Home / Berita / Membaca Kegemasan NU-Muhammadiyah Soal Suksesi Kepemimpinan

Membaca Kegemasan NU-Muhammadiyah Soal Suksesi Kepemimpinan

Kunjungan NU ke Muhammadiyah
SILATURAHMI: Ketua Tanfidziyah PCNU Jepara KH Hayatun Abdullah Hadziq (palingkiri) bersama Rois Syuriah PCNU KH Ubaidillah Nur Umar dan Ketua PD Muhammadiyah Jepara Fahrur Rozi dalam silaturahmi NU ke Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jepara di gedung Muhammadiyah, Minggu lalu.

 

PADA Senin (20/6) malam, NU dan Muhammadiyah Jepara menggelar rapat bersama untuk mengadakan acara bersama untuk halalbihalal yang akan berlangsung pada 12 Syawal mendatang. Rapat itu hanya berselang sehari setelah silaturahmi dua pengurus ormas  tersebut. Saat acara silaturahmi yang berlangsung di gedung Muhammadiyah Jepara suasana akrab, kembali terlihat. Silaturahmi untuk mempererat  ukhuwah atau persaudaraan kedua ormas itu  dikemas dalam bentuk dialog. Selain membahas soal keumatan, juga membahas pilkada Jepara yang akan berlangsung 15 Februari 2017 yang denyutnya begitu terasa dalam beberapa waktu terakhir.

Ini adalah kunjungan balasan untuk NU karena pada 4 April 2016 seluruh pengurus Muhammadiyah yang mengunjungi gedung NU di Jl Pemuda No 51 Jepara. Tak hanya keakraban, tetapi silaturahmi itu berjalan sangat cair. Hadir pula penngurus beberapa badan otonom dan lembaga di NU, serta pengurus lembaga-lembaga Muhammadiyah.

Ketua PD Muhammadiyah Jepara Fahrurrozi mengawali dengan menyebut dua ormas ini di Jepara memiliki tujuan yang serupa dalam hal keumatan. Karena itu dialog-dialog yang cair dan penuh keakraban seperti itu bisa terus digalang untuk tema-tema yang lebih rinci. Rois Syuriah PCNU Jepara KH Ubaidillah Noor Umar memantik dialog dengan menyebut Muhammadiyah dan NU bisa bahu membahu dalam keaktifannya membantu masalah-masalah di Jepara. Itu bisa dilakukan misalnya dalam menangkal paham radikalisme, munculnya perda-perda yang tidak prorakyat sebagaimana dinamika yang terjadi secara nasional, juga menyangkut hal-hal lebih detil seperti kesejahteraan guru swasta yang masih sangat rendah. “NU dan Muhamamdiyah bisa bahu membahu, bagaimana mengkritisi dan memberi masukan konstruktif dalam pembahasan beragam peraturan soal kemasyarakatan di Jepara. Coba bisa lebih dipikirkan, masih banyak guru swasta yang bergaji Rp 300 ribu/bulan,” kata Kiai Ubaid.

Suasana menjadi lebih hidup saat Ketua Tanfidziyah NU Jepara Hayatun Abdullah Hadziq (Gus Yatun) bicara soal kepemimpinan di Jepara. Momentum pilkada, kata dia, mesti dijadikan pembelajaran bersama NU dan Muhammadiyah untuk lebih peduli. “Sampai titik ini, NU masih belum ‘berdoa’. NU terus melihat perkembangan, ditengah partai-partai tampaknya sudah ‘tawakal’ (pasrah-Red). Mari bersama-sama kita persoalan lebih rinci, lalu apa yang mesti kita lakukan,” kata Gus Yatun.

Ia menegaskan banyak kelompok di masyarakat pemilih dalam pilkada, dan warga NU jumlahnya amat besar bersama warga Muhammadiyah. “Selama ini NU dan Muhammadiyah bersama-sama berkiprah besar untuk pendidikan, pemberdayaan ekonomi, juga akhlak. Jangan sampai warga kita dijadikan objek yang tidak jelas. Masih ada tujuh bulan untuk bisa berbuat. Apa yang terjadi saat ini akan menentukan wajah Jepara ke depan,” lanjut dia.

Setelah itu, gayung pun bersambut. Ketua Pemuda Muhammadiyah Gardana Puja Kesuma tak kuasa menyembunyikan kegemasannya atas dinamika politik. “Apa langsung kita melakukan penjaringan kemepimpinan saja?,” kata dia yang disambut tepuk tangan. Ia mengatakan itu setelah dari NU menyebut gagasan soal kriteria pemimpin Jepara sebagaimana disampikan Wakil Ketua PCNU Hisyam Zamroni.

Mantan ketua PD Muhammadiyah Asep Sutisna yang menjadi pemandu dialog itu yakin masih ada pilihan pemimpin yang mampu membawa Jepara lebih baik dengan berbagai karakternya. Masalahnya saat ini adalah  kriteria yang paling dijadikan pertimbangan adalah finansial sehingga menafikan kriteria yang lain yang sebenarnya justru yang paling menentukan arah kebijakan.

“Berangkat dari dialog Muhammadiyah dan NU ini, saya terinspirasi bahwa sebenarnya kita punya harapan yang sama di tengah keprihatinan kita terhadap kondisi demokrasi  yang ada,” kata Asep. Ia mengatakan, istilah “wani pira”  dalam demokrasi saat ini bukan sesuatu yang tabu, karena nyatanya mengakar di masyarakat.

Ia pun berharap dengan komunikasi  intensif NU dan Muhamamdiyah yang ke depan juga bisa melibatkan komunitas lain akan memberikan solusi munculnya pemimpin daerah berintegritas. “Bagi NU dan Muhammaiyah saya rasa sama, tidak akan memberikan jabatan pada orang yang meminta akan  tapi akan diberikan kepada orang yang benar-benar bisa memberikan maslahat bagi umat,” kata dia.

Di tengah kegemasan dan keprihatinan dalam forum itu yang berujung pada harapan ada keputusan apa yang akan dilakukan, Kiai Ubaidillah menengahi, hal-hal teknis itu bisa dibahas berikutnya. “Sebaiknya tidak memutuskan sesuatu dalam kondisi lapar. Kita berbuka puasa dahulu, lalu persoalan ini bisa dilanjutkan pembahasannya di kemudian hari,” kata pengasuh Pesantren darul Ulum Desa Bandungharjo Jepara itu.

Usai acara, para petinggi dua ormas ini sepakat untuk terus menjalin komunikasi, terutama untuk hal-hal yang menyangkut keumatan. “Yang penting hal pokok soal kesamaan misi untuk menyelamatkan Jepara dari potensi buruk sudah disepakati, tinggal bagaimana nanti formula kerja bersama untuk saling menyokong,” kata Gus Yatun. (ms)

Check Also

PD Muhammadiyah – PCNU Jepara : Tidak Benar Berita Pengusiran Santri di Karimunjawa

Share this on WhatsAppJepara – Menyikapi isu di media sosial dan media online provokatif terkait …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *