Home / Opini / Akhlak dalam Masa Krisis

Akhlak dalam Masa Krisis

Oleh: Abu In’am, Pendidik di Majelis ‘Ilmi Al Muqiit

MEMBINCANG krisis dengan makna kondisi atau keadaan yang berbahaya bukan perkara yang mudah. Sebab, sifat krisis itu sendiri yang tidak terduga dan dapat menyerang banyak aspek mulai dari ekonomi, budaya, politik hingga moral. Kesemuanya itu, tentu akan dapat menimbulkan kecemasan bahkan ketakukan massal.

Situasi krisis itulah yang sekarang sedang melanda dunia termasuk Indonesia dengan adanya Pandemi Covid-19 yang sampai saat ini virus tersebut masih terus bermutasi dengan beragam varian. Lama pandemi sudah hampir berjalan dua tahun dengan banyak dampak yang timbul.

Dari sisi kesehatan, rumah sakit tak mampu melayani jumlah pasien yang membeludak. Kondisi pelayanan yang tidak bisa maksimal berkontribusi besar dengan jumlah korban meninggal. Untuk meminimalisir sebaran virus, pemerintah melakukan aturan pembatasan sehingga berdampak pada lesunya ekonomi.

Para ahli lintas disiplin keilmuan, para pejabat lintas kementerian sudah dilibatkan untuk menanggulangi krisis yang terjadi. Belum tampak krisis karena adanya pandemi ini akan berakhir cepat. Bahkan, paska Lebaran 2021, lonjakan kasus penderita Covid-19 kembali terjadi.

Lantas bagaimana kemudian ikhtiar bersama yang mungkin dilakukan? Sementara ragam cara sudah diupayakan para ahli dan pengambil kebijakan? Salah satu alternatifnya adalah kembali kepada solusi dasar. Sesuai dengan tugas kenabian yang diemban Nabi Muhammad SAW.

Tugas kenabian yang populer adalah Muhammad diutus Allah SWT menjadi rasul terakhir adalah untuk menyempurnakan akhlak. Liutammima makarimal akhlak. Akhlak inilah yang menjadi kampanye Muhammad untuk mensyiarkan Islam. Akhlak pulalah yang menjadikan sosok Muhammad menjadi tauladan atau uswatun hasanah.

Pendekatan dakwah dengan mengedepankan penanganan akhlak inilah yang menjadikan Islam mampu tersebar ke seluruh penjuru dunia. Akhlak menjadi pondasi sehingga kokoh dan melandasi umatnya dalam beribadah baik ibadah mahdhoh seperti sholat dan puasa maupun ghoiru mahdhoh berupa ibadah ibadah sosial.

Perdamaian

Akhlak seperti apa yang bisa dilakukan dalam penanganan krisis? Meski tidak sama persis dengan situasi yang saat ini terjadi, literatur Islam memiliki sejumlah penjelasan terkait kondisi yang tidak biasa. Salah satunya bisa kita temukan dalam Kitab Ghoyatut Taqrib juga tentunya bisa ditemui dalam kitab-kitab Fiqih yang lain.

Dalam salah satu fasal di dalam kitab tersebut membahas mengenai Sholat Istisqo’ yakni sholat memohon hujan kepada Allah SWT atas kemarau yang berkepanjangan. Situasi kemarau sehingga tidak ada air juga masuk dalam kondisi krisis yang tentu akan berdampak pada umat manusia.

Ibadah Sholat Istisqo’ merupakan inti dari ikhtiar doa memohon bantuan Allah SWT untuk keluar dari krisis kemarau. Tetapi, tidak kalah penting adalah syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan ritual sholat memohon hujan tersebut.

Abu Syuja’, penulis kitab Ghoyatut Taqrib, dalam fasal itu menjelaskan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yakni imam mengajak masyarakat bertaubat atas seluruh dosa. Redaksi mengajak berarti imam dan masyarakat sama-sama melakukan taubat kepada Allah SWT.

Selanjutnya, masyarakat diajak untuk melakukan sedekah. Mereka harus berbagi dengan yang lain. Spirit sedekah untuk saling tolong menolong akan sangat penting dalam melewati krisis. Dalam kondisi krisis Corona ini, upaya pemerintah memberikan sejumlah bantuan harus juga diiringi sikap masyarakat hingga lapis terbawah untuk mau berbagi dengan yang lain.

Tidak hanya itu, masyarakat dan pemerintahan diajak untuk keluar dari tindakan-tindakan dhalim berbuat aniaya. Makna dhalim menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Sikap-sikap yang tidak pada tempatnya harus dihilangkan sebelum memohon kepada Allah SWT untuk menghilangkan krisis.

Setelah saling menyadari untuk tidak berbuat dhalim dengan berbagai upaya yang mungkin dilakukan, umat juga diajak untuk berdamai dengan musuh. Perdamaian harus diciptakan dalam sosial kemasyrakatan sebelum mohon kepada Allah SWT menghentikan krisis yang terjadi saat ini.

Dalam konteks saat ini, sudahkah semua elemen yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdamai dengan hakiki. Mulai dari partai politik, pemerintahan dengan oposisi, organisasi masyarakat. Kalau langkah berdamai sudah dilakukan dengan kesadaran semua pihak maka besar harapan kita krisis akan lekas berakhir.

Paling akhir yang kami kutip mengenai akhlak untuk menghadapi krisis adalah kesederhaan dalam gaya hidup. Ketika mau sholat istisqo’ umat diperintahkan untuk menggunakan pakaian-pakaian yang sangat sederhana. Tidak boleh umat keluar mengikuti sholat dengan pakaian bagus seperti layaknya pakaian hari raya.

Nah, apakah masyarakat kita, pemerintahan kita sudah mampu melakukan akhlak-akhlak tersebut sebelum memohon kepada Allah SWT? Kalau belum, tidak ada kata terlambat untuk diupayakan bersama dengan harapan krisis yang saat ini terjadi bisa lekas berakhir.

Allah adalah Tuhan yang maha pengasih dan penyayang kepada seluruh hambanya. Namun demikian, kita sebagai hamba juga harus bergerak positif dengan sesama hamba terlebih dulu. Dengan hubungan yang harmonis dengan sesama hamba, sikap sayang dengan sesama hamba, Allah akan lebih cepat menurunkan rahmatNya kepada kita. (*)

Check Also

Harlah IPPNU : Refleksi Tentang Peran Wanita

Share this on WhatsApp Oleh : Lailiyatun Nafisah, Ketua PR IPPNU Mindahan Kidul, Batealit, Jepara. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.