Home / Opini / Momentum Merevitalisasi Peran NU untuk Umat

Momentum Merevitalisasi Peran NU untuk Umat

Abdul Wahab.jpgMomentum Merevitalisasi Peran NU untuk Umat
Oleh Abdul Wahab Saleem*
            MESKI Harlah NU biasa dilaksanakan pada Rajab (tepatnya tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M), tetapi ingar bingar menyambut hari kelahiran organisasi yang istimewa ini telah bergaung di sudut-sudut informasi warga, baik di dunia maya maupun nyata. Tidak mengherankan, karena organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini banyak berbuat dan berkontribusi membangun bangsa dan negara. Melalui perjalanan sejarah yang begitu hebat dan mengesankan, digawangi oleh para ulama dan kiai pesantren, organisasi ini bangkit dan bergerak menginspirasi warga bangsa menuju ke arah yang lebih baik melalui penataan ekonomi (Nahdlatut-Tujjar), nasionalisme (Nahdlatul Wathan), dan juga intelektualisme (Tashwirul Afkar), serta inspirasi-inspirasi lain.
              Perjuangan NU untuk membangun umat berhasil, terbukti mayoritas umat Islam Indonesia adalah warga NU. Tetapi romantisme keberhasilan itu tidak boleh melenakan kita untuk selalu berjuang dan mengabdi untuk NU, karena diakui atau tidak, berbagai ancaman dan tantangan telah terbentang di depan mata. Mulai dari ancaman gerakan-gerakan trans-nasional yang sudah menjalar kemana-mana. Ancaman penjajahan ideologi yang juga memicu terjadinya disintegrasi umat dan lunturnya nasionalisme, sampai pada ancaman lunturnya tradisi luhur ke-NU-an yang selama ini dikembangkan dan dijaga oleh para sepuh. Hal-hal itu hampir tidak bernilai di mata para generasi yang mengatasnamakan diri sebagai generasi modern saat ini.
            Tiap momen harlah NU, kita seakan selalu terngiang dengan ungkapan Kiai Masdar Farid Mas’udi. Dalam sebuah kesempatan, beliau pernah menyampaiakan, tantangan NU saat ini hampir sama dengan masa kelahirannya. NU dahulu lahir secara ideologis untuk menolak paham wahabi, secara politis untuk melawan penjajah dan secara ekonomis untuk memperkuat ekonomi umat. Apabila kita amati, saat ini wahabi dengan berbagai bentuknya, baik yang berbentuk partai politik maupun yang lain termasuk gerakan-gerakan keagamaan yang merongrong nasionalisme sudah gamblang-berkembang di hadapan, tantangan ekonomi lebih parah lagi, yang paling sederhana terlihat di permukaan adalah bahwa mayoritas warga NU masih miskin dan kemiskinan itu hampir selalu menjadi alasan ketidakpedulian terhadap sesuatu. Kemudian terkait tantangan penjajahan juga tidak kalah beratnya, terlebih penjajahan ideologi dan paradigma. Ironisnya, sasaran penjajahan ini adalah generasi-generasi muda emas kita, melalui tayangan-tayangan dan siaran-siaran, kebebasan akses dunia maya yang sering tak terkendali dan lain sebagainya.
            Di sinilah arti penting revitalisasi perjuangan ke-NU-an, saat ini mungkin kita seakan merasakan angin segar karena menyaksikan gairah perjuangan para pengurus NU (khususnya Jepara) yang begitu menggebu-gebu, dan harapan kita bersama semoga gairah tersebut bukan hanya di 100 hari pertama, tetapi selamanya juga gairah perjuangan ke-NU-an masih terus membara. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa umat masih sangat butuh inspirasi (bukan hanya aspirasi). Umat ingin para elit mereka dapat dijadikan sebagai contoh perjuangan dan pergerakan. Jangan sampai ada lagi kata “rak NU-NU-nan”, apalagi dikatakan oleh warga NU itu sendiri, sangat ironis, meskipun tentu kata-kata semacam itu keluar bukan dari ruang hampa, tetapi ada sababnya, antara lain karena NU dianggap belum banyak menginspirasi tata kelola masyarakat di berbagai bidang kehidupan, sementara para elit NU masih berada di langit belum membumi. Inilah beberapa hal yang juga harus bersama-sama kita benahi.
            Melalui momentum menyambut harlah NU ini keikhlasan perjuangan untuk NU, membangun warga NU menuju masyarakat yang bersatu, bersaudara, beradab, komitmen, loyal, cerdas, dan sejahtera memang perlu menjadi gerakan semesta. Upaya untuk memperkuat basis-basis ke-NU-an melalui pemberdayaan warganya baik secara ideologis, politis maupun ekonomis harus selalu dilakukan. Seluruh kepengurusan NU di semua tingkatan, terutama ranting dan anak ranting harus tersentuh bentuk-bentuk pemberdayaan tersebut, karena ranting dan anak rantinglah yang secara langsung menyentuh umat. Harus diapresiaisi pula para elit NU yang menyempatkan diri untuk blusukan ke ranting-ranting untuk memberikan pencerahan dan inspirasi kepada umat, membawa kabar gembira, dan menggerakkan jiwa umat menuju kemaslahatan-kemaslahatan hidup baik di dunia maupun akhirat (mashalih al-ibad fi al-‘ajil wa al-ajil). Para elit NU jangan hanya hadir ketika ada momen kepentingan tertentu apalagi momen politik untuk menggerakkan apalagi menjual suara umat. Wallahu A’lam bi al-shawab.
(*Penulis adalah ketua Ranting NU Desa Jinggotan 1, wakil sekretaris LPT NU Jepara)

Check Also

ramadan pc nu jepara

Puasa Ramadan dan Kemerdekaan

Share this on WhatsApp Oleh Abdul Wahab Saleeem* RAMADAN oleh kebanyakan umat Islam selalu diidentikkan …

One comment

  1. Musyafak As-Syarie

    Aku srcara probadi sangat mengapresiasi tulisan ini. Tapi permadalahan nu tdk cukup sebatas itu. Masih banyak lagi yg perlu dibenahi, ato istilah penulis direvitalisasi. Mari betsama sama kita benahi umat ini dr yg terkecil yaitu diri kita masing2, baru merambah ke keluarga kita, terakhir ke masyarakat. Dengan demikian, insyaallah umat menjadi baik, maju dan tdk ketinggalan… Semoga, amin…t

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *