Home / Berita / KH Wahab Hasbullah Pencetus Halal Bihalal Pertama di Istana Negara

KH Wahab Hasbullah Pencetus Halal Bihalal Pertama di Istana Negara

Gus Yahya saat memberikan mauidlah halal bihalal di Unisnu Jepara.

nujepara.or.id – Katib Aam PBNU, KH Yahya Cholil Staquf memberikan pencerahan kepada keluarga besar Unisnu Jepara dalam acara halal bi halal yang digelar di kampus Unisnu Jepara, Kamis (13/6/2019) pagi.

Menurut kiai yang akrab disapa Gus Yahya itu bahwa Halal bi Halal kali pertama diadakan sekitar tahun 1960-an oleh Bung Karno di Istana Negara.

Bung Karno waktu itu menghadap ke kiai Wahab Hasbullah karena ingin menyelenggarakan suatu acara untuk merayakan Idul Fitri di Istana Negara dalam naungan simbol negara. Untuk melengkapi perayaan-perayaan lain yang sudah diselenggarakan di bawah sombol negara yang nantinya akan ditiru oleh masyarakat.

Kala itu, Kiai Wahab memberikan usulan kepada bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal. Maka halal bi halal adalah khas Indonesia. Hanya di Indonesia di negara lain tidak ada. Meskipun bunyi istilahnya seperti bahasa Arab, tapi halal bihalal merupakan istilah Indonesia. Ia tidak dapat ditemukan di kamus-kamus arab.

Semangat melembagakan nilai-nilai hari raya oleh kiai Wahab Hasbullah, diciptakan melalui tradisi halal bi halal yang di dalamnya terkandung nilai silaturrahim dan saling memaafkan.

Lebih lanjut Gus Yahya menjelaskan, Kenapa perlu melembagakan nilai-nilai? Sebab ajaran agama Islam yang luhur perlu dijadikan operasional di tingkat masyarakat.

Persis seperti yang dilakukan Rasulullah SAW untuk tujuan strategis dari berbagai macam bentuk pelaksanaan ibadah. Zakat misalnya, untuk melembagakan nilai-nilai kepedulaian kepada sesama. Haji, untuk melembagakan nilai ketaatan yang absolut kepada Allah. Begitu juga dengan shalat dan puasa.

Menurut kiai asal Rembang tersebut, ini jadi bukti kuat bahwa para pendiri (founding fathers) bangsa Indonesia telah berpikir dalam mempersiapkan menghadirkan Indonesia dalam wajah Islam.

Masyarakat Islam di Indonesia telah berhasil membangun corak budayanya sendiri, ini yang sering disebut peradaban Islam Nusantara. Misalnya tradisi mudik berakar dari Islam, tradisi nyadran juga berakar dari peradaban Islam tapi dikemas ala Nusantara. Sehingga dapat dipahami bersama bahwa Islam yang tumbuh dan berkembang di alam nusantara, itulah Islam Nusantara.

Islam di Nusantara tumbuh secara independen dari kekuatan Islam yang dominan dalam sejarah pada masanya. Islam masuk ke Nusantara kira-kira abad ke 15 dan Dakwah Walisongo efektif abad 16. Masa itu dunia Islam yang lain berada di bawah kekuasaan Islam dalam Turki Usmani yang perkembangannya sudah tentu dipengaruhi oleh seluk beluk kekuasaan Turki usmani. Tapi, di Indonesia muncul Islam independen Nusantara yang tentu jauh dari pengaruh Turki Usmani.

Sejak itu dapat dilihat, ulama nusantara terus mengembangakan pandangan keagamaan yang sangat erat dikaitkan konteks masyarakat yang ada. Islam nusantara dikembangkan dengan kebudayaan setempat.

Hal itu sebagai bukti Ulama Nusantara tidak sebatas Fiqih tapi sampai Ushul fiqh, bahkan sampai haqiqat dan makrifatnya. Tradisi yang berkembang terwujud nilai-nilai Islam dengan mengikuti corak budaya setempat.

Maka halal bihalal adalah lembaga yang memiliki kandungan makna dan etos yang luar biasa dalam yang harus dipertahankan bersama.

Di akhir paparannya Gus Yahya meyakinkan bahwa Indonesia adalah satu-satunya harapan untuk kemelut dunia saat ini. Indonesia memiliki potensi untuk memimpin pengembangan peradaban dunia. (az)

Check Also

Mahasiswa Syariah Amati Gerhana Bulan di Alun-alun Jepara

Share this on WhatsApp Mahasiswa Syari’ah Unisnu mengamati gerhana bulan di Alun-alun Jepara. nujepara.or.id – …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *