Home / Lain-lain / Keragaman Agama di Indonesia: Bersifat Toleransi atau Diskriminasi?

Keragaman Agama di Indonesia: Bersifat Toleransi atau Diskriminasi?

Oleh : Fanny Fathaeyah*)

Pengantar

Indonesia merupakan salah satu negara dengan beragam kekhasannya. Mulai dari berbagai macam suku yang terbentang luas dari wilayah Timur hingga ke Barat, beragam adat dan bahasa yang digunakan, serta agama yang dianutnya. Hal tersebut tidak menjadikan Indonesia sebagai negara yang selalu tertanam di jiwanya rasa permusuhan dan saling membenci satu sama lain. Justru untuk menciptakan kesejahteraan dan kedamaian, setiap individu berusaha untuk selalu menanamkan di dalam dirinya sikap simpati, empati, dan toleransi kepada semua individu sekalipun mereka berbeda-beda. Karena memang itulah yang diajarkan oleh masing-masing ajaran agama yang mereka peluk. Sehingga, dari banyaknya perbedaan tersebutlah yang kemudian menjadikan Indonesia terikat dengan semboyan kekhasannya, yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya walau berbeda-beda tetap satu jua.

Inilah Indonesia, yang sejak awal selalu beragam dan terbuka terhadap sesuatu yang baru yang berasal dari luar. Keberagaman tersebut menjadikan Indonesia kaya. Bahkan sikap keterbukaan yang dimiliki itu mampu membentuk ulang Indonesia menjadi lebih kaya. Asimilasi tersebut sekaligus menunjukkan adanya kekreatifan yang dimiliki oleh bangsa ini. Karena Indonesia bukan hanya mampu menerima budaya lain, melainkan mengolahnya menjadi budaya baru yang nantinya budaya tersebut mampu menciptakan Indonesia yang lebih sejahtera dan damai. Namun yang menjadi pertanyaan penting untuk dibahas adalah, bagaimana akar keragaman agama di Indonesia muncul?. Dan apakah keragaman agama di Indonesia itu benar-benar bersifat toleransi atau justru diskriminasi dikalangan masyarakat dan suatu kelompok?

Akar Keragaman Agama di Nusantara

Hakikatnya, sejarah mencatat semua fakta yang pernah terjadi. Dengan jujur tanpa ada opini dan kebohongan di dalam alur ceritanya. Begitupun dengan sejarah Nusantara yang memperlihatkan kepada kita, dari mana akar keragaman agama di Nusantara itu muncul. Sehingga, terbentuklah berbagai macam pemeluk agama yang tersebar diberbagai wilayah di Indonesia. Perlu kita ketahui, bahwa keragaman agama di Nusantara tentu tidak terlepas dari beragam peradaban besar yang pernah masuk ke Indonesia, di antaranya yaitu:

Pertama, Peradaban Hindu. Di manaakar keragaman agama di Nusantara dimulai dengan masuknya Hindu di negeri kita tercinta. Seperti ditemukannya berbagai bukti sejarah yang mereka buat pada masa itu. Mulai dari keberadaan kerajaan-kerajaannya, budaya-tradisi, ritual, maupun ajaran-ajaran agama yang mereka sebar luaskan kepada masyarakat. Sehingga dari penyebaran tersebut, meluaslah pengaruh ajaran-ajaran Hindu yang kemudian dijadikan sebagai landasan legitimasi kekuasaan raja, antara lain lewat kehadiran para Brahmana. Namun, meskipun penyebaran peradaban Hindu di Nusantara pada masa itu membutuhkan proses yang sangat lama. Hal ini dikeranakan masyarakat Nusantara yang masih mempertahankan kepercayaan animisme dan dinamisme mereka. Nyatanya asimilasi dari tradisi Hindu-India dan tradisi lokal di Nusantara tersebut justru mampu memberikan bekas mendalam hingga saat ini, yang kemudian menjadikan masyarakat pada masa itu tertarik untuk memeluk agama Hindu. Sehingga, tak jarang kita dapat menemukannya dibeberapa wilayah di Indonesia, baik tempat ibadahnya, acara/hari perayaannya, maupun masyarakatnya yang menganut agama Hindu. Seperti sebagian besarnya, mereka berada di Bali.[1]

Kedua, Peradaban Buddha. Keberadaan agama Buddha di Nusantara hingga saat ini, tentu menjadi bukti adanya penyebaran ajaran agama tersebut dimasa lampau. Awal mula ajaran mereka masuk ke Indonesia sekitar abad ke-I. Dengan melalui perniagaan, pergadangan, maupun jalur politik. Bahkan tak sedikit dari para pelajar-pelajar yang berasal dari Tiongkok maupun India, mereka berdatangan ke tanah Nusantara untuk memperkenalkan dan melakukan penyebaran ajaran mereka tentang Buddhisme kepada masyarakat setempat. Sejarah juga menjelaskan bahwa sekitar tahun 420, dimana Gunawarman yang merupakan seorang pangeran dari Kashmir. Dia mengajarkan ajaran Buddhisme dikalangan para elit, yang kemudian agama Buddha pun menjadi agama bagi kalangan elit di Nusantara. Sekalipun banyak dari penguasa di Nusantara yang menganut Buddha, tetapi mereka tidak menjadikannya sebagai agama resmi dan menyingkirkan agama lain yang dianut oleh masyarakat Nusantara. Hal ini dikarenakan telah menjadi kebiasaan umum, bahkan tradisi di Nusantara kita bahwa menerima kulkus atau budaya baru hal tersebut tidak harus menolak dan menyingkirkan budaya lama yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita.  

Ketiga, Peradaban Islam. Peradaban Islam yang hadir di Nusantara memang terdapat perdebatan terkait dengan kapan masuknya ajaran Islam ke Nusantara. Namun yang jelas, bahwa sejak masa kepemimpinan Khalifah Ustman (644-656), Nusantara telah terjalin kontak dengan dunia Islam. Seperti halnya orang-orang Islam yang telah memainkan perannya dalam dunia perdagangan, keberadaan kerajaan Islam pertama di Nusantara, ditemukannya nisan Sultan Sulaiman bin Abdullah bin al-Basir, serta nisan-nisan yang ditemukan di daerah Jawa Timur, yang di mana sebagian elit Jawa telah memeluk Islam pada masa kejayaan Majapahit. Sebenarnya, pengaruh masuknya Islam ke tanah Nusantara beberapa abad yang lalu, hal tersebut tak lepas dari pengaruh India, Tiongkok, Arabia, Mesir, Persia, dll. Bahkan ada pendapat, bahwa masuknya Islam ke Nusantara kemungkinan di mulai dengan para penduduk pribumi yang memang sudah menjalin kontak dengan Islam yang kemudian tertarik dan menganutnya. Atau mungkin juga orang-orang asing Asia (India, Tiongkok, Arabia, Mesir, Persia, dll) yang menganut Islam kemudian menetap disuatu tempat, mengikuti gaya hidup masyarakat setempat, yang kemudian sedikit demi sedikit mengajarkan Islam kepada masyarakat tersebut. Lalu setelahnya, Islam pun di sebar luaskan oleh para wali dan alim ulama serta penguasa Muslim lainnya. Sehingga, dari sanalah Islam dikenal hingga saat ini (Ricklefs, 2005: 27).[2]

Keempat, Peradaban Barat. Diketahui, bahwa datangnya orang-orang Barat ke Nusantara pada masa lampau bukan hanya memberikan pengaruh terhadap ekonomi, politik, militer, dan pembangunan di negara kita. Meskipun pengaruh Barat terhadap dunia secara umum bersifat signifikan. Justru bekas-bekas Peradaban Barat-terutama orang-orang Belanda-juga memberikan pengaruh terhadap kehidupan sosial di Nusantara, dan tentunya pengaruh tersebut masihlah membekas hingga sekarang. Hal ini dikeranakan tiga kelompok masyarakat yang memiliki peran besar dalam memperluas pengaruh Barat di Nusantara, seperti; komunitas Kristen, para priyai, serta tentara dan akademisi (Lombard, 1996). Bahkan, perluasan pengaruh Barat di Nusantara juga dibuktikan dengan Portugal yang mendirikan gereja-gereja pertama setelah kedatangan mereka pada abad ke-16, serta peran dan tugas-tugas para pendeta di beberapa wilayah untuk menyebarkan ajarannya. Sehingga, dari situlah memungkinkan pengaruh Barat tersebar luas di wilayah Nusantara.

Namun, baru pada paruh pertama sekitar abad ke-19 di mana misi protestan dan katolik benar-benar berkembang diakhir abad ini, yang kemudian pada awal abad ke-20 Kristianitas mampu diterima di sebagian wilayah di Nusantara, seperti; Tanah Toraja, Tanah Batak, dan Kalimantan. Meskipun begitu, bukan berarti pembaratan berlangsung segera dan utuh begitu saja. Tentu ada saja unsur-unsur lokal yang sudah lama menetap di kehidupan masyarakat justru bercampur dengan keyakinan Kristen dan bahkan sebagian budaya lain dari luar dalam jangka yang lama.

Sehingga dari peradaban-peradaban yang telah dijelaskan diatas, kita dapat mengetahui bahwa munculnya keragaman agama di Nusantara tidak menjadikan masyarakan begitusaja menolak dan menentang penyebaran yang dilakukan oleh para penyebar ajaran agama-agama tersebut. Justru mereka berfikir, apa yang menurut mereka baik, benar dan dapat diyakini dengan jelas maka itulah ajaran yang akan mereka ikuti. Kerana kita tahu dengan sangat jelas, bahwa masyarakat Nusantara memiliki sikap terbuka (plural) terhadap segala sesuatu yang berasal dari luar, seperti halnya kebudayaan. Dengan cara kreativitas para masyarakatnyalah, kebudayaan yang berasal dari luar tersebut diolah menjadi budaya baru yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Begitupun dengan masuknya agama-agama di Indonesia, disebarkan dengan cara yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat tanpa harus menghilangkan adat-budaya, tradisi yang sudah menetap pada kehidupan sehari-hari mereka. Tetapi, hal yang memungkinkan pada masa itu, yaitu menghapus dan menghilangkan kebiasaan-adat dan tradisi yang memang dipandang tidak sejalan dan tidak baik menurut ajaran agama-agama tersebut. Sehingga, dari sinilah kita tahu sejarah akar keberagaman agama di Indonesia.

Keragaman Agama di Indonesia Bersifat Toleransi atau Diskriminasi?

Kita tahu, bahwa kehadiran agama dalam kehidupan manusia yaitu untuk membawa kedamaian. Bahkan tanpa harus mengenal tentang rincian ajaran Islam, cukup dengan kita mengenal kata sapaan yang dianjurkannya saat bertemu dengan orang lain, baik dikenal maupun tidak, maka seseorang pun dapat mengetahui bahwa Islam sangatlah mendambakan kedamaian.[3] Begitupun dengan agama lain, cukup mereka menyapa satu sama lain maka itu sudah menunjukkan sikap mereka yang cinta akan kedamaian. Namun tak jarang untuk mereka yang telalu fanatic terhadap agamanya, berani melakukan diskriminasi terhadap agama lain dengan dalih membela agama dan menyalahkan ajaran dari agama lain, yang kemudian nantinya menimbulkan perpecahan dan saling memusuhi satu sama lain. Ya, inilah yang sering terjadi di kalangan umat beragama di negara kita.

Secara umum, sebenarnya dapat dikatakan bahwa agama-agama, terutama agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam), menekankan salah satu fungsi utama hadirnya agama di dalam kehidupan manusia yaitu untuk membina akhlak manusia itu sendiri. Coba perhatikan The Ten Comandement (Sepuluh Perintah Allah yang di sampaikan oleh Nabi Musa a.s).[4] Bahkan, Nabi Isa a.s menyimpulkan tuntutan agama Kristen dalam dua hal pokok: Pertama, Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu serta dengan segenap akal budimu. Kedua, Kasihinilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (Baca Matius 22: 37-40).

Kedua butir tersebut merangkum kesepuluh perintah Tuhan yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Begitupun dengan ajaran yang di sampaikan oleh Rasulullah Saw sendiri. Dimana beliau menegaskan kepada umatnya bahwa, “Aku diutus tidak lain kecuali untuk menyempurnakan akhlak.” Bukankah sudah jelas diutusnya para nabi dan rasul adalah menyempurnakan akhlak manusia, yang kemudian akhlak tersebut dapat menjadikan diri mereka seorang manusia yang berbudi pekerti, bijak, bersimpati-empati dan toleransi kepada sesama, tanpa mendiskriminasi sekalipun berbeda?. Lantas, mengapa toleransi dan diskriminasi dapat muncul di kalangan umat beragama?.

Sebelum itu, mari kita pahami kata Toleransi dan Diskriminasi terlebih dahulu!. Toleransi dan Diskriminasi tentu memiliki arti yang sangat berbeda jauh. Di mana toleransi merupakan salah satu sikap atau perilaku seseorang yang mengikuti aturan, dimana seseorang tersebut dapat menghargai, menghormati terhadap perilaku yang dimiliki oleh orang lain. Sedang Diskriminasi, merupakan sikap membedakan secara sengaja terhadap suatu golongan tertentu. Biasanya perbedaan tersebut didasari dengan ras, suku, etnis, dan Agama.[5] Namun, di negara kita sekarang ini diskriminasi terhadap agama justru menjadi topic panas. Baik itu menyangkut perbedaan ajarannya, maupun perbedaan pendapatnya-pendapatnya.

Indonesia dengan beragam agama. Menjadikan pancasila sebagai dasar negara, yang karenanya sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” mengingatkan kepada masyarakat semua, bahwa negara kita tidak dilandaskan pada keyakinan agama tertentu. Melainkan saling menghormati dan melindungi kebebasan warga negaranya untuk menjalankan keyakinan agama masing-masing yang dipeluknya. Inilah salah satu contoh sikap toleransi di negara kita. Kemudian contoh lainnya, di salah satu daerah di Indonesia, tepatnya di Kudus. Di mana ketika hari raya Idhul Adha umat muslim di sana menjadikan kerbau sebagai hewan qurban atau hewan selain dari hewan sapi yang daerah lain gunakan. Hal tersebut dikeranakan mereka menghargai dan menghormati kepada agama Hindu di wilayah tersebut, yang dimana sapi dianggap sebagai hewan suci untuk agama Hindu. Bahkan, kita dapat mengambil contoh lain dari nilai toleransi terhadap sesama agama, seperti agama Hindu di Bali, yang mana dalam pelaksaan kegiatan keagamaan di masing-masing daerahnya memiliki caranya tersendiri. Kitab suci yang digunakan boleh sama, namun cara pengamalan dapat dilakukan dengan bervariasi sesuai dengan daerah setempatnya.

Kemudian beranjak kepada sikap diskriminasi yang sering terjadi dikalangan umat beragama di negara kita, hal tersebut dikarenakan kefanatikan seseorang terhadap agama yang dianutnya, merasa bahwa agamanya lebih baik dan benar, sehingga menganggap bahwa agama lain sesat dan menyimpang. Bahkan dibanyak pemberitaan, tak jarang orang-orang fanatic tersebut rela membunuh dirinya sendiri dan membunuh orang yang berlainan agama. Hal ini justru malah menjadikan agama tersebut buruk dipandang pemeluk agama lain. Padahal, sejatinya para nabi dan rasul serta para pemuka-pemuka agama tidak pernah mengajarkan kepada umatnya dan murid-muridnya untuk melakukan kerusakan di bumi, apalagi membunuh sesama manusia. Hanya dikarenakan sebuah perbedaan agama, mereka lebih mengutamakan keegoisan diri, sedang sikap kemanusian mereka hilangkan.

Dari penjelasan-penjelasan yang telah diuraikan di atas, kita dapat mengetahui bahwa tidak ada agama yang mengajarkan pemeluknya untuk melakukan sesuatu yang buruk kepada sesama manusia. Berbeda agama bukan berarti menjadi patokan untuk menciptakan kebencian dan permusuhan dikalangan umat beragama. Tetapi justru sebaliknya, perbedaan agama harus menjadikan diri berlomba-lomba untuk meraih kebaikan, menanamkan rasa persaudaraan, bergotong royong, dan menciptakan kehidupan yang damai-sejahtera sesuai dengan ajaran agama yang dipeluknya. Mengutip dari salah satu dosen UNUSIA Jakarta, Fariz al-Nizar. Beliau berkata bahwa: “Salah satu alternative dan solusi untuk beranjak dari istilah toleransi adalah membumikan istilah akseptan, yakni sikap menerima apa adanya tanpa syarat ataupun pretensi. Dari sikap akseptanlah, maka akan lahir suatu harmoni kehidupan bermasyarakat.[6]

Akhir Kata

Keragaman agama di Indonesia, dapat memunculkan sikap toleransi apabila pemeluk agamanya memahami ajaran agamanya sendiri. Jika dia mengetahui bahwa datangnya agama di kehidupan manusia untuk membawa kedamaian, maka ia akan menjadikan dirinya sendiri seorang manusia yang baik, bijak, penuh dengan sikap simpati-empati, dan toleransi. Sebaliknya, manusia yang tidak memahami ajaran agamanya, merasa bahwa agama yang dianutnya adalah agama yang paling benar. Maka orang tersebut tak akan sungkan untuk menunjukkan kebenciannya terhadap penganut agama lain, seperti meneror sampai membunuh.

M. Quraish Shihab memberi pesan dan mempertegas kepada kita, bahwa: “Agama beraneka ragam, biarlah masing-masing dengan pilihan masing-masing untuk mempercayai dan melaksakan apa yang baik dan benar. Biarlah manusia yang berbeda-beda itu berlomba dalam kebajikan. Kalau kebajikan itu disepakati maka mari bergandengan tangan untuk mewujudkannya. Kalaupun tidak disepakati, jangan cari siapa yang salah dan siapa yang benar. Masing-masing mestinya telah mempelajari agamanya dan menemukan yang benar, sehingga tidak mungkin dibenarkan dua agama berbeda dalam saat yang sama.”

Daftar Pustaka

Henry Thomas Simarmata, dkk. 2017. Indonesia Zamrud Toleransi. Jakarta: PSIK-Indonesia.

M. Quraish Shihab. 2018. Islam yang Saya Pahami (Keragaman Itu Rahmat). Tangerang: Lentera Hati.

M. Quraish Shihab. 2018. Islam yang Saya Anut (Dasar-dasar Ajaran Islam). Tangerang: Lentera Hati.

https://id.m.wikipedia.org, diakses pada 22 April 2021, Pukul 16. 17 WIB

https://nasional.tempo.com, diakses pada 17 November 2019, Pukul 15.24 WIB.

*) Fanny Fathaeyah, Lahir di Bekasi, 26 Juli 1999. Tercatat sebagai Mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA Jakarta). Hobby: Membaca History Books, komik, dan Menggambar. Jejak bisa ditemukan di akun instagram @fannyfathaeyah dan akun twitter @Fatha26. Motto; Never tell your self you should be someone else. Stand up tall and say I’m not afraid. You can do it and you should do it. Bismillah. Allah always listening and understanding.

Gantungkan cita-citamu

Setinggi bintang dilangit

Mengapa terbatas langit?

Tembus dan lampaui langit.”

(Maulana Rumi)


[1] Henry Thomas Simarmata, dkk, Indonesia Zamrud Toleransi, (Jakarta: PSIK-Indonesia, 2017), hlm. 24.

[2] Henry Thomas Simarmata, dkk, Indonesia Zamrud Toleransi, hlm. 29.

[3] M. Quraish Shihab, Islam yang Saya Pahami (Keragaman Itu Rahmat), (Tangerang: Lentera Hati, 2018), hlm. 260.

[4] M. Quraish Shihab, Islam yang Saya Anut (Dasar-dasar Ajaran Islam), (Tangerang: Lentera Hati, 2018), hlm. 43.

[5] https://id.m.wikipedia.org, diakses pada 22 April 2021, Pukul 16. 17

[6] https://nasional.tempo.com, diakses pada 17 November 2019, Pukul 15.24 WIB.

Check Also

Bantu Warga, LAZISNU Ngabul Salurkan Bantuan 1 Juta

Share this on WhatsApp LAZISNU Ngabul salurkan bantuan untuk warga yang rumahnya roboh. (Dok. Lazisnu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.