Home / Opini / Dakwah Senyap Pesantren Salaf

Dakwah Senyap Pesantren Salaf

Misbahul Ulum
Pengajar Pondok Pesantren Mathla’un Nasyi’in Pecangaan

Kesan mewah dan megah tidaklah tampak sama sekali, justru sederhana dan sepi dari keramaian serta kemegahan gedung. Terlihat dari luar deretan bangunan asrama santri berhimpitan dengan rumah pengasuh (ndalem) dan musholla yang sekaligus berfungsi sebagai aula pesantren. Pintu masuk pesantren hanya jembatan kecil di atas trotoar, tidak terlihat gerbang dan tugu selamat datang yang umum ditemukan setiap masuk kawasan pesantren, papan nama kecil yang terselip di antara pepohonan pinggir jalan raya menjadi penanda pesantren. Siapa sangka, ternyata dari pesantren kecil tersebut gegap gempita dunia pendidikan di Jepara berawal, tidak lain melalui tangan dingin dan kegigihan perjuangan pengasuh pesantren sederhana itu, yakni KH. Mahfudh Asmawi.

Pondok Pesantren Mathla’un Nasyi’in dan KH. Mahfudh Asymawi tidak dapat dipisahkan dari sejarah perjalanan dan perkembangan dunia pendidikan di kawasan Jepara umumnya dan Pecangaan khususnya. Sejuta catatan dan jejajak peninggalan perjuangan Mbah Mahfudh, mulai dari pemikiran, ide cemerlang, sampai pada berdiri kokohnya dua lembaga pendidikan besar sebagai barometer kemajuan dunia pendidikan di Jepara, yaitu Yayasan Walisongo Pecangaan dan Yayasan Pendidikan Tinggi Nahdhatul Ulama Jepara.

Kabul adalah nama pesantren yang dirintis oleh KH. Asymawi Mukmin pada kisaran tahun 1930 an, pesantren salaf yang menggunakan sistem pembelajaran sorogan (private learning) dan bandongan (stadium general) pada sekitar 60 an santri putra putri yang mukim di pesantren tersebut. Infrastruktur yang terbatas berbanding dengan jumlah santri, hingga tahun 1960 an pelaksanaan belajar mengajar pesantren bertempat di rumah pengasuh dan menumpang di teras (tritis) rumah-rumah penduduk di sekitar pesantren. Demi meningkatkan kualitas pembelajaran pada santri, di kemudian hari sistem pendidikan pesantren dirubah oleh KH. Asymawi Mukmin menjadi sistem klasikal berupa jenjang dan tingkatan sesuai dengan kemampuan santri. Model pembelajaran inilah yang kedepannya menjadi embrio pendidikan Madrasaah Diniyah di pesantren serta masyarakat umum di Pecangaan.

Tahun 1963, KH. Asymawi Mukmin berpulang ke rahmatullah. Pesantren kemudian di pimpin oleh putra ke empat dari sebelas bersaudara, yaitu KH. Mahfudh Asymawi (Kakak: Abd. Wahab, Hj. Romlatun Hadroh dan Mujib. Adik: Hj. Limifrokhah, Hamid Ludfi, H. Zakaria, Lc., Asy’ari, Nailil Muna, Intihaiyah dan Khoirul Atho’). Waktu itu KH. Mahfudh Asymawi masih menimba ilmu di pesantren Mathla’ul Anwar Kajen Pati, di bawah bimbingan langsung KH. Abdullah Salam. Karena kewajiban melanjutkan tongkat estafet kepimpiinan pesantren, akhirnya Mbah Mahfudh kembali ke jepara, tetapi tidak meninggalkan pesantren dan terus mengaji secara laju (pulang-pergi Jepara-Kajen) sampai dengan tahun 1971.

Setelah ditunjuk sebagai pemimpin pesantren Mbah Mahfudh melakukan pembenahan dan peningkatan pendidikan. Sebagai agen ortodoksi Islam, pesantren tetap mempertahankan kultur salaf dengan melaksanakan pendidikan pada santri mukim melalui sistem pembelajaran pesantren dan menyelenggaran bimbingan mental-spiritual pada masyarakat dengan sarana Majlis Ta’lim rutin setiap Ahad sore (bapak-bapak) serta Jum’at sore (ibu-ibu). Hal ini sebagaimana telah dirintis dan diperjuangkan oleh Ayahanda sedari awal. Selain itu, Mbah Mahfudh faham bahwa peran pesantren tidak hanya berkutat pada pendidikan keagamaan semata, disamping teguh dalam melaksanakan tafaqquh fid din kepada santri dan masyarakat, pesantren juga berkewajiban menyelenggarakan pendidikan yang bermutu serta mencerdaskan kehidupan umat, sehingga beliau melakukan perubahan pada sistem pendidikan, ruang lingkup cakupan peserta pendidikan dan juga merubah nama pesantren menjadi Mathla’un Nasyi’in.

Sistem pendidikan klasikal yang telah diberlakukan oleh sang ayah, kemudian dikembangkan menjadi model Madrasah Diniyah lengkap dengan jenjang pendidikannya, meliputi Al Awwaliyah, Al Wustho sampai pada tingkatan Al Ulya. Untuk memperluas jangkauan pendidikan, Mbah Mahfudh melakukan pendekatan dengan masyarakat dan pemerintahan desa Pecangaan Kulon hingga disepakati melakukan pembangunan gedung 6 ruang guna pelaksanaan pembelajaran Madrasah Diniyah. Lokasi yang sebelumnya di desa Troso selanjutnya dipindah ke komplek masjid Walisongo di Pecangaan Kulon dengan nama Madrasah Diniyah Mathla’ul Falah. Inilah menjadi tonggak awal dari tumbuh-kembang serta kemajuan dunia pendidikan di Pecangaan.

Sebagai sosok yang ‘alimun biz zamanihi atau peka dan merespon baik terhadap perubahan jaman, KH. Mahfudh Asymawi meyakini bahwa pesantren harus mampu menjawab segala tantangan kemajuan jaman dan teknologi, dengan tetap berjalan pada kaidah al muhafadzhoh ‘alal qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah pesantren teguh memegang ke-salaf-annya dalam taat dan patuh pada norma agama-sosial sebagai rule of law, melestarikan budaya sebagai local wisdom, tidak terkecuali juga menguatkan pemahaman keagamaan para santri dan masyarakat sebagai basice personal spirituality. Akan tetapi pesantren harus bersedia menerima dan merespon terhadap kamajuan serta tuntutan kebutuhan jaman, tentu disertai dengan pemahaman syariat agama Islam sebagai filternya.

Berbekal semangat nasyrul ‘ilmi wal khoiri, KH. Mahfudh Asmawi melakukan upaya mensinergikan antara Ulama-Umaro-Umat untuk mencapai cita-cita suci pesantren dalam mendidik dan mencerdaskan kehidupan masyarakat. Tercacat pada kurun waktu tahun 1965 sampai dengan tahun 1997, puluhan lembaga pendidikan formal dan non-formal, organisasi kemasyarakatan, sampai dengan Perguruan Tinggi bersama-sama dengan kolega, tokoh agama, pemerintah dan masyarakat saling berkerja sama merintis dan mengembangkan dunia pendidikan di Jepara.

Diantaranya, merintis pendirian Muallimin-Muallimat di desa Troso yang kemudian pindah ke desa Pecangaan Kulon. Selanjutnya, pada tahun 1970 berubah menjadi PGAP (Pendidikan Guru Agama Pertama), PGANU (Pendidikan Guru Agama Nahdhatul Ulama), tahun 1972/ 1973 berganti menadi PGAA (Penddikan Guru Agama Atas), 1974 menjadi MMP (Madrasah Menengah Pertama), di tahun 1975 kemudian menjadi MTs. dan MA, sampai pada tahun 1980 an bersama dengan berbagai pihak mendirikan Yayasan Walisongo Pecangaan yang sekaligus dipercaya sebagai pemimpinnya. Yayasan tersebut berkembang dengan pendirian unit-unit pendidikannya, seperti SMP (1986), SMA (1987) dan Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) pada tahun 1993.

Tidak berhenti disitu saja, Mbah Mahfudh dengan kemampuan membangun komunikasi dan jejaringnya serta dukungan Pemerintah dan Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama kabupaten Jepara, berhasil mendirikan Institut Islam Nahdhatul Ulama (INISNU) pada tahun 1989, Yayasan Pendidikan Tinggi Nahdhatul Ulama (YAPTINU) di tahun 1996, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIENU) tahun 1997 juga mendapat hibah pengelolaan Akademi Teknologi Industri Kayu (ATIKA) dari komunitas Nashrani, kemudian ketiga lembaga pendidikan tinggi tersebut bergabung menjadi Universitas Islam Nahdhatul Ulama (UNISNU) Jepara. Sekali lagi Mbah Mahfudh membuktikan bahwa pesantren bukanlah lembaga yang jumud dan tertutup dari perkembangan jaman, tetapi pesantren mampu menjadi ruh dan nyawa pendidikan masyarakat.

Tanggal 7 Ramadhan 1422 H bertepatan dengan tanggal 23 November 2001 M, KH. Mahfudh Asymawi di panggil oleh Allah SWT, meninggalkan duka tidak hanya pada anak dan cucu beliau bahkan dunia pendidikan di Jepara larut dalam duka sebab kehilangan sosok pejuang pendidikan. Tulisan ini tentu bukan untuk menjabarkan sederet  jejak perjuangan beliau yang tidak lagi terhitung jumlahnya, baik sebagai pribadi, pejuang pendidikan atau tokoh masyarakat. Bagi keluarga yang ditinggalkan (Istri: Hj. Afiyah binti H. Hilal. Anak: Uswatun Hasanah, Zumrotus Sa’adah, Muwassaun Niam, Adib Khoruzzaman, Muslihatul Millah, Aminuddin Faiz, Ah. Zainal Muttaqin, Muhsinatul Ummah, dan Nuzulur Rohmah) akan sangat kehilangan sosok orang tua, panutan dan pemimpin keluarga. Bagi santri-santrinya, merasakan kehilangan pembimbing jasad dan ruh. Bagi masyarakat, tentu kehilangan motor penggerak umat.

Sudah 18 (delapan belas) tahun silam Mbah Mahfudh berpulang ke rahmatullah, Pondok Pesantren Mathla’un Nasyi’in terus berupaya eksis dan bertahan di tengah kepungan kemajuan teknologi dan industrialisasi Jepara. Manasyi’ tetap dengan kesederhanaan dan kesunyian dari gegap gempita kemegahan, namun di dalamnya senantiasa terjaga dan berkobar ruh perjuangan Mbah Mahfudh. Estafet kepimpinan pesantren dilanjutkan oleh KH. Muwassaun Niam, sampai pada tahun 2015 ketika beliau juga dipanggil oleh Allah SWT untuk selamanya. Saat ini, Matla’un Nasyi’in dipimpin oleh putera keempatnya (KH. Adib Khoruzzaman, S.Ag) sebagai muassis ma’had bersama dengan putera ketujuhnya (Ah. Zainal Muttaqin Al Hafidzh) menjadi khodimul ma’had melanjutkan gerak maju dakwah pesantren dalam mengawal umat. Tentu dengan tetap menjaga tradisi pendidikan salaf pesantren, berupa progam Tahfidzhul Qur’an dan juga menyelenggarakan pembelajaran klasilal Madrasah Diniyah dengan jenjang dan tingkatan kitab (Tsimarul Janiyah, Al Ajurumiyah, Al ‘Umrithy) yang diikuti oleh santri mukim putera dan puteri.

Mbah Mahfudh telah meninggalkan warisan dalam dunia pendidikan yang tidak terhitung, namun diantara semuanya semangat nasyrul ‘ilmi wal khoiri adalah peninggalan yang senantiasa menjadi pengobar semangat dalam melanjutkan perjuangaannya. Ila ruhi syaikhina wa murobbi ruhina, al fatihah…

Jepara, 6 Ramadhan 1440 H/ 11 Mei 2019 M

Check Also

Gotong Royong Mewujudkan Pilgub Jateng 2018 yang Berintegritas

Share this on WhatsApp Gotong Royong Mewujudkan Pilgub Jateng 2018 yang Berintegritas Oleh : Kunjariyanto* …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *