Home / Interaktif Ramadan / Bolehkah Ibu Menyusui Menunda Puasa Ramadan ?

Bolehkah Ibu Menyusui Menunda Puasa Ramadan ?

Tanya:
Seorang ibu yang memiliki anak berumur empat bulan yang masih membutuhkan air susu ibu atau ASI. Bolehkah ia menunda puasa Ramadan karena harus memberikan ASI pada anaknya ?
 
Yanti, Desa Kecapi Kecamatan Tahunan, Jepara
 
Jawab:
Menyusui anak adalah sebuah aktivitas yang mulia. Disamping menjalankan perintah Allah Swt menyusui menunjukkan ikatan kasih sayang seorang ibu terhadap anak. Dalam Surat al-Baqarah Ayat 233 Allah Swt berfirman :
 
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَة
“ Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan …. “
 
Namun saat menyusui anak “ngepasi” Bulan Ramadan sehingga apabila sang ibu menyusui sambil berpuasa menjadikannya berat, berada dalam kondisi yang payah, maka syariat memberikannya rukhshah (kemurahan) untuk tidak berpuasa dan menundanya untuk dilakukan pada bulan lain. Begitu pula dengan wanita hamil, apabila “ngepasi” Ramadan dan puasa menjadikannya berat maka ia juga diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan menunda melakukannya pada bulan yang lain.
 
Adapun rincian hukum bagi wanita hamil dan menyusui yang mengambil rukhshah tidak berpuasa Ramadan  adalah sebagai berikut :
 
a.       Apabila tidak puasanya karena khawatir akan kesehatan janin atau anak, seperti halnya khawatir kandungannya gugur atau khawatir anaknya sakit parah sebab ASI nya sedikit, maka bagi keduanya berkewajiban dua hal :
1.      Wajib qadla’ (membayar puasa)
2.      Wajib membayar fidyah (tebusan) berupa makanan pokok (beras) sebanyak satu mud (0,6 kg) per hari.
b.      Apabila tidak puasanya karena khawatir akan kesehatan dirinya sendiri, seperti halnya jika berpuasa menjadikan keduanya sakit parah maka keduanya hanya berkewajiban qadla’ puasa saja.
 
Ukuran khawatir dan tidaknya adalah berdasarkan kebiasaan wanita hamil dan ibu menyusui tersebut atau atas petunjuk dokter tsiqat (bisa dipercaya). Sehingga tidak cukup hanya sekedar perasaan atau halusinasi saja. Misalnya ketika mengandung atau menyusui anak pertama ia menemui kondisi sebagaimana di atas, maka itulah yang bisa dibuat patokan saat mengandung atau menyusui anak kedua ini, jika mengandung atau menyusui itu adalah yang pertama kali baginya maka petunjuk dokter tsiqat yang dijadikan patokan.
 
Wallahu A’lam
 
Referensi
1.      Tafsir al-Qurtuby 1/37
2.      I’anah al-Thalibin 2/273
ويجب المد – مع القضاء – على: حامل، ومرضع، أفطرتا للخوف على الولد، ( وقوله للخوف على الولد ) أي فقط دون أنفسهما
 والمراد بالولد هنا ما يشمل الحمل وتسميته ولدا من باب التغليب أو مجاز الأول
 والمراد بالخوف على الولد الخوف على إسقاطه بالنسبة للحامل وعلى قلة اللبن بالنسبة للمرضع فيتضرر الولد بمبيح تيمم لو كان كبيرا أو يهلك
 واحترز بقوله للخوف على الولد عما إذا أفطرتا خوفا على أنفسهما أن يحصل لهما من الصوم مبيح تيمم فإنه يجب عليهما القضاء بلا فدية كالمريض المرجو البرء
وإن انضم لذلك الخوف على الولد لأنه واقع تبعا

 

Rubrik interaktif Ramadan ini diasuh tim dari Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Jepara. Jika mempunyai pertanyaan seputar fikih, silakan kirim pertanyaan melalui email : suaranujepara@gmail.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *