penyakit. Penelitian membuktikan bahwa menjaga kebersihan adalah salah satu tindakan preventif yang efektif untuk menangkal berbagai virus, kuman, dan bakteri yang membahayakan tubuh kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil Hamd, Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah.

Selanjutnya bahwa dampak langsung dari pandemik Corona banyak orang-orang yang tidak bisa mencari nafkah untuk biaya hidup sehari-hari. Bagi orang-orang yang mampu sudah seharusnya memberikan bantuan berupa sembako atau uang kepada mereka sebagai bentuk solidaritas kita kepada antar sesama, momentum Idul Fitri adalah merupakan waktu yang tepat bagi untuk menyalurkan zakat, infaq dan sedekah bagi mereka yang mengalami kesulitan ekonomi.

Ditutupnya beberapa lapangan pekerjaan akibat adanya wabah virus Corona ini, membuat sebagian masyarakat terutama buruh, pedagang menjadi resah. Secara otomatis tentu banyak orang resah dan panik akan kelanjutan hidupnya nanti ditengah pandemik Covid-19. Maka sudah seharusnya sikap kita sebagai umat Islam, khususnya diberikan kelebihan rezki oleh Allah SWT, untuk meringankan beban mereka, dengan berinfaq dan bersedekah bahkan dengan apapun kepada mereka yang terkena dampak Covid-19 secara langsung. Karena Islam, telah mengajarkan bagaimana meringankan tangan untuk membantu fakir-miskin dan masyarakat yang yang lain, rasa empati kita itu akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda dari Allah SWT. Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 92 :

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

Artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan (sebagian harta) yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil Hamd, Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah.

Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah tidak harus ketika dalam keadaan lapang dan berkecukupan, akan tetapi dalam keadaan susah kita pun harus senantiasa selalu bersyukur atas segala karunia dan nikmat-Nya. Sebab, syukur akan kita rasakan manakala kecintaan kita kepada Allah dan merasa cukup atas segala nikmat-Nya sudah tertanam di dalam hati kita yaitu dengan selalu melihat kebawah dan melihat kepada orang yang lebih susah daripada kita.

Menyalurkan sebagian rezeki yang kita kita miliki di saat Idul Fitri dengan kondisi pandemik, bertujuan agar silaturahmi semakin kuat karena silaturahmi memiliki keutamaan dan banyak manfaat baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain mengingat kita adalah makhluk social. Maka, menjaga silaturahmi menjadi penting dalam kondisi seperti ini. Makna Idul Fitri tidak berkurang secara substansial, meski masyarakat Indonesia tak bisa menjalankan tradisi silaturahmi dan mudik. Kita tidak bisa lakukan itu karena ada bahaya di sekeliling kita. Oleh karena itu mungkin kita tidak mudik, namun kita bersilaturahmi lewat online atau virtual. Kita masih dapat tetap terhubung satu sama lain dengan memanfaat kecangihan teknologi dan informasi seperi sosial media. Makna tidak berubah, cuma kesemarakan atau bahasa agamanya, syiarnya saja yang berkurang.

Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah SAW juga menejelaskan yang dimaksud silaturahmi ialah :

لَيْسَ الْوَاصِلَ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Artinya: “Silaturahmi bukanlah yang saling membalas kebaikan. Tetapi seorang yang berusaha menjalin hubungan baik meski lingkungan terdekat (relatives) merusak hubungan persaudaraan dengan dirinya.” (Hr Bukhari).

Meskipun demikian jika masih ingin menjalin silaturahmi secara langsung, menjaga diri tidak melakukan kontak langsung dan senantiasa menjaga jarak, hal bukan berarti memutuskan silaturahmi. Dengan adanya wabah virus Corona ini kita dilarang untuk melakukan kontak fisik baik itu salaman dan sebagainya. Bahkan Pemerintah menganjurkan untuk menjaga jarak sejauh 1 meter.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil Hamd, Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah.

Semoga momentum Idul Fitri yang masih dalam suasana penademik Corona-19, bisa kita manfaatkan dengan baik, dengan mempersiapkan secara lahir dan batin untuk beribadah sebelas bulan yang akan datang, memupuk silaturrahmi, dan jangan sampai lupa, kesehatannya dijaga dan berdo’a semoga segala dosa diampuni dan kesalahan dimaafkan, dengan begitu berbahagialah bersama keluarga, karena sudah suci lahir dan batin. Sebagai akhir dari tujuan puasa Ramadhan adalah taqwa yang sesungguhnya meningkatkn kapasitas diri yang telah dibina selama bulan Ramadhan kepada Allah SWT, pasca Idul Fitri seharusnya ritmenya sama bahkan lebih meningkat, itu harus kita persiapkan sebagai bekal kita kelak jika dipanggil menghadap-Nya, bekal iman, ilmu dan amal shaleh yang senantiasa terjaga dan terpelihara, oleh karena itu, bersemangatlah untuk mengamalkannya.

Demikianlah uraian hikmah yang dapat diambil dari adanya Wabah Covid-19 korelasinya dengan amaliyah Ramadhan dan Idul Fitri. Tentunya masih banyak sekali hikmah-hikmah yang terkandung di  dalamnya.  Semoga  kita  bisa  menerapkan  dan  sadar  akan pentingnya mengambil hikmah dari musibah yang sedang menimpa kita semua. Pada puncaknya, kelak saat kita akan menghadap Allah sang  Pencipta, kita  akan meninggalkan  dunia  ini dengan  husnul khatimah.

Semoga  Allah  senantiasa  memberikan  bimbingan,  taufiq, hidayah  serta  inayah -Nya  supaya  kita  dan  keluarga  kita  selalu menjadi orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Aamiin.

جعلنا الله واياكم من العائدين والفائزينوالمقبولين كل عام وانتم بخير. امين. بسم الله الرحمن الرحيم .وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السماوات والأرض أعدت للمتقين.وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين

Check Also

MTs Walisongo Pecangaan Juarai Lomba Kaligrafi Tingkat Kabupaten

Share this on WhatsApp Salma Isdiyana, juara 1 Lomba Kaligrafi Festival Syari’ah 2021. (Foto: Istimewa) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.