Home / Berita / Islam Nusantara Bukan Aliran atau Mazhab Baru

Islam Nusantara Bukan Aliran atau Mazhab Baru

Peserta Ngaji Posonan Islam Nusantara dengan khidmad mengikuti acara.

nujepara.or.id – Dalam rangka mengisi bulan Ramadhan Lembaga Kajian Pemikiran dan Advokasi Marka Bangsa mengadakan “Ngaji Posonan Islam Nusantara” yang bertempat di Balai Desa Gemulung Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara, Senin (27/5/2019) sore.

Kegiatan tersebut diikuti anggota marka bangsa, mahasiswa Unisnu, kader Ansor dan PMII Jepara dengan diikuti sekitar 25 peserta.

Kegiatan itu diadakan untuk lebih memahami kajian-kajian Islam Nusantara yang selama ini menjadi perbincangan ramai di kalangan masyarakat. Ketua Marka Bangsa, Arif Rohman Hakim dalam sambutannya mengungkapkan ngaji posonan Islam Nusantara ini bertujuan untuk membekali semua peserta yang hadir agar tidak mudah goyah dalam memahami konsep-konsep yang sebenarnya lama sudah ada namun dengan menggunakan istilah baru atau masyarakat baru mengetahui, semua pada gugup memahaminya.

“Bukan hanya berhenti di dalam pemahaman kajian yang dilakukan tapi harapannya setelah selesai kajian, ada sikap tersendiri bagi Marka Bangsa dengan adanya Islam Nusantara” paparnya.

Dalam kegiatan tersebut hadir 3 pemateri. Pemateri pertama M Abdullah Badri menyampaikan tentang kontroversi Islam Nusantara. Sebelum ke arah kontroversi, ia mengajak untuk sepakat satu persepsi tentang Islam Nusantara. Sehingga nantinya paham berbicara kontroversi Islam Nusantara.

“Islam Nusantara menjadi istimewa karena orang Islam di Indonesia memiliki karakteristik yang belum tentu dimiliki oleh peradaban Islam di lain tempat, jadi Islam Nusantara itu islam yang berkebudayaan cinta kultur Indonesia. Islam Nusantara bukanlah aliran atau madzhab, Islam Nusantara hanyalah istilah dan mengingat sejarah lama Islam Nusantara sudah ada sejak dulu waktu masuknya Islam di Indonesia yang dibawa oleh ulama terdahulu.”

Pria yang akrab disapa Kang Badri itu menambahkan banyak yang memperbincangkan Islam Nusantara dengan kontroversinya adalah Islam Nusantara agama baru, Islam Nusantara dan tuduhan sebagai anti Arab, Islam Nusantara baju baru bagi Islam Liberal. “Nah di sini letak kontroversi di khalayak masyarakat tentang Islam Nusantara, namun itu semua terbantahkan dan bisa dijawab tentang Islam Nusantara di atas,” papar Wakil Ketua LTN NU Jepara ini.

Kemudian, Syamsul Maarif sebagai pemateri kedua denga materi ”Islam Nusantara untuk Perdamaian Dunia” menjelaskan dengan melihat keadaan negara Islam di Timur Tengah saat ini banyak sekali konflik yang terjadi salah satu kejadian yang di lakukan di Negara Arab dengan sebutan “Arab Spring dan Radikalisme” ini menjadi sesuatu phobia besar bagi umat Islam sendiri.

“Sedikit mengulas waktu pemilihan Donald Trump telah terjadi kejadian  bahwa umat muslim di larang masuk di negaranya. Melihat seperti ini analisa saya adalah bahwa posisi umat Islam sangat di waspadai lantaran  ada beberapa kejadian radikalisme dan terorisme. Ini menjadi kewaspadaan negara-negara dunia,” papar Syamsul.

Islam Nusantara lanjutnya muncul menjadi karakteristik Indonesia itu sendiri, dengan harapan bisa mencairkan suasana perdamaian dunia. Sifat yang ada dalam Islam Nusantara sendiri ada Tawazun, Tasamuh, Taad’l dan Tawasuth.

Beberapa ulama Indonesia juga ikut andil dalam perdamaian diplomasi Internasional, salah satunya Gus Yahya pergi ke Israil waktu bulan Ramadhan dengan dasar keinginan sendiri bukan atas dasar negara atau pemerintah. Walaupun banyak cacian kepada Gus Yahya yang pergi ke Israel tidak paham dan mengerti apa yang dilakukannya.

“Tapi upaya Gus Yahya sendiri membicarakan tentang umat muslim yang tidak bisa masuk ke Masjidil Aqsa. Upaya ini bisa dikatakan sukses karena Gus Yahya mampu membuka gerbang Masjidil Aqsa lagi kepada umat muslim untuk beribadah,” paparnya yang juga Dosen Unisnu Jepara ini.

Adapun materi terakhir dipaparkan Akhid Turmudzi. Menurut Sekretaris LBM NU Jepara itu Turost menjadi warisan nusantara. Bahwa sebelum tahun 1100 M, Ulama mampu memproduksi beberapa kitab. Setelah tahun itu ulama sudah mensyarahi penjelasan matan kitab.

“Waktu itu Ulama Indonesia sendiri yaitu Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Nawawi Banten, dan Mbah Ihsan Jampes menjadi ulama yang mampu menjadikan turost nusantara sebagai warisan,” paparnya yang menyampaikan materi “Turost Ulama Nusantara” ini.

Kegiatan tersebut berlangsung 3 hari, mulai Sabtu hingga Senin (25-27/5/2019). Kegiatan menguras pikiran dan tenaga, pasalnya dilaksanakan kegiatan di tengah bulan Ramadhan. Dan setiap peserta harus mampu berperan aktif bertanya dan membaca buku yang disiapkan panitia. Kegiatan ditutup dengan maklumat ketegasan marka bangsa dengan adanya Islam Nusantara. (khabib aminuddin)

Check Also

Gus Rozin : Pesantren Mitra Pembangunan Karakter Bangsa

Share this on WhatsApp Pimpinan Unisnu sowan ke keluarga Mbah Sahal. nujepara.or.id – Ketua Umum …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *