Home / Opini / Tradisi Ramadhan

Tradisi Ramadhan

Oleh : M. Dalhar (Warga Nahdliyin Banjaragung)

Pelan-pelan Ramadhan beranjak mulai meninggalkan kita. Seakan tidak terasa, puasa telah memasuki hitungan sepuluh hari yang terakhir. Secara umum kelesuan beribadah mulai tampak di beberapa masjid atau mushalla. Padahal pada hari-hari yang terakhir terdapat banyak keutamaan yang diraih.

Kelesuan malam-malam Ramadhan tampak dari berkurangnya jamaah yang menunaikan salat tarawih. Ada banyak faktor yang menyebabkannya. Sekurang-kurangnya, kelesuan terlihat dari lamanya lantunan syair atau kasidah (baca: pujian) yang dilantunkan takmir masjid dalam menunggu jamaah. Pujian di antara azan dan iqamat dapat dimaknai sebagai isyarat bagi para jamaah agar segera merapat ke masjid. 

Di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Ramadhan dibagi menjadi tiga bagian. Sepuluh hari pertamanya adalah rahmat, sepuluh hari yang kedua penuh ampunan (maghfiroh), dan sepuluh hari ketiga adalah pembebasan dari api neraka (itqun mina an-nar).

Pada sepuluh hari yang terakhir juga Nabi Muhammad Saw menambah intensitas ibadahnya dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya. Hal itu menjadi isyarat bahwa di antara malam sepuluh hari yang terakhir adalah malam diturunkannya lailatul qadar. Ada banyak doa mustajab yang hendaknya diamalkan agar mendapatkan kemuliaan malam seribu bulan.

Begitu besar keutamaan pada sepuluh hari terakhir, biasanya banyak masjid atau musholla yang menyelenggarakan tambahan ibadah, yaitu shalat tasbih berjamaah. Tujuannya adalah untuk menghidupkan malam Ramadhan. Salat ini dilakukan di antara salat tarawih dan witir. Sudah barang tentu, waktu yang dihabiskan menjadi lebih lama dari biasanya. Bagi mushalla yang sudah rutin melaksanakannya, bukan sesuatu yang mengejutkan atau memberatkan karena sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun.

Di samping itu, pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir warga juga membuat menu nasi atau asahan. Nasi beserta dengan lauknya disajikan dalam wadah besar kemudian disantap bersama usai salat witir berjamaah. Satu asahan bisa dimakan tiga sampai lima orang. Kondisi tersebut berbeda dari malam-malam yang lain di mana warga atau jamaah cukup membawa snack atau makanan ringan secara bergiliran.

Berbasis Tradisi

Adanya “kewajiban” membuat asahan secara bergiliran atau snack ringan setiap malam secara tidak langsung menjadi pengikat bagi para jamaah untuk berangkat ke masjid. Selain itu, secara bersamaan akan terjalin komunikasi dan kepedulian yang dapat meningkatkan solidaritas sesama warga dan sesama muslim. Hal tersebut turut berkontribusi pada kuatnya ikatan kekeluargaan bagi masyarakat di pedesaan.

Yang menarik, program Ramadan yang sudah menjadi tradisi atau kebiasaan akan menjadi sesuatu yang tidak memberatkan. Kegiatan Ramadan berbasis pada tradisi yang dijalankan secara konsisten akan mudah diingat dan diwariskan kepada generasi penerus. Karena sudah menjadi kebiasaan, sehingga tidak diperlukan koordinasi atau rapat kegiatan. Cukup dikomunikasikan saja, semuanya sudah akan berjalan sebagaimana yang sudah berjalan.

Misalnya saja tradisi Ramadhan yang lain, pembacaan syair akidah (baca: aqa’id 50) yang dibaca setelah shalat witir. Syair berbahasa Jawa tersebut dilantukan dengan lagu yang berbeda-beda memiliki pelajaran yang sangat penting. Sayangnya, banyak jamaah, terutama generasi muda yang tidak mengikutinya. Hal semacam itulah yang perlu diantisipasi.

Menjadi penting bahwa nilai-nilai agama yang dikemas dalam bingkai tradisi menjadikan agama hidup. Budaya dapat menjadi penyangga tegaknya nilai-nilai agama di suatu komunitas. Contoh yang lain adalah tradisi tetek atau tongtek, membangunkan sahur. Terlepas dari perubahan yang terjadi, tradisi tersebut pada awalnya adalah syiar dalam membangunkan orang-orang untuk sahur. Atau dengan kata lain, tongtek pada dini hari adalah bagian dari dakwah. 

Sekali lagi, nilai-nilai agama yang dibalut dengan tradisi akan lebih dapat diterima dan berjalan dengan baik di masyarakat. Tradisi Bodho Kupat, Bodho Apem, Yasinan, Shalawatan, dan masih banyak lainnya, merupakan nilai-nilai agama yang dikemas dalam budaya setempat. Semuanya berjalan dan diwariskan dari generasi ke generasi. (*)  

Check Also

Pilpet Serentak dan “Hantu” Money Politic

Share this on WhatsApp Oleh : Ahmad Kholas Syihab Wakil Sekretaris PC GP Ansor Jepara, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *