Home / Berita / Ini Wasiat KH Muhsin Ali Kepada Keluarga

Ini Wasiat KH Muhsin Ali Kepada Keluarga

Kiai Muhsin dan Habib Syiekh

BUGEL – Mendiang KH Muhsin Ali meninggalkan pesan berharga bagi keluarganya. Walau ditujukan kepada keluarga, pesan itu sungguh bisa dijadikan tanda akhlaq dan karakter pribadi, yang, tentunya, bisa dibaca sebagai pesan untuk kaum muslimin lainnya.

Pesan tersebut ada dalam kata pengantar buku Silsilah Bani Ali-Muslimah (Ban Lima) binti Hj. Maryam, yang ditulis pada 28 Ramadhan 1434/ 4 Agustus 2013.

Dalam pesan tersebut, Kiai Muhsin mengucapkan syukur karena mampu melaksanakan puasa satu bulan penuh setelah terkena stroke pada bulan Ruwah (Sya’ban) 1433 H. Empat bulan kemudian, 15 Dzulhijjah 1433 H, stroke kembali menyerang.

Alhamdulillah saget waras berkat pitulungane Allah melalui Tabib Ali Ridho Keling ngantos sak meniko /Alhamdulillah bisa sehat berkat pertolongan Allah melalui Tabib Ali Ridho Keling sampai sekarang (red),” tulis Kiai Muhsin.

Bagi Kiai Muhsin, sakit itu tidak dimaksudkan untuk merusak, melainkan sebuah ujian. Makanya, keluarga Ban Lima diberikan pesan agar selalu sabar. Bahkan, kesabaran itu nantinya akan berbuah kemuliaan jika bisa disikapi dengan baik. Bakdal Imtihan, Izzul Mar’i au Yuhaan (Setelah ujian, orang bisa jadi mulai atau hina).

Sabar nampa musibah, sabar ngelakoni perintah, sabar nampa kenikmatan. Mboten kok sabar yen nampa kenikmatan sarasan/ Sabar menerima musibah, sabar menjalankan perintah, sabar menerima kenikmatan. Bukan hanya sabar ketika menerima kenikmatan saja (red),” pesan Kiai.

Wasiat Kiai Muhsin tersebut dilengkapi dengan ucapan Sulthanul Auliya Syeikh Abdul Qadir Jailani. Wa’lamuu Annal Baliyyata Lam Ta’til Mu’mina Lituhlikahu. Wainnama Atathu Litakhtabirahu (Ketahuilah, sesungguhnya musibah itu tidak untuk merusak orang beriman, tapi untuk ujian dia).

Di akhir, Kiai Muhsin menulis pesan khusus: “Kabeh keluarga Ban Lima kudu seneng silaturrahim, awet faedahe akeh banget. Setengah saking faedahe iyo iku manjangke umur, jembarke rizqi lan kadang kepethuk karo jodoh.”

Pesan Kiai Muhsin di atas tentu masih relevan untuk problem keumatan. Utamanya soal silaturrahim, yang, dalam beberapa kasus sering jadi solusi atas konflik-konflik kecil di sekitar. Betapa tabah Kiai Muhsin menghadapi ujian yang diberikan Allah. Karakter inilah yang barangkali membuat ribuan orang tetap dating hingga tujuh hari beliau pada Jumat malam (18 Maret 2016). Allah yarham. (abd)

Check Also

Menyemai Pesan Damai dari Jepara

Share this on WhatsAppJepara – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten Jepara mengapresiasi kegiatan Kemah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *