Home / Berita / Sabda Nabi: Jangan Katakan “Saya Telah Berpuasa!”

Sabda Nabi: Jangan Katakan “Saya Telah Berpuasa!”

nujepara.or.id – Fenomena menarik di setiap bulan Ramadhan adalah maraknya acara televisi yang bernuansa religi dan tayang sebulan penuh, mulai dari ceramah keagamaan, talk show, news, sampai dengan hiburan yang segalanya bernuansa islami.

Bahkan, busana presenter pun tidak jauh dari gamis dan jilbab atau sekedar kerudung yang diselipkan setengah menutupi kepala.  Bagaimana dengan bahasa sapanya? tentu akan disesuaikan dengan tema dan suasana bulan suci Ramadhan.

Kemudian ketika Ramadhan berakhir dan bulan Syawal  telah tiba, kita akan sering mendengar kalimat pembuka yang kurang lebih demikian: “Alhamdulillah, kita telah berpuasa ramadhan sebulan penuh dan melaksanakan ibadah sholat tarawih di malam harinya. Saatnya kita merayakan hari kemenangan, yaitu iedul fitri…” terdengar indah sebagai rasa syukur, namun hati-hati sebab Kanjeng Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kepada para sahabatnya akan ucapan yang demikian.

عن ابي قتادة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لايقولن احدكم إني صمت رمضان كله وقمته رواه ابو داود والنسائ

Hadist dari Abu Qotadah, bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersabda: “Janganlah sekali-kali di antara kalian mengatakan saya telah berpuasa ramadan (sebulan) penuh serta melaksanakan (ibadah di malam harinya). HR. Abu Dawud dan An Nasya’iy.

Penjelasan Hadist, larangan ucapan tersebut terhadap orang yang berpuasa di bulan Ramadhan karena alasan Lit Tanjih atau dibenci dan memalukan. Maka tidaklah patut bagi seseorang setelah sebulan berpuasa Ramadhan, kemudian berucap “Saya telah berpuasa sebulan penuh” demi untuk kesucian hati serta terhindar dari merasa telah sempurna ibadahnya.

Karena dimungkinkan ada ketidak-jujuran dalam perkataan tersebut dan dikhawatirkan berlaku sembrono atau kurang hati-hati, sehingga akan terjebak dalam sifat ‘ujub (membanggakan diri) yang dapat merusak pahala ibadah.

Demikian salah satu isi hadist dan penjelasannya dalam kitab Al Arba’in Ar Romdhoniyyah yang disusun oleh Al Habib Syaqof bin Ali Al ‘Idrus. Sesuai dengan judul kitab, di dalamnya ada 40 (empat puluh) hadist tentang bulan suci Ramadhan. Penyusun juga melengkapi dengan syarhul hadist atau penjelasan lafadz dan maknanya, sehingga pembaca akan mampu memahami isi hadist secara mudah dan jelas.

Selain kitab Al Arba’in Ar Romdhoniyyah, di bulan Ramadhan tahun 1440 H ini Pondok Pesantren Mathla’un Nasyi’in Pecangaan juga mengkaji beberapa kitab, yaitu Ad Durrotul Fakhiroh fi Kasyfi ‘Ulumil Akhiroh (Al Imam Hujjatul Islam Abi Hamid bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al Ghazali), Fiqhul Halali wal Haromi (Syaikh Muhammad Mutawalliy Asy Sya’rowiy), Ma La ‘Ainun Ro’at (Sayyid Muhammad ‘Alawiy Al Malikiy), Tahdzibus Sirotin Nabawiyyah (Syaikh Abi Zakariyya Yahya bin Syarofun Nawawiy Ad Dimasyqiy), serta kitab Al Faro’idus Saniyyah wad Durorul Bahiyyah (Syaikh Muhammad Sya’roni Ahmadi).

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada jam 06.00 – 07.00 wib, 08.00 – 09.00 wib, 10.00 – 11.00 wib, 14.00 – 15.00 wib, dan jam 21.00 – 22.00 wib setiap hari selama bulan suci Ramadhan. Seluruh santri mukim putera dan puteri serta beberapa santri posonan (khusus Ramadhan) mengikuti dengan antusias, sehingga puasa dalam cuaca panas pun seakan tidak terasa.

Menurut Efendi ketua Panitia Ramadhan di Pesantren, kegiatan posonan atau ngaji kilatan ini telah rutin diselenggarakan di pesantren Mathla’un Nasyi’in Pecangaan, “pengajian kitab diampu oleh khodimul ma’had Abah Zainal Muttaqin Al Hafidzh dan asatidz yang insyaallah ditutup dengan khataman pada tanggal 23 Ramadhan,” tambahnya. (misbahul ulum)

Check Also

Sosmed, Media Paling Mudah untuk Berdakwah

Share this on WhatsApp Direktur NU Online, Savic memaparkan materi dalam Seminar Nasional yang diadakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *