Home / Berita / Beruntung Generasi Milenial yang Berjibaku di Pesantren, Kenapa?

Beruntung Generasi Milenial yang Berjibaku di Pesantren, Kenapa?

Puluhan peserta mengikuti tadris literasi yang digelar LTN NU Jepara, Ahad (19/5). (Foto: Habib)

nujepara.or.id – Lembaga Ta’lif Wan Nashr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Kabupaten Jepara kembali menggelar Tadris Literasi bertempat di Taman Alun-alun Jepara, Ahad (19/5) sore. Kegiatan yang dilaksanakan jelang berbuka puasa itu diikuti oleh 22 peserta.

Hadir sebagai narasumber Ahmad Saefudin, dosen Unisnu Jepara dengan tema “Otoritas Kiai dan NU yang Terus Digugat Mereka”. Dalam paparannya ia memaparkan pada kurun abad ke-15 dan ke-16, santri Nusantara banyak yang pergi ke tanah haramain dan membangun komunitas yang oleh orang Arab disebut “Ashab al Jawiyin” (saudara kita orang Jawa).

“Bahkan, sampai abad ke-17 dan ke-18, banyak kiai Nusantara yang menjadi transmiter utama gerakan neo-sufisme yang memadukan konsep syariat dengan tasawuf secara harmonis. Sekembalinya mereka ke tanah air dari proses nyantri yang relatif lama di Mekkah atau Kairo, kiai Nusantara membangun otoritas baru dengan mendirikan pesantren di tengah komunitas Muslim sembari tetap menjaga hubungan intensif dengan ulama Timur Tengah,” paparnya.

Di dunia pesantren, rantai transmisi spiritual dan intelektual semacam ini ditularkan oleh kiai kepada santri sebagai upaya ketersambungan sanad dalam rangka menjaga otentisitas ilmu pengetahuan. Akhirnya, pesantren menjadi salah satu tradisi agung (great tradition) yang berfungsi mentransmisikan teks-teks keislaman klasik (al-kutub al-mu’tabarah) di bidang ilmu gramatika Arab, yurisprudensi, dan mistisisme Islam.

Dikutip (Wahid 2007) oleh Gus Dur eksistensi pesantren sebagai institusi yang mentakar di masyarakat kemudian membentuk sub-kultur yang khas, menyimpang dari pola kehidupan umum di negeri ini, dan berbeda dengan budaya mainstream.

Namun, dalam perkembangan sejarah memasuki era pasca kebenaran otoritas ulama tersebut di mata generasi milenial mulai digugat.

Makanya akademisi muda NU itu menjelaskan dengan meminjam teori otoritas yang dipopulerkan Max Weber berupa charismatic authority, traditional authority, dan rational-legal authority.

“Otoritas ulama kharismatik adalah kepercayaan masyarakat terhadap posisi ulama yang memiliki keistimewaan tertentu yang bersifat supernatural atau intrinsik. Otoritas jenis ini akan pudar, bahkan hilang jika ulama tersebut melakukan tindakan-tindakan yang destruktif. Oleh Weber, otoritas kharismatik inilah yang mampu membuat bargaining position ulama menjadi kuat di dalam kultur masyarakat sebagai agen perubahan sosial,” lanjutnya.

Lain halnya dengan dua tipe otoritas berikutnya yang berkelindan erat dengan struktur kekuasaan yang telah melembaga. Pada waktu belakangan, otoritas kharismatik kiai pudar oleh kemonceran ulama-ulama pendatang baru yang lebih energik, muda, dan gaul. Kelompok kedua ini membangun otoritas keulamaan melalui keterampilan public speaking yang dipadu dengan kecakapan manajemen diri, kematangan leadership, dan sebagian lagi ditambah dengan enterpreunership skill dikutip dari oleh narasumber (Ibnu Burdah, dkk. [ed.] 2019).

Polesan media sosial yang hegemonik semakin menambah aura personal branding mereka. Sementara itu, dalam usaha memahami kitab-kitab kanonik, mereka menempuh cara-cara yang dianggap paling mudah, praktis dan cepat. Cukup bermodal gawai dan kuota internet, seolah segala masalah selesai.

Ahmad Saifudin juga melihat realitas dengan kaca analisanya bahwa benarkah ulama baru ini lebih otoritatif menjelaskan term-term keislaman?

“Belum tentu. Nyatanya, eksistensi mereka di ruang publik kerap menuai masalah. Netizen sering dikagetkan oleh ulah mereka yang kontroversial. Ada yang keseleo lidah, salah tafsir, ngacak-acak urutan ayat, memperkosa tajwid, terlibat laku kriminal (persekusi, penganiayaan, penggelapan) dan yang paling konyol lagi ialah tidak segan-segan mengintimidasi jamaah pengajian yang berbeda pandangan dalam preferensi politk. Khusus yang terakhir ini, kadang kita sulit mengidentifikasi, sebenarnya dia itu ulama beneran atau kacung politisi? Atau jangan-jangan makelar?”

Maka sangat beruntung sekali jika ada kaum milenial yang hari ini sedang berjibaku di pesantren, sibuk muroja’ah, kenyang lalaran nadzam alfiyah, setoran berdarah-darah, pusing meng-i’lal kalimah, dan bosan nashrif karena jengah.

“Percayalah! Rutinitas sekarang yang mungkin bagi kalian menjenuhkan itu, suatu saat pada masanya akan jadi romantika sejarah yang ngangeni. Seluruh kepayahan kalian akan terbayar lunas. Jadi apa pun di masyarakat pasti bermanfaat. Kelak apabila kalian dipercaya oleh umat memimpin jamaah, pasti akan selamat dari status ulama karbitan sesaat.” (Khabib Aminuddin)

Check Also

Sosmed, Media Paling Mudah untuk Berdakwah

Share this on WhatsApp Direktur NU Online, Savic memaparkan materi dalam Seminar Nasional yang diadakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *