Home / Opini / Harlah IPPNU : Refleksi Tentang Peran Wanita

Harlah IPPNU : Refleksi Tentang Peran Wanita

Oleh : Lailiyatun Nafisah, Ketua PR IPPNU Mindahan Kidul, Batealit, Jepara. Peminat wacana dan kajian perempuan.

Momentum hari larih (Harlah) menjadi hal yang dinantikan, baik yang mengenalnya sebagai perayaan ataupun peringatan. Merefleksikan sejenak mengenai harlah salah satu Badan otonom (banom) Nahdlatul Ulama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang lahir pada 2 Maret 1955 M dengan pendirinya Hj. Umrah Mahfudzoh.

Peran wanita menjadi hal menarik untuk selalu dijadikan kajian. Lebih jauh seharusnya tak hanya berhenti menjadi sebuah narasi persoalan tetapi dieksistensikan dalam hidup yang lebih faktual, karena kajian-kajian secara mayoritas lebih banyak dikuasai oleh lingkungan akademik.

IPPNU salah satu oraganisasi yang melibatkan peran wanita dalam berkiprah lebih luas, namun tetap memahami kodratnya sebagaiperempuan. Karena bergandengan dengan nilai- nilai Ahlus sunnah wal jamaah (Aswaja) yang selalu diberikan oleh para kiai. Akar- akar itu diberikan melalui nasihat-nasihat secara langsung, atau pun saat berkegiatan yang memiliki unsur relijius.

Peran dari ibu Nyai UmrahMahfudzah yang merupakan anakdari KH WahibWahab sangat menginspirasi, dan patut dijadikan renungan serta teladan nyata bagi wanita Nahdliyin. Sejak kecil beliau telah mengenal pendidikan di lingkungan pesantren, kemudian cucu KH.Wahab Hasbullah ini aktif di organisasi berangkat dari diskusi kecil bersama kaum perempuan lainnya. Kodrat sebagai wanita yang menjadikan statusnya istri dan ibu, namun beliau tetap aktif di organisasi dan parpol.

Hal yang perlu direfleksi mendalam adalah peran genrerasi Nahdliyin dalam berjuang, terutamawanita bahwasanya wanita tidak hanya sebagai konco wingking dengan berpangkutangan. Lebih dari itu, wanita bisa menjadi sosok guru baik lingkup kecil (keluarga) atau lingkup besar. Sosok Nyai Umrah memberi garis gambaran akan wanita yang mampu ulet asal mampu. Asal mampu adalah diri sendiri yang membangun, terutama pikiran.

Peringatan Harlah IPPNU seharusnya mengantarkan kembali untuk melahirkan sosok- sosok seperti Umrah Mahfudzah milenial. Dalih-dalih yang sering ditautkan dengan generasi 5.0 menjadi semangat membara untuk berdedikasi lebih dan sesuai dengan keunikan diri.

Berjuang adalah proses menyempurnakan warna-warni melahirkan pelangi. Hal yang sering dilupakan adalah pendidikan, meski tidak semua berkesempatan, akan tetapi yang paling utama adalah pendidikan keagamaan, bekal dari seluruh kehidupan.

Bahkan ibu Umrah memulai pendidikan masa kecil dengan bekal tersebut, sehingga kematangan pemikiran dan akhlak menjadi pembeda dari kelompok lainnya. Patut untuk di ingat, bahwa IPPNU adalah santri, meski tak bermukim dalam pesantren namun menyebarkan nilai rahmatan lil alamin tetap menjadi prioritas, senama dengan hal ini adalah “Islam Moderat”.

Benang merahnya adalah, maukah kita sebagai sosok pejuang nyata “terus bertahan untuk bekarya, menjadi istri yang taat, ibu yang mengajarkan pendidikan agama serta wawasan, berbaur dengan lingkungan?” Sosok apapun itu adalah pilihan terbaik versi kita, namun karena kita generasi IPPNU, mengenal dan meneladani kemudian menjadikan refleksi hidup juga seharusnya kita lakukan.

Refleksi ini hanyalah sederhana, karena terkadang kita lupa bahwasannya Harlah tak melulu mengenai pasang status dan meramaikan ucapan demi ucapan pada hari itu, akan tetapi makna hakikat adalah yang menempel dalamdiri, bisakah kita meneladani sosok Ibu Nyai Umrah atau jangan-jangan kita tidak mengetahui sejarahnya, dan hanya asal mengikuti IPPNU. (*)

Check Also

Membangunkan Super Power Ekonomi Dunia

Share this on WhatsApp Oleh : M Syukron Makmun, Ketua Bidang Sosial Ekonomi PAC GP …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.