Home / Resensi / Revitalisasi Ulama-Santri dalam Sejarah Indonesia

Revitalisasi Ulama-Santri dalam Sejarah Indonesia

Masterpiece Islam NusantaraIdentitas buku
Judul                     : Masterpiece Islam Nusantara; Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945)
Penulis                  : Zainul Milal Bizawie
Edisi                      : Pertama
Tahun terbit           : Maret 2016
Jumlah halaman     : xx + 560 halaman
Ukuran                  : 16 x 24 cm
ISBN                     : 978-602-72621-5-7
Penerbit                 : Pustaka Kompas
 
 
Diskursus tentang Islam Nusantara mencuat ketika Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang, 1-5 Agustus 2015 mengangkat tema tentang Islam Nusantara. Kontroversi pun mengemuka, beragam argumentasi tersaji dan tersebar di berbagai forum dan media. Diduga kuat, kontroversi terjadi lantaran belum adanya kesamaan pemahaman tentang substansi Islam Nusantara. Sadar akan hal tersebut, Zainul Milal Bizawie menulis buku “Masterpiece Islam Nusantara; Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945) sebagai upaya memberikan pencerahan bagi masyarakat tentang Islam Nusantara. Menurut Milal, Islam Nusantara bukanlah suatu hal yang baru, karena telah mewajah dan merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara. Bahwa Islam di Nusantara telah didakwahkan dengan cara merangkul budaya, menyelaraskan budaya, menghormati budaya, dan tidak memberangus budaya. Dari pijakan itulah, karakter Islam Nusantara menampilkan Islam yang ramah, terbuka, penuh sopan santun, tata krama dan penuh toleransi.

Melalui buku 560 halaman tersebut, Zainul Milal menegaskan bahwa Islam nusantara tidaklah anti budaya Arab, akan tetapi untuk melindungi Islam dari Arabisasi dengan memahaminya secara kontekstual. Islam nusantara tetaplah berpijak pada akidah tauhid sebagaimana esensi ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Arabisasi bukanlah esensi ajaran Islam. Karenanya, kehadiran karakteristik Islam nusantara bukanlah respon dari upaya Arabisasi atau pencampuran budaya Arab dengan ajaran Islam, akan tetapi menegaskan pentingnya sebuah keselarasan dan kontekstualisasi terhadap budaya lokal sepanjang tidak melanggar esensi ajaran Islam. Pesan rahmatan lil alamin menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah Islam yang moderat, toleran, cinta damai dan menghargai keberagaman. Islam yang merangkul bukan memukul, Islam yang membina bukan menghina, Islam yang memakai hati bukan memaki-maki, Islam yang mengajar taubat bukan menghujat dan Islam yang memberi pemahaman bukan memaksakan.

Narasi dalam buku terbitan Pustaka Kompas tersebut menggunakan plot terbalik membujur jejak-jejak waktu mundur agar pembaca dapat menyelami dengan baik, tidak terputus dan menemukan sejarah yang terpinggirkan. Pada bab pertama, kajian dimulai dengan bertolak dari momentum bersejarah, yaitu resolusi jihad. Munculnya resolusi jihad tidaklah secara instan, tetapi melalui ijtihad bertahap yang cukup panjang. Ijtihad tersebut tidak hanya melewati satu dua generasi, akan tetapi menjalur ke belakang sampai titik masuknya Islam di bumi Nusantara. Resolusi jihad adalah hasil dari proses panjang pasang surut perjuangan ulama-ulama sebelumnya. Dengan mengungkap jejaring yang berada dibalik munculnya resolusi jihad serta basis pemahaman tentang tentang suatu bangsa dan dar al Islam, Zainul Milal memberikan pemahaman tentang konteks perjuangan para laskar ulama-santri. Keputusan para ulama pada Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin menjadi panduan memahami gerak para pejuang kemerdekaan dan makin menguatkan keyakinan bahwa bahwa kemerdekaan Indonesia adalah rahmat dari Allah, dan negara ini dibangun dalam kerangka religiusitas yang kuat dan tidak terpisah.

Pada bab kedua hingga keempat, pembaca akan menemukan simpul-simpul dari jejaring yang telah mensinergikan perjuangan bagi tegaknya Negara Indonesia. Simpul-simpul jejaring tersebut telah diikat oleh kesepakatan dan tekad untuk bersatu dalam suatu bangsa dan negara, sehingga perjuangannya tidak terlokalkan seperti skenario kolonial pada perjuangan sebelumnya. Jika saja perang Diponegoro, Perang Aceh, Perang Padri terjadi secara bersamaan dan saling berkoordinasi seperti ketika perang kemerdekaan, tentu kolonial Belanda tidak dapat mengatasinya. Karenanya, dalam buku yang terbit Maret 2016 kemarin ini, pembaca akan melihat bagaimana simpul-simpul tersebut saling berjejaring dan dengan caranya sendiri, mengonsolidasi dan terhubung dari satu titik simpul ke titik simpul lainnya. Simpul ini hanyalah bagian saja, dan masih banyak lagi yang tidak tercatat dan bergerak di ranah yang lain.

Bagaimana simpul-simpul tersebut berjejaring? Zainul Milal menjawabnya melalui sajian sejarah pada bab kelima dengan menggali lebih jauh lagi dengan mengungkap lintas wilayah. Berpijak pada posisi Hadratusysyekh Hasyim Asy’ari, penulis menunjukkan begitu kokohnya dan berkelindannya jejaring yang telah dibangun. Jejaring tersebut berdimensi lintas ruang dan waktu, sanad dan nasab serta dalam kesamaan mendambakan suatu bangsa yang berdaulat. Jejaring yang dibangun tersebut selain memperkokoh simpul-simpul pesantren, dayah maupun meunasah yang telah terbangun, juga meluaskan jejaring lebih besar lagi yang disatukan dalam komunitas al Jawiyyun yang dibahas pada bab keenam dan ketujuh. Pada bab keenam, sinergitas jejaring ulama hadrami dan pribumi terbangun kembali dan mencoba belajar dari pengalaman sebelumnya yang terbawa permainan kolonial Belanda dalam melemahkan jihad. Habib Ali Kwitang menjadi titik masuk untuk melihat bagaimana ulama keturunan Hadrami terkonsolidasi dan terhubung dengan ulama-ulama pribumi serta menyelaraskan hubungan antara sanat tarekat, tahfidz, dan fiqh. Disinilah kesadaran kebangsaan makin terbangun bahwa perjuangan melawan kolonial Belanda harus bersatu dan memiliki resonansi yang menusantara.

Kuatnya jejaring ulama tesebut tidak dapat dilepaskan dari terbangunnya komunitas al Jawiyyun di Haramayn yang diungkap pada bab ketujuh. Peran Syekh Nawawi al Bantani, Syekh Sholeh Darat, Syekh Tolhah, Syekh Khollil Bangkalan, Syekh Mulabaruk, Syekh Mahfudz Tremas, Syekh Khatib Sambar, Syekh Nahwrowi al Banyumasi, Syekh Ismail Minangkabawi dan lain sebagainya menjadi jejaring utama yang menjadi titik pusat simpul di Nusantara pada abad ke-19. Kehadiran dan kiprah mereka sanggup mentransmisikan keilmuan sekaligus semangat kebangsaan bagi para santri yang belajar di Makkah dan kemudian mentransformasikan dalam kiprahnya di daerahnya masing-masing.

Jejaring yang telah terbangun tersebut merupakan bagian dari masterpiece Islam di Nusantara. Para simpul jejaring tersebut yang telah menghasilkan karya-karya besar yang juga telah menjadi mastepiece Islam di Nusantara. Begitupun kemerdekaan RI dan tegaknya NKRI serta wajah Islam di Indonesia yang damai, toleran, terbuka dan moderat adalah bagian dari masterpiece Islam Nusantara yang saat ini dapat kita rasakan. Dan masterpiece tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah bagian dari rahmat Allah bagi bangsa Indonesia, sehingga dapat dikatakan bahwa ini adalah mastepiece Allah yang telah memfirmankan Islam rahmatan lil alamin.

Buku ini secara akademik sosiologis berkontribusi untuk menyempurnakan mozaik sejarah perjuangan bangsa yang belum banyak terungkap oleh sejarawan sebelumnya, sebab fokus dari kajiannya justru dari aspek kemasyarakatan bukan pendekatan statis, berdasar penelusuran lokal bukan hanya aras umum nasional. Sebagai buku sejarah, buku tersebut berhasil merangkai korelasi data-data sejarah yang tercecer. Membacanya seperti kita menyusuri lorong waktu mundur, menyelami kayanya khazanah Islam di Nusantara. Buku ini berhasil menempatkan cerita-cerita lokal menjadi acuan utama yang berbunyi dan kongkret.

Siapapun yang ingin memahami Islam Nusantara, buku ini layak menjadi referensi utama, sekaligus menjadi pemantik kajian-kajian dalam perspektif lain seputar Islam Nusantara. Islam Nusantara niscaya untuk terus diteliti dan diinternalisasikan sebagai perilaku bangsa dan kemudian menjadi alternatif peradaban dunia yang mencitrakan Islam yang rahmatan lil alamin. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *